Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pernah Terinfeksi Hepatitis B, Apakah Masih Boleh Donor Darah?
ilustrasi orang melakukan donor darah (pexels.com/Manuel Camacho-Navarro)
  • Orang yang menderita atau pernah mengidap hepatitis B tidak boleh mendonorkan darah.

  • HBsAg yang sudah negatif setelah sembuh tidak selalu berarti seluruh jejak HBV telah hilang dari tubuh.

  • Pada sebagian kecil orang dapat terjadi occult hepatitis B, yaitu HBV DNA masih terdeteksi meski HBsAg negatif. Karena transfusi langsung memasukkan darah ke penerima, standar keamanannya sangat ketat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu pernah didiagnosis hepatitis B bertahun-tahun lalu. Sekarang kamu sudah sehat, fungsi hati normal, bahkanhasil pemeriksaan HBsAg sudah negatif. Nah, ada ajakan mendonorkan darah. Pertanyaannya, apakah boleh?

Untuk donor darah melalui Palang Merah Indonesia (PMI), jawabannya tidak.

Dalam ketentuan donor yang saat ini tercantum di PMI, orang yang mengidap atau pernah sakit hepatitis B maupun hepatitis C tidak boleh menyumbangkan darah. Ini berbeda dengan orang yang hanya pernah kontak erat dengan pengidap hepatitis yang perlu menunda donor selama satu tahun.

Kenapa tidak boleh donor darah meski sudah sembuh?

Hepatitis B sedikit berbeda dari infeksi yang benar-benar menghilang tanpa meninggalkan jejak biologis.

Setelah kamu sembuh dari hepatitis B akut, HBsAg—penanda yang menunjukkan keberadaan antigen permukaan virus—biasanya akan menghilang. Namun, antibodi terhadap bagian inti virus atau anti-HBc biasanya bertahan seumur hidup, menandakan bahwa orang tersebut pernah terinfeksi virus hepatitis B (HBV). Orang yang mendapatkan vaksin hepatitis B tidak memiliki anti-HBc.

Pada sebagian kecil orang yang tampaknya sudah sembuh juga dapat terjadi occult hepatitis B infection (OBI). Pada kondisi ini, HBsAg sudah negatif, tetapi materi genetik virus atau HBV DNA masih dapat ditemukan dalam jumlah sangat rendah.

Hal ini penting dalam donor darah karena darah tersebut nantinya diberikan langsung kepada orang lain, termasuk pasien yang sistem imunnya mungkin sedang lemah.

HBsAg negatif belum selalu cukup untuk keamanan transfusi

Mengenai OBI, sebuah tinjauan dalam jurnal Transfusion pada 2024 mempelajari sistem skrining donor dari 25 negara. Pada donor yang positif anti-HBc tetapi negatif HBsAg, sekitar 0,68 persen masih memiliki HBV DNA yang dapat terdeteksi. Inilah salah satu alasan bank darah tidak hanya mengandalkan perasaan sehat atau riwayat HBsAg negatif.

Di Indonesia, darah donor wajib menjalani uji saring infeksi menular lewat transfusi darah, termasuk hepatitis B, hepatitis C, HIV, dan sifilis.

Pemeriksaan hepatitis B setidaknya mencakup HBsAg. Sejumlah fasilitas juga menggunakan Nucleic Acid Test (NAT) untuk mendeteksi materi genetik virus dan memperpendek window period, yaitu masa ketika infeksi sudah terjadi tetapi belum mudah terdeteksi dengan pemeriksaan serologi.

Namun, pemeriksaan darah donor bukan pengganti proses seleksi pendonor. Riwayat kesehatan tetap menjadi lini pertama untuk mengurangi risiko transfusi.

Bagaimana kalau cuma pernah vaksin hepatitis B?

ilustrasi vaksin hepatitis B (unsplash.com/CDC)

Mendapatkan vaksin hepatitis B tidak berarti seseorang pernah terkena hepatitis B. Orang yang memperoleh kekebalan dari vaksin biasanya memiliki anti-HBs tanpa anti-HBc.

PMI mencantumkan vaksinasi sebagai salah satu kondisi yang memerlukan penundaan donor sementara selama delapan minggu, bukan larangan permanen. Karena jenis vaksin dan kondisi seseorang dapat berbeda, waktu donor tetap perlu dikonfirmasi kepada petugas unit donor darah.

Jadi, pernah divaksinasi hepatitis B tidak sama dengan pernah terinfeksi hepatitis B.

Kesimpulannya, meskipun kamu pernah sakit hepatitis B lalu dinyatakan sembuh dan HBsAg sudah negatif, ketentuannya orang dengan riwayat hepatitis B tidak boleh mendonorkan darah. Kebijakan ini dibuat untuk melindungi penerima transfusi dari risiko HBV yang mungkin masih tersisa dalam kadar sangat rendah dan sulit terdeteksi.

Referensi

Palang Merah Indonesia, “FAQ Donor Darah Sukarela,” Ayo Donor PMI, diakses Agustus 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Testing and Diagnosis for Hepatitis B,” diakses Agustus 2026.

Michael X. Fu et al., “International Review of Blood Donation Screening for Anti-HBc and Occult Hepatitis B Virus Infection,” Transfusion 64, no. 11 (2024): 2144–56, https://doi.org/10.1111/trf.18018.

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Peran Pemeriksaan Nucleic Acid Test (NAT) untuk Meningkatkan Keamanan Produk Darah," diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article