Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Satu Minuman Alkohol Sehari Bisa Menambah Risiko Berbagai Kanker

Satu Minuman Alkohol Sehari Bisa Menambah Risiko Berbagai Kanker
ilustrasi membuka tutup botol bir, minuman beralkohol (pexels.com/Kampus Production)
  • Penelitian terbaru memperkirakan kematian akibat kanker yang dapat dikaitkan dengan alkohol di Amerika Serikat meningkat dari 11.361 pada 1990 menjadi 23.126 pada 2023.

  • Beban terbesar ditemukan pada laki-laki dan orang berusia 55 tahun ke atas. Kanker payudara menjadi penyumbang utama pada perempuan, sedangkan kanker kolorektal menonjol pada kelompok usia muda.

  • Studi tersebut tidak menguji satu minuman per hari secara langsung. Bukti mengenai konsumsi ringan berasal dari penelitian lain yang menemukan peningkatan risiko kanker payudara dan mulut pada jumlah tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Segelas wine saat makan malam atau satu botol bir setelah bekerja masih sering masuk dalam kategori minum ringan. Namun, keduanya tetap membawa etanol, yakni zat yang akan diproses tubuh setiap kali alkohol diminum.

Risiko kanker tidak muncul setelah satu malam. Penelitian menilai bagaimana paparan yang berulang dan menumpuk selama bertahun-tahun dapat meningkatkan kemungkinan kanker, lalu berkontribusi terhadap kematian pada tingkat populasi.

  1. Kematian yang terkait alkohol meningkat dua kali lipat di Amerika Serikat

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Americas pada September 2026 menganalisis data Global Burden of Disease di Amerika Serikat (AS) selama 1990–2023. Peneliti menilai angka kematian terstandar usia untuk seluruh kanker dan sepuluh jenis kanker, kemudian membandingkannya berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, dan wilayah.

    Hasilnya, jumlah tahunan kematian akibat kanker yang diperkirakan berkaitan dengan alkohol meningkat dari 11.361 menjadi 23.126.

    Angka kematian terstandar usia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, yaitu 6,4 berbanding 2,1 per 100.000 penduduk.

    Kelompok usia 55 tahun ke atas juga memiliki angka jauh lebih tinggi daripada kelompok usia 20–54 tahun, yakni 19,2 berbanding 2,4 per 100.000.

    Pada laki-laki berusia 55 tahun ke atas, kanker hati menjadi penyumbang kematian terbesar, diikuti kanker esofagus dan kolorektal. Pada perempuan, kanker payudara menempati urutan pertama.

    Pada usia yang lebih muda, polanya berbeda. Kanker kolorektal menjadi penyebab utama kematian kanker terkait alkohol pada laki-laki usia 20–54 tahun. Pada perempuan dalam kelompok usia yang sama, kanker payudara berada di urutan pertama dan kanker kolorektal di urutan kedua.

    Angka tersebut merupakan hasil pemodelan populasi, bukan jumlah orang yang pasti meninggal karena alkohol. Peningkatan jumlah kematian absolut juga tidak berarti risiko setiap orang meningkat dua kali lipat. Model menggabungkan data konsumsi alkohol, hubungan dosis dan risiko kanker, jumlah kematian, serta perubahan populasi.

  2. Apakah satu minuman sehari termasuk berisiko?

    Penelitian tersebut tidak mengikuti sekelompok orang yang minum alkohol satu gelas sehari. Karena itu, studi ini tidak dapat sendirian digunakan untuk menyatakan bahwa satu minuman sehari langsung meningkatkan risiko kematian.

    Bukti mengenai konsumsi ringan berasal dari penelitian lain. Istilah “satu minuman” juga perlu dipahami dengan benar. Menurut National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, satu minuman standar di AS mengandung sekitar 14 gram alkohol murni—setara dengan sekitar 355 mililiter bir berkadar alkohol 5 persen, 148 mililiter wine 12 persen, atau 44 mililiter minuman beralkohol 40 persen.

    Satu gelas yang dituangkan di rumah atau restoran dapat mengandung lebih dari satu porsi standar.

    Analisis gabungan terhadap 20 studi kohort dengan lebih dari satu juta perempuan menemukan bahwa konsumsi hingga sekitar satu minuman sehari berkaitan dengan peningkatan relatif risiko kanker payudara sekitar 10 persen dibandingkan tidak minum.

    Studi lain yang menggabungkan 26 penelitian kasus-kontrol menemukan bahwa konsumsi 12 gram alkohol per hari selama lima tahun berkaitan dengan peningkatan relatif peluang kanker rongga mulut sekitar 40 persen dibandingkan tidak minum. Peneliti juga tidak menemukan ambang yang jelas tanpa peningkatan risiko pada konsumsi rendah.

    Angka tersebut adalah risiko relatif, bukan berarti tambahan 10 atau 40 orang dari setiap 100 peminum pasti terkena kanker.

