- Tubuh kaku dan kejang-kejang.
- Tatapan kosong.
- Kedutan di satu bagian tubuh.
- Kehilangan kesadaran.
Perbedaan Epilepsi dan Kejang Biasa, Jangan Sampai Salah Paham!

- Kejang adalah gangguan listrik mendadak dan tidak terkendali di otak, bisa berupa kejang fokal atau umum, dan tidak selalu menandakan epilepsi.
- Epilepsi adalah gangguan saraf kronis dengan kejang berulang tanpa pemicu jelas, memerlukan penanganan jangka panjang dan diagnosis yang lebih kompleks.
- Perbedaan antara kejang dan epilepsi terletak pada sifat kondisi, penyebab, frekuensi, diagnosis, dan pengobatan yang diperlukan.
Banyak orang masih menganggap epilepsi dan kejang adalah hal yang sama. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda secara medis. Kesalahpahaman ini sering membuat orang langsung panik atau salah menilai saat melihat seseorang mengalami kejang.
Padahal, kejang bisa dialami siapa saja dalam kondisi tertentu, sementara epilepsi adalah gangguan saraf kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu jelas. Supaya tidak salah kaprah dan bisa lebih bijak menyikapinya, yuk pahami perbedaan epilepsi dan kejang biasa secara lebih dalam.
Table of Content
1. Apa itu kejang?
Kejang adalah gangguan listrik mendadak dan tidak terkendali di otak. Otak bekerja menggunakan sinyal listrik, dan ketika terjadi lonjakan aktivitas listrik abnormal, fungsi otak bisa terganggu untuk sementara waktu. Durasi kejang biasanya singkat, mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit.
Gejalanya bisa bermacam-macam, seperti:
Secara umum, kejang dibagi menjadi dua jenis:
- Kejang fokal: Berawal dari satu area otak. Bisa menyebabkan kedutan pada satu tangan atau kaki, atau perubahan emosi mendadak.
- Kejang umum (generalized): Melibatkan kedua sisi otak. Salah satu contohnya adalah kejang tonik-klonik yang ditandai tubuh kaku lalu diikuti gerakan kejang berulang.
Satu kali kejang tidak otomatis berarti seseorang menderita epilepsi. Kejang kerap dipicu oleh kondisi tertentu yang bisa diidentifikasi.
2. Apa itu epilepsi?
Epilepsi adalah gangguan saraf kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu yang jelas. Secara medis, seseorang didiagnosis epilepsi jika mengalami dua atau lebih kejang tanpa provokasi, dengan jarak minimal 24 jam. Berbeda dengan kejang tunggal, epilepsi bukan sekadar gejala, melainkan sebuah kondisi penyakit.
Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja dan diperkirakan sekitar 1 dari 26 orang akan mengalaminya sepanjang hidup. Kondisi ini terjadi karena sel-sel saraf di otak berulang kali mengirimkan sinyal listrik abnormal tanpa penyebab yang jelas.
Jenis epilepsi pun beragam, antara lain:
- Epilepsi fokal.
- Epilepsi umum.
- Epilepsi refleks (dipicu cahaya berkedip atau emosi tertentu).
Karena bersifat kronis, epilepsi bisa berlangsung seumur hidup dan membutuhkan penanganan jangka panjang.
3. Perbedaan epilepsi dan kejang biasa

Agar lebih mudah dipahami, berikut ringkasan perbedaannya:
1. Sifat kondisi
- Kejang: Peristiwa tunggal atau gejala.
- Epilepsi: Gangguan kronis dengan kejang berulang.
2. Penyebab
- Kejang: Biasanya ada pemicu jelas, seperti demam tinggi, cedera kepala, gula darah rendah, infeksi, stroke, atau efek putus obat.
- Epilepsi: Tidak ada pemicu yang jelas. Bisa terkait faktor genetik, kelainan struktur otak, tumor, atau penyebab yang tidak diketahui.
3. Frekuensi
- Kejang: Bisa hanya sekali seumur hidup.
- Epilepsi: Minimal dua kali kejang tanpa pemicu dalam jarak lebih dari 24 jam.
4. Diagnosis
- Kejang: Fokus mencari penyebab melalui tes darah atau pencitraan.
- Epilepsi: Membutuhkan pemeriksaan EEG untuk melihat aktivitas listrik otak, MRI untuk melihat struktur otak, dan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kondisi lain.
5. Pengobatan
- Kejang: Ditangani sesuai penyebabnya.
- Epilepsi: Memerlukan obat antikejang jangka panjang. Sekitar 70 persen pasien dapat terkontrol dengan obat. Pada kasus tertentu, bisa dipertimbangkan diet ketogenik, stimulasi saraf vagus, atau operasi.
4. Penyebab dan faktor pemicu
Kejang bisa terjadi karena kondisi akut, seperti:
- Cedera kepala.
- Infeksi otak (misalnya meningitis).
- Ketidakseimbangan elektrolit.
- Gula darah rendah.
- Demam tinggi pada anak (kejang demam).
Sementara itu, epilepsi lebih kompleks. Beberapa penyebabnya, meliputi:
- Faktor genetik.
- Kelainan perkembangan otak.
- Tumor otak.
- Penyebab idiopatik (tidak diketahui).
Kendati epilepsi tidak memiliki pemicu utama yang jelas, beberapa hal dapat meningkatkan risiko munculnya kejang pada penderita epilepsi, seperti kurang tidur, stres berat, cahaya berkedip, atau konsumsi alkohol.
5. Bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari
Satu kali kejang memang berisiko menyebabkan cedera saat kejadian berlangsung, tetapi biasanya tidak berdampak panjang pada kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, epilepsi membutuhkan perhatian lebih. Penderitanya mungkin harus:
- Tidak mengemudi sampai dinyatakan bebas kejang dalam periode tertentu.
- Menghindari berenang sendirian.
- Mengatur gaya hidup agar terhindar dari pemicu.
- Selain risiko fisik, epilepsi juga bisa menimbulkan dampak psikologis seperti kecemasan karena kekambuhan yang tidak terduga.
Mengetahui perbedaan epilepsi dan kejang biasa sangat penting karena penanganannya berbeda. Kejang tunggal cukup ditangani dengan mengatasi penyebabnya. Sementara itu, epilepsi butuh terapi jangka panjang untuk mencegah kekambuhan. Makin cepat dikenali dan ditangani dengan tepat, makin baik pula kualitas hidup penderitanya.
Referensi
Baptist Health. Diakses pada Februari 2026. "Epilepsy vs Seizure: What are The Differences?"
Baton Rouge Clinic. Diakses pada Februari 2026. "What Is the Difference Between Epilepsy and Seizures?"
UPMC HealthBeat. Diakses pada Februari 2026. "Evaluation and Management of Seizures and Epilepsy: Q&A With Dr. Fong-Isariyawongse."
Citizen Specialty Hospital. Diakses pada Februari 2026. "Difference Between Convulsions, Seizures and Epilepsy."
Medical News Today. Diakses pada Februari 2026. "What to Know about Seizures vs. Epilepsy."


















