- Sejiwa 119 (tekan 8) – layanan dukungan kesehatan mental dari Kementerian Kesehatan.
- Sehat Jiwa 119 (telepon darurat kesehatan mental).
- Healing119.id – layanan konseling dan informasi kesehatan mental: https://healing119.id
- Hotline Kementerian Kesehatan RI: 1500-454
5 Dampak Keguguran bagi Kondisi Psikis Perempuan

- Keguguran dapat memicu duka mendalam, kemarahan, rasa bersalah, kecemasan, depresi, hingga mati rasa; dampak emosionalnya sering bertahan lebih lama daripada pemulihan fisik.
- Dalam enam minggu setelah keguguran, metaanalisis mencatat 32,5 persen perempuan mengalami kecemasan, 30,1 persen gejala depresi, dan 33,6 persen stres; sebagian juga mengalami gejala trauma.
- Kehamilan berikutnya dapat memunculkan kembali kecemasan, terutama pada perempuan dengan riwayat masalah mental atau kehilangan sebelumnya; bantuan profesional diperlukan bila gejala mengganggu aktivitas atau muncul pikiran menyakiti diri.
Tubuh mungkin mulai pulih beberapa hari atau minggu setelah keguguran. Namun, pemulihan emosional tidak selalu berjalan beriringan.
Keguguran dapat memunculkan kesedihan, kehilangan, marah, rasa bersalah, kecemasan, atau mati rasa. Ada perempuan yang merasa lebih stabil dalam beberapa minggu, sementara pada yang lain dampaknya bisa bertahan selama berbulan-bulan. Pemulihan emosional setelah kehilangan kehamilan dapat berlangsung lebih lama daripada pemulihan fisiknya.
Sebuah metaanalisis tahun 2025 terhadap 29 studi dan 35.375 perempuan menemukan dalam 6 minggu setelah keguguran sekitar 32,5 persen mengalami kecemasan, 30,1 persen mengalami gejala depresi, dan 33,6 persen mengalami stres.
Table of Content
1. Rasa kehilangan dapat berkembang menjadi duka yang intens
Reaksi emosional setelah keguguran beragam. Kesedihan dan menangis merupakan respons yang umum, tetapi seseorang juga dapat mengalami kemarahan, kecemburuan ketika melihat kehamilan orang lain, kebingungan, mati rasa, atau bahkan rasa lega dalam situasi tertentu.
Duka juga tidak ditentukan hanya oleh usia kehamilan.
Sebuah studi prospektif terhadap perempuan yang mengalami kehilangan kehamilan dini menemukan bahwa usia gestasi bukan prediktor yang baik untuk menentukan siapa yang akan mengalami kecemasan, depresi, atau stres pascatrauma satu bulan kemudian. Kehilangan pada kehamilan yang masih sangat dini tetap dapat memberikan dampak psikologis yang besar.
Bagi sebagian perempuan, kehamilan sudah berkaitan dengan rencana, harapan, dan identitas sebagai calon orang tua sehingga kehilangan tetap dapat dirasakan secara mendalam.
2. Risiko kecemasan dan depresi dapat meningkat
Setelah keguguran, banyak perempuan mempertanyakan apakah tubuh mereka bermasalah, apakah keguguran akan terjadi lagi, atau apakah masih bisa memiliki anak.
Pada beberapa perempuan, kekhawatiran tersebut berkembang menjadi gejala kecemasan yang mengganggu tidur, konsentrasi, aktivitas sehari-hari, atau kemampuan merawat diri.
Kesedihan juga dapat berkembang menjadi gejala depresi, seperti kehilangan minat terhadap aktivitas, perasaan putus asa, sulit tidur, dan menarik diri dari lingkungan.
Sebuah metaanalisis memperkirakan sekitar 1 dari 3 perempuan mengalami gejala kecemasan atau depresi dalam 6 minggu pertama setelah keguguran.
Studi yang lebih luas mengenai kehilangan perinatal juga menunjukkan pola serupa. Metaanalisis terhadap lebih dari 31 ribu perempuan yang mengalami kehilangan perinatal menemukan risiko gangguan depresi sekitar dua kali lipat dan gangguan kecemasan sekitar 1,75 kali lipat dibanding kelompok tanpa kehilangan.
3. Sebagian perempuan mengalami gejala seperti trauma

