Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengawet Makanan Diduga terkait Hipertensi dan Penyakit Jantung
ilustrasi makanan kemasan (unsplash.com/Franki Chamaki)
  • Studi NutriNet-Santé di Prancis melibatkan lebih dari 112 ribu orang untuk meneliti hubungan konsumsi pengawet makanan dengan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
  • Hasil penelitian menunjukkan kelompok dengan konsumsi pengawet tertinggi memiliki risiko hipertensi hingga 29 persen lebih tinggi serta peningkatan risiko penyakit jantung sekitar 16 persen.
  • Peneliti menegaskan temuan ini bersifat observasional, namun mendorong masyarakat mengurangi makanan ultraproses dan memperbanyak konsumsi bahan segar demi menjaga kesehatan jantung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makanan kemasan modern bergantung pada bahan tambahan pangan. Tanpa pengawet, banyak produk tidak bertahan lama di rak toko, lebih cepat rusak, atau rentan ditumbuhi bakteri dan jamur. Mulai dari roti kemasan, sosis, daging olahan, makanan instan, saus, hingga camilan ultraproses umumnya mengandung berbagai jenis aditif untuk menjaga rasa, warna, tekstur, dan daya tahan produk.

Selama bertahun-tahun, bahan pengawet dianggap bagian normal dari sistem pangan modern. Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal European Heart Journal mulai menyoroti kemungkinan dampak lain yang lebih serius, yaitu kaitannya dengan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.

Penelitian ini dipimpin oleh Mathilde Touvier dari INSERM bersama Anaïs Hasenböhler dari tim Nutritional Epidemiology Research Team di Université Sorbonne Paris Nord dan Université Paris Cité, Prancis.

Menurut para peneliti, studi eksperimental sebelumnya memang sudah memberi sinyal bahwa beberapa bahan pengawet dapat memicu stres oksidatif atau memengaruhi metabolisme tubuh. Namun, bukti pada manusia dalam skala besar masih sangat terbatas. Karena itu, penelitian ini mencoba melihat hubungan antara konsumsi berbagai jenis pengawet dengan kesehatan kardiovaskular secara lebih rinci.

Studi terhadap lebih dari 112 ribu orang

Penelitian dilakukan melalui proyek jangka panjang NutriNet-Santé di Prancis yang melibatkan 112.395 orang dewasa. Selama penelitian berlangsung, partisipan studi secara rutin melaporkan seluruh makanan dan minuman yang mereka konsumsi dalam periode tertentu, lengkap hingga ke detail kandungan aditifnya.

Para peneliti kemudian melacak kondisi kesehatan para peserta selama rata-rata 7–8 tahun untuk melihat siapa yang mengalami hipertensi atau penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan angina.

Hasilnya, sebanyak 99,5 persen peserta diketahui mengonsumsi setidaknya satu jenis bahan pengawet dalam dua tahun pertama penelitian. Ini menunjukkan aditif makanan memang sudah menjadi bagian sangat umum dari pola makan modern.

Kelompok dengan konsumsi pengawet non antioksidan tertinggi ditemukan memiliki risiko hipertensi 29 persen lebih tinggi dibanding kelompok dengan konsumsi terendah. Risiko penyakit kardiovaskular mereka juga meningkat sekitar 16 persen.

Sementara itu, kelompok dengan asupan pengawet antioksidan tertinggi memiliki risiko hipertensi sekitar 22 persen lebih tinggi.

Para peneliti juga mengidentifikasi beberapa bahan tambahan yang paling sering dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, di antaranya:

  • Potassium sorbate (E202).

  • Potassium metabisulphite (E224).

  • Sodium nitrite (E250).

  • Ascorbic acid (E300).

  • Sodium ascorbate (E301).

  • Sodium erythorbate (E316).

  • Citric acid (E330).

  • Rosemary extract (E392).

Ascorbic acid atau vitamin C tambahan pangan (E300) bahkan secara khusus dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dalam analisis penelitian ini.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa hubungan ini bersifat observasional. Artinya, studi tidak membuktikan bahwa pengawet langsung menyebabkan hipertensi atau penyakit jantung, tetapi menunjukkan adanya keterkaitan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Kenapa temuan ini penting?

ilustrasi seseorang membaca label kemasan produk makanan (unsplash.com/Melanie Lim)

Salah satu alasan penelitian ini mendapat perhatian besar adalah karena bahan tambahan pangan tersebut digunakan sangat luas dalam makanan sehari-hari. Banyak orang mungkin tidak sadar bahwa konsumsi aditif sebenarnya terjadi hampir setiap hari melalui:

  • Daging olahan.

  • Makanan instan.

  • Minuman kemasan.

  • Saus.

  • Roti industri.

  • Camilan ultraproses.

Para peneliti menduga beberapa pengawet mungkin memengaruhi tubuh melalui mekanisme seperti:

  • Stres oksidatif.

  • Inflamasi.

  • Gangguan metabolisme.

  • Perubahan mikrobiota usus.

  • Efek terhadap regulasi tekanan darah.

Saat ini tim peneliti masih mendalami bagaimana makanan ultraproses dan aditif dapat memengaruhi penanda biologis di dalam tubuh, termasuk inflamasi dan komposisi bakteri usus.

Temuan ini juga tidak berarti kamu harus langsung panik terhadap semua makanan kemasan. Yang terpenting adalah melihat pola konsumsi secara keseluruhan. Dalam banyak pedoman kesehatan, pola makan berbasis makanan yang diproses secara minimal memang secara konsisten dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik.

Jadi, fokus utamanya bukan menghindari satu zat tertentu, melainkan mengurangi ketergantungan pada makanan ultraproses dan memperbanyak makanan segar yang komposisinya lebih sederhana.

Membaca label makanan, membatasi konsumsi ultraproses, dan menjaga pola makan yang lebih alami menjadi langkah paling realistis untuk melindungi kesehatan jantung.

Referensi

Anaïs Hasenböhler et al., “Preservative Food Additives, Hypertension, and Cardiovascular Diseases: The NutriNet-Santé Study,” European Heart Journal, April 10, 2026, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehag308.

"Study Warns Widely Used Food Preservatives Linked to High Blood Pressure and Heart Diseas." SciTechDaily. Diakses Mei 2026.

Editorial Team

Related Article