Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: Kebanyakan Nonton TV Terkait Struktur Otak yang Lebih Kecil
ilustrasi pria nonton TV (pexels.com/cottonbro studio)
  • Orang yang mengaku sangat sering menonton TV pada usia rata-rata 53 tahun memiliki volume lebih kecil di sejumlah bagian otak sekitar 24 tahun kemudian.

  • Penelitian menemukan hubungan, bukan membuktikan TV secara langsung membuat otak menyusut atau menyebabkan demensia.

  • Mengurangi waktu menonton pasif dan menggantinya dengan bergerak, bersosialisasi, atau aktivitas yang melibatkan pikiran merupakan pilihan yang lebih baik daripada terlalu lama duduk atau berbaring.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Satu episode selesai, lalu episode berikutnya diputar otomatis. Tak terasa, kamu duduk di depan TV berjam-jam. Waspada, pasalnya penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang sangat sering menonton TV pada usia paruh baya memiliki volume lebih kecil di sejumlah bagian otak ketika diperiksa lebih dari dua dekade kemudian. Mereka juga memiliki lebih banyak perubahan pada materi putih otak yang berkaitan dengan gangguan pembuluh darah kecil.

Temuan studi selama 24 tahun

Tim peneliti menganalisis data 1.712 peserta dari Atherosclerosis Risk in Communities Study (ARIC), sebuah penelitian jangka panjang mengenai kesehatan jantung dan otak di Amerika Serikat. Para peserta tidak mengalami demensia, 57 persen di antaranya perempuan, dan usia rata-ratanya 53 tahun ketika kebiasaan sedenter dinilai pada tahun 1987–1989.

Partisipan studi ditanya seberapa sering mereka menonton TV pada waktu senggang, mulai dari “tidak pernah atau jarang” hingga “sangat sering”. Mereka juga melaporkan lama waktu kerja yang dihabiskan dalam posisi duduk.

Sekitar 24 tahun kemudian, saat usia peserta rata-rata mencapai 76 tahun, mereka menjalani pemindaian otak dengan MRI. Dibandingkan dengan orang yang tidak pernah atau jarang menonton TV, kelompok yang menjawab “sangat sering” menunjukkan sejumlah perbedaan, termasuk:

  • Volume lobus frontal yang lebih kecil.

  • Volume lobus oksipital yang lebih kecil.

  • Volume lebih kecil pada kumpulan area yang disebut area ciri khas penyakit Alzheimer (Alzheimer’s disease-signature regions).

  • Volume hiperintensitas materi putih yang lebih besar.

Lobus frontal terlibat dalam perencanaan, pengambilan keputusan, perhatian, dan pengendalian perilaku. Lobus oksipital terutama berperan dalam memproses informasi visual. Sementara itu, area ciri khas penyakit Alzheimer mencakup area yang rentan mengalami perubahan pada tahap awal penyakit Alzheimer, termasuk bagian yang berperan dalam pembentukan dan pengambilan memori.

Adapun hiperintensitas materi putih atau white matter hyperintensities (WMH) merupakan area yang tampak lebih terang pada MRI. Temuan ini merupakan penanda perubahan jaringan yang sering dikaitkan dengan penyakit pembuluh darah kecil otak, penuaan, stroke, penurunan kognitif, dan demensia.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan aktivitas fisik, indeks massa tubuh, diabetes, hipertensi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pendidikan, dan sejumlah faktor lainnya. Efeknya tampak lebih luas pada peserta laki-laki, tetapi penyebab perbedaannya belum diketahui secara pasti.

Temuan baru ini sejalan dengan penelitian lainnya terhadap 599 orang. Kebiasaan menonton TV yang dinilai berulang kali selama 20 tahun berkaitan dengan volume materi abu-abu yang lebih rendah pada korteks frontal, korteks entorhinal, dan otak secara keseluruhan. Hubungan itu juga bertahan setelah aktivitas fisik diperhitungkan.

Bukan berarti TV menyebabkan otak menyusut

ilustrasi remote TV, nonton TV (pexels.com/Gustavo Fring)

Studi ARIC hanya memperlihatkan bahwa dua hal terjadi pada kelompok yang sama, bahwa peserta melaporkan kebiasaan menonton TV pada usia paruh baya, lalu menunjukkan perbedaan struktur otak sekitar 24 tahun kemudian.

Dalam studi ini tidak ada hasil MRI pada awal pemantauan, yang artinya para peneliti tidak mengetahui apakah kelompok yang sering menonton TV sejak awal memang sudah memiliki volume otak berbeda.

Kebiasaan menonton TV juga dilaporkan sendiri oleh peserta dan dinilai berdasarkan frekuensi, bukan jumlah jam yang diukur secara objektif.

Karena itu, penelitian tidak dapat menentukan batas waktu menonton TV. Kategori “sangat sering” juga belum tentu menggambarkan durasi yang sama pada setiap peserta.

Faktor yang tidak diukur mungkin turut berperan. Misalnya, seseorang bisa lebih sering nonton TV karena mengalami masalah kesehatan, depresi, kesepian, keterbatasan mobilitas, atau perubahan kognitif awal. Kemungkinan ini disebut sebagai reverse causation. Artinya, bukan kebiasaan menonton yang sepenuhnya menyebabkan perubahan, tetapi kondisi awal seseorang turut memengaruhi kebiasaannya.