Keguguran juga dapat menjadi pengalaman traumatis. Perdarahan mendadak, nyeri, harus menjalani prosedur medis, menerima kabar bahwa denyut jantung janin tidak lagi ditemukan, atau menghadapi keadaan darurat dapat meninggalkan ingatan yang sulit diproses.
Dalam studi prospektif multisenter yang mengikuti perempuan setelah keguguran atau kehamilan ektopik, sekitar 29 persen memenuhi kriteria skrining untuk stres pascatrauma satu bulan setelah kehilangan. Angkanya menurun seiring waktu, tetapi masih mencapai 18 persen pada sembilan bulan. Pada periode yang sama, kecemasan sedang hingga berat turun dari 24 menjadi 17 persen dan depresi dari 11 menjadi 6 persen.
Gejala stres pascatrauma dapat berupa ingatan kejadian yang muncul berulang, mimpi buruk, menghindari tempat atau hal yang mengingatkan pada kehilangan, mudah terkejut, atau terus merasa berada dalam keadaan waspada.
Penelitian tersebut menggunakan instrumen skrining sehingga angka ini tidak sama dengan diagnosis PTSD yang ditegakkan melalui evaluasi psikiatri. Namun, temuannya memperlihatkan bahwa bagi sebagian perempuan, efek psikologis keguguran dapat berlangsung jauh setelah tubuh pulih.
4. Kehamilan berikutnya dapat membawa kembali rasa cemas
Hamil lagi tidak selalu langsung menghapus pengalaman kaguguran atau kehilangan sebelumnya.
Penelitian terhadap lebih dari 20 ribu perempuan hamil menemukan bahwa mereka yang sebelumnya pernah mengalami keguguran memiliki risiko gejala kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada trimester pertama dibanding perempuan yang menjalani kehamilan pertama.
Situasi yang sebelumnya dianggap menyenangkan—menunggu hasil tes kehamilan, menjalani USG, atau mendekati usia kehamilan ketika keguguran sebelumnya terjadi—dapat menjadi sumber kecemasan.
Riwayat kehilangan kehamilan merupakan salah satu faktor risiko gangguan kecemasan selama atau setelah kehamilan. Karena itu, kesiapan mencoba hamil lagi tak cukup cuma mengandalkan pemulihan fisik, tetapi juga kondisi emosional dan dukungan yang tersedia.
5. Tidak semua perempuan terdampak dengan cara yang sama
Dalam penelitian terhadap 737 perempuan dengan kehilangan kehamilan dini, riwayat masalah kesehatan mental merupakan salah satu faktor risiko terkuat. Sekitar 75 persen peserta yang masih memiliki diagnosis psikiatri dan 55 persen yang pernah memiliki diagnosis sebelumnya memenuhi kriteria skrining untuk kecemasan, depresi, atau stres pascatrauma setelah kehilangan kehamilan, dibanding 30 persen perempuan tanpa riwayat tersebut. Riwayat kehilangan kehamilan sebelumnya juga berkaitan dengan risiko lebih tinggi.
Namun, para peneliti tidak menemukan model yang cukup akurat untuk memprediksi siapa yang akan mengalami masalah. Banyak faktor—termasuk usia kehamilan saat kehilangan, sudah atau belum memiliki anak, serta jenis kehilangan kehamilan—tidak mampu memprediksi kondisi psikologis dengan baik. Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa semua perempuan setelah kehilangan kehamilan perlu dianggap berpotensi membutuhkan dukungan.
Kapan sebaiknya mencari bantuan?