    Sebagai gambaran risiko absolut, U.S. Surgeon General memperkirakan bahwa dari 100 perempuan, sekitar 17 orang yang minum kurang dari satu kali seminggu akan mengalami kanker terkait alkohol sepanjang hidupnya. Angkanya menjadi sekitar 19 orang pada konsumsi rata-rata satu minuman sehari. Pada laki-laki, perkiraannya meningkat dari sekitar 10 menjadi 11 orang per 100.

    Perhitungan tersebut menggunakan hasil kohort Australia yang kemudian diterapkan pada angka kanker AS. Karena itu, angkanya merupakan gambaran rata-rata populasi.

  3. Alkohol tidak hanya berkaitan dengan kanker hati

    Ilustrasi menu makan malam di atas meja yang dilengkapi hidangan serta minuman beralkohol dalam gelas.
    ilustrasi menu makan malam yang diwarnai minuman beralkohol (pexels.com/Anna Shvets)

    Bukti ilmiah telah menetapkan hubungan sebab-akibat antara alkohol dan setidaknya tujuh kanker, yaitu kanker payudara pada perempuan, kolorektal, esofagus, hati, rongga mulut, faring, dan laring.

    Penelitian terbaru juga memodelkan kematian dari kanker lain, termasuk pankreas dan prostat. Namun, kekuatan bukti tidak sama untuk semua kanker. National Cancer Institute menyatakan bahwa hubungan alkohol dengan kanker pankreas, prostat, lambung, dan melanoma masih perlu penelitian lebih lanjut.

    Di dalam tubuh, etanol diubah menjadi asetaldehida yang dapat merusak DNA. Alkohol juga dapat memicu stres oksidatif dan peradangan, mengubah kadar hormon seperti estrogen, serta memudahkan jaringan mulut dan tenggorokan menyerap zat karsinogen dari asap rokok.

    Jenis minumannya tidak menghilangkan risiko tersebut. Bir, wine, maupun minuman beralkohol sulingan sama-sama mengandung etanol.

  4. Mengurangi paparan tetap memberi manfaat

    Tidak berarti seseorang yang minum satu gelas alkohol pasti akan terkena atau meninggal akibat kanker. Risiko setiap orang juga dipengaruhi usia, genetik, kebiasaan merokok, kondisi kesehatan, dan jumlah alkohol yang dikonsumsi sepanjang hidup.

    Namun, “sedikit” dan “tanpa risiko” tidak sama. Untuk beberapa kanker, peningkatan risiko telah terlihat pada konsumsi sekitar satu minuman sehari atau kurang.

    Orang yang tidak minum alkohol, tidak perlu mulai mengonsumsi alkohol untuk alasan kesehatan. Bagi yang biasa minum, mengurangi frekuensi dan ukuran porsi akan mengurangi paparan etanol. Berhenti atau mengurangi konsumsi dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker rongga mulut dan esofagus, meskipun bukti untuk jenis kanker lain masih terus diteliti.

    Satu gelas minuman beralkohol memang tidak menentukan nasib seseorang. Yang berubah adalah risiko, dan setiap pengurangan membuat paparan sepanjang hidup menjadi lebih kecil.

    Referensi

    Chinmay T. Jani et al., “Alcohol-attributable Cancer Mortality in the United States, 1990–2023: A Secondary Analysis of Global Burden of Disease Data,” The Lancet Regional Health – Americas (September 2, 2026): 101599, https://doi.org/10.1016/j.lana.2026.101599.

    National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, “What Is a Standard Drink?,” diakses September 2026.

    Seungyoun Jung et al., “Alcohol Consumption and Breast Cancer Risk by Estrogen Receptor Status: In a Pooled Analysis of 20 Studies,” International Journal of Epidemiology 45, no. 3 (2016): 916–28, https://doi.org/10.1093/ije/dyv156.

    Gioia Di Credico et al., “Alcohol Drinking and Head and Neck Cancer Risk: The Joint Effect of Intensity and Duration,” British Journal of Cancer 123, no. 9 (2020): 1456–63, https://doi.org/10.1038/s41416-020-01031-z.

    U.S. Department of Health and Human Services, Office of the Surgeon General, Alcohol and Cancer Risk: The U.S. Surgeon General’s Advisory (Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services, 2025), 3–15, diakses September 2026.

    Paul Sarich et al., “Alcohol Consumption, Drinking Patterns and Cancer Incidence in an Australian Cohort of 226,162 Participants Aged 45 Years and Over,” British Journal of Cancer 124, no. 2 (2021): 513–23, https://doi.org/10.1038/s41416-020-01101-2.

    National Cancer Institute, “Alcohol and Cancer Risk,” diakses September 2026.

    Susan M. Gapstur et al., “The IARC Perspective on Alcohol Reduction or Cessation and Cancer Risk,” New England Journal of Medicine 389, no. 26 (2023): 2486–94, https://doi.org/10.1056/NEJMsr2306723.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More