Saat menjalani pelatihan di New York pada akhir 1960-an, dokter mata Patricia Bath berpindah antara klinik di Harlem Hospital dan Columbia University. Ia melihat perbedaan mencolok bahwa banyak pasien di Harlem mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan, sedangkan kondisi serupa lebih jarang terlihat di klinik Columbia.
Pengamatan itu mendorongnya meneliti ketimpangan perawatan mata. Studi retrospektifnya mencatat tingkat kebutaan pada orang kulit hitam di Amerika Serikat dua kali lebih tinggi daripada orang kulit putih. Bath mengaitkan kesenjangan itu dengan terbatasnya akses ke layanan mata.
Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih menjadi keruh dan mengganggu penglihatan. Operasi katarak mengangkat lensa yang keruh, lalu biasanya menggantinya dengan lensa buatan. Bagi banyak orang, tindakan itu dapat mengembalikan penglihatan. Akan tetapi, layanan operasi harus tersedia dan terjangkau agar manfaatnya sampai kepada pasien.
Bath melihat langsung bagaimana ketimpangan akses tersebut. Pada tahun 1968, klinik mata Harlem Hospital belum menyediakan operasi mata. Ia membujuk para profesor di Columbia untuk mengoperasi pasien buta tanpa biaya dan ikut membantu sebagai asisten. Operasi mata besar pertama di rumah sakit tersebut dilakukan pada tahun 1970. Beberapa tahun kemudian, ia ikut mendirikan American Institute for the Prevention of Blindness, organisasi yang mendukung pencegahan kebutaan dan perluasan layanan mata.
Bath juga mengembangkan gagasan community ophthalmology atau oftalmologi komunitas. Dalam makalahnya yang terbit pada tahun 1979, ia mengusulkan pendekatan yang memadukan kesehatan masyarakat, layanan komunitas, dan oftalmologi klinis untuk mencegah kebutaan serta memperluas perawatan bagi kelompok yang kurang terlayani.