Bantuan profesional sebaiknya dipertimbangkan apabila kecemasan, kesedihan, atau gejala trauma terasa sulit ditangani—terutama jika berlangsung lebih dari sekitar dua minggu dan mengganggu tidur, konsentrasi, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau kemampuan merawat diri.
Juga, cari bantuan jika muncul rasa putus asa, mati rasa berkepanjangan, mimpi buruk atau flashback, maupun pikiran untuk menyakiti diri.
Pembicaraan dapat dimulai saat kontrol dengan dokter kandungan atau dokter umum. Jika diperlukan, pasien dapat dirujuk ke psikolog atau psikiater.
Dukungan keluarga, pasangan, maupun kelompok pendamping kehilangan kehamilan juga dapat membantu sebagian orang, meskipun studi menekankan bahwa bukti mengenai efektivitas spesifik intervensi peer support setelah keguguran masih perlu diteliti lebih lanjut.
Apabila muncul pikiran untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri, kondisi tersebut butuh pertolongan segera.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental—seperti perasaan sedih berkepanjangan, cemas berlebihan, kehilangan harapan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri—penting untuk tidak menyepelekannya.
Mencari bantuan adalah langkah berani. Kamu bisa mulai dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, serta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika kamu sedang berada dalam kondisi krisis atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan. Kamu tidak sendirian, dan bantuan tersedia.
Layanan bantuan di Indonesia:
Jika situasi terasa darurat atau mengancam keselamatan, segera hubungi layanan gawat darurat atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat.
Referensi
Asha Shetty et al., “Global Prevalence of Post-Miscarriage Anxiety, Depression, and Stress: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Global Health 15 (2025): 04245, https://doi.org/10.7189/jogh.15.04245. PubMed
Jessica Farren et al., “Prognostic Factors for Post-Traumatic Stress, Anxiety and Depression in Women after Early Pregnancy Loss: A Multi-Centre Prospective Cohort Study,” BMJ Open 12, no. 3 (2022): e054490, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2021-054490. BMJ Open
Mairead M. Herbert et al., “The Mental Health Impact of Perinatal Loss: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Affective Disorders 297 (2022): 118–29. ScienceDirect
Jessica Farren et al., “Posttraumatic Stress, Anxiety and Depression Following Miscarriage and Ectopic Pregnancy: A Multicenter, Prospective, Cohort Study,” American Journal of Obstetrics and Gynecology 222, no. 4 (2020): 367.e1–367.e22, https://doi.org/10.1016/j.ajog.2019.10.102. Artikel penelitian
Xiangjun Gong et al., “Pregnancy Loss and Anxiety and Depression during Subsequent Pregnancies: Data from the C-ABC Study,” European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology 166, no. 1 (2013): 30–36, https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2012.09.024. PubMed
Leanne Burton et al., “Effectiveness of Peer Support Interventions to Improve Mental Health Outcomes after Miscarriage: A Systematic Review and Call for High-Quality Evidence,” BMJ Open (2026), https://doi.org/10.1136/bmjopen-2025-109556. PubMed
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Finding Emotional Support after Pregnancy Loss,” diakses Agustus 2026.







![[QUIZ] Gaya Larimu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Hidup](https://image.idntimes.com/post/20241226/pexels-ketut-subiyanto-5037354-c6e430ffa2ab45408b74e54c6f8d59e3.jpg)

![[QUIZ] Dari Kepribadianmu, Ini Gerakan Gym yang Cocok Dicoba](https://image.idntimes.com/post/20250421/pexels-jonathanborba-3076516-0233b6721c13849a556a63e6e961653d-7ce8b61813567c9238c44e39711bdd8d.jpg)





![[QUIZ] Dari Cara Kamu Olahraga, Ini Tipe Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260103/1000316220_a9a91192-e18a-4d4c-8e9b-46e3a4657574.jpg)