Menariknya, duduk saat bekerja justru dikaitkan dengan volume lebih besar di beberapa bagian otak serta WMH yang lebih sedikit. Ini mungkin berkaitan dengan tuntutan kognitif saat bekerja, seperti membaca, menghitung, mengingat, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, menurut para peneliti.

“Selama ini kita berfokus pada berapa lama orang duduk. Temuan kami menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan sambil duduk juga perlu diperhatikan,” kata David Raichlen, profesor ilmu biologi dan antropologi di USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences dan penulis senior studi tersebut, mengutip laman resmi USC Dornsife.

Bukan berarti pekerjaan kantoran melindungi otak. Namun, orang yang bekerja sambil duduk mungkin berbeda dalam edukasi, kondisi kesehatan, jenis pekerjaan, pendapatan, dan gaya hidup. Selain itu, ukuran otak yang lebih besar pada tingkat kelompok tidak otomatis berarti setiap orang memiliki fungsi kognitif yang lebih baik.

Sebuah metaanalisis terhadap 35 penelitian dengan lebih dari 1,29 juta peserta menemukan bahwa menonton TV setidaknya 4 jam per hari berkaitan dengan risiko gangguan kognitif lebih tinggi. Akan tetapi, hasil antarpenelitian bervariasi. Sebagian analisis memiliki tingkat kepastian rendah, dan hubungan sebab akibat belum bisa dipastikan.

Pesan studi baru ini adalah TV tidak secara langsung menyebabkan penyakit Alzheimer. Perbedaan struktur MRI merupakan penanda yang perlu dipelajari lebih lanjut, bukan diagnosis demensia atau seseorang pasti akan mengalaminya.

Tidak harus berhenti menonton TV

TV bisa menjadi hiburan, sumber informasi, dan teman bagi orang yang tinggal sendiri. Yang bisa kamu lakukan adalah mencegah sebagian besar waktu senggang secara pasif.

Coba kamu catat waktu menonton selama seminggu, baik itu dari TV maupun perangkat lain. Studi baru ini tidak menilai layanan streaming atau penggunaan HP. Namun, pencatatan dapat menunjukkan apakah screen time telah menggantikan tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, atau kegiatan lain.

Selanjutnya, lakukan perubahan kecil, seperti:

  • Matikan fitur pemutaran otomatis atau tentukan jumlah episode sebelum mulai menonton.

  • Berdiri dan bergerak beberapa menit di antara episode.

  • Ganti sebagian waktu menonton dengan berjalan kaki, pekerjaan rumah, atau berkebun.

  • Selingi hiburan pasif dengan membaca, menulis, membuat kerajinan, bermain musik, atau mempelajari keterampilan.

  • Menonton bersama keluarga dan mendiskusikan tayangan agar ada interaksi sosial.

Belum ada bukti bahwa langkah-langkah tersebut secara khusus dapat membalikkan perubahan struktur otak akibat menonton TV. Namun, saran umum para ahli adalah mengganti sebagian waktu berbaring atau duduk dengan aktivitas fisik.

Kamu disarankan membatasi waktu sedenter dan menggantinya dengan aktivitas fisik dalam intensitas apa pun. Target umumnya adalah 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75–150 menit aktivitas berat setiap minggu, ditambah latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu.

Orang yang sudah rutin berolahraga juga tetap perlu memperhatikan waktu menonton. Dalam studi terbaru, hubungan dengan struktur otak masih terlihat setelah aktivitas fisik diperhitungkan. Satu sesi olahraga belum tentu menghapus seluruh waktu yang kamu habiskan untuk duduk atau berbaring.

Perubahan tidak harus drastis. Mengurangi satu episode, berjalan saat jeda, menelepon teman, atau memilih kegiatan yang membuat pikiran lebih aktif bisa menjadi awal yang lebih mudah dipertahankan.

Sering lupa menaruh barang atau nama seseorang sesekali tidak otomatis menandakan demensia. Namun, pertimbangkan pemeriksaan jika perubahan daya ingat mulai mengganggu pekerjaan, pengelolaan uang, penggunaan obat, kemampuan menemukan jalan, atau aktivitas sehari-hari.

Referensi

Natan Feter et al., “Associations of Distinct Sedentary Behaviors with Cortical, Subcortical, and White Matter Hyperintensity Volumes: Evidence from the ARIC Study,” Alzheimer’s & Dementia 22, no. 7 (2026): e71582, https://doi.org/10.1002/alz.71582.

Ryan J. Dougherty et al., “Long-Term Television Viewing Patterns and Gray Matter Brain Volume in Midlife,” Brain Imaging and Behavior 16, no. 2 (2022): 637–44, https://doi.org/10.1007/s11682-021-00534-4.

USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences, “Heavy TV Watching Associated with Smaller Brain Structures, Study Finds,” diakses Juli 2026.

Hattapark Dejakaisaya et al., “Television Watching and Cognitive Outcomes in Adults and Older Adults: A Systematic Review and Dose-Response Meta-analysis of Observational Studies,” PLOS ONE 20, no. 9 (2025): e0323863, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0323863.

World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour," diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article