Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Obat GLP-1 Bisa Menyebabkan Rambut Rontok

Studi: Obat GLP-1 Bisa Menyebabkan Rambut Rontok
ilustrasi rambut rontok (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya Sih
  • Studi observasional menemukan pengguna obat GLP-1 memiliki risiko kerontokan rambut lebih tinggi dibandingkan pengguna dua jenis obat diabetes lainnya.

  • Kenaikan risiko relatif mencapai 37–68 persen, tetapi risiko absolutnya tetap rendah, yaitu sekitar dua sampai tiga kasus tambahan per 1.000 orang-tahun.

  • Kerontokan paling banyak termasuk alopecia nonjaringan parut, tetapi penelitian belum dapat memastikan penyebab ataupun apakah rambut akan tumbuh kembali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setelah diresepkan obat glucagon-like peptide-1 (GLP-1) oleh dokter, angka timbangan perlahan turun dan kadar gula darah terkendali. Namun, setelah beberapa menggunakannya, kamu menyadari ada perubahan pada rambut. Kamu merasa helai rambut terasa lebih banyak tertinggal di sisir, bantal, atau lantai kamar mandi.

Ternyata pengalaman itu mulai dilaporkan oleh beberapa pengguna obat GLP-1 (terutama semaglutide dan tirzepatide). Kini, sebuah penelitian memberikan bukti yang lebih sistematis bahwa terapi tersebut mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko kerontokan rambut.

Risiko kerontokan ditemukan lebih tinggi

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The BMJ pada 22 Juli 2026 ini menggunakan rekam medis elektronik pasien dewasa dengan diabetes tipe 2 di University of Pennsylvania Health System, Amerika Serikat.

Para peneliti membandingkan pasien yang baru memulai obat GLP-1 dengan pasien yang menggunakan dua golongan obat diabetes lainnya, yaitu SGLT-2 inhibitor dan DPP-4 inhibitor.

Satu analisis membandingkan 12.004 pengguna GLP-1 dengan 15.221 pengguna SGLT-2. Analisis lainnya membandingkan 11.964 pengguna GLP-1 dengan 11.233 pengguna DPP-4. Data pasien dikumpulkan dari Januari 2019 hingga September 2024.

Penelitian ini menggunakan metode target trial emulation. Sederhananya, para peneliti berusaha menyusun data dunia nyata agar menyerupai rancangan uji klinis, meskipun pasien tidak dibagi secara acak.

Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, etnis, penyakit yang sudah dimiliki, dan penggunaan obat lain, pengguna GLP-1 memiliki:

  • Risiko alopecia 37 persen lebih tinggi dibandingkan pengguna SGLT-2.
  • Risiko alopecia 68 persen lebih tinggi dibandingkan pengguna DPP-4.

Tidak berarti sebagian besar pengguna GLP-1 akan mengalami kerontokan rambut

Ilustrasi seorang laki-laki menggunakan obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan.
ilustrasi seorang laki-laki menggunakan obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan (IDN Times/NRF)

Angka 68 persen tampak tinggi, tetapi itu merupakan risiko relatif, yang artinya perbandingan antara kelompok pengguna obat. Risiko sebenarnya pada masing-masing kelompok tetap tergolong rendah.

Pada pengguna GLP-1, tercatat sekitar 6,5–6,9 kasus alopecia per 1.000 orang-tahun. Sebagai perbandingan, angkanya sekitar 5,0 kasus pada pengguna SGLT-2 dan 3,9 kasus pada pengguna DPP-4.

Secara sederhana, jika 1.000 orang menggunakan obat tersebut selama satu tahun, penggunaan GLP-1 berkaitan dengan sekitar 2 sampai 3 kasus kerontokan rambut tambahan dibandingkan dua obat pembanding.

Jadi, temuan ini tidak berarti sebagian besar pengguna GLP-1 akan mengalami kerontokan rambut.

Apakah obat GLP-1 benar-benar menjadi penyebabnya?

Penelitian ini bersifat observasional sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan, bukan sebab akibat.

Walaupun peneliti telah menyesuaikan banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil, tetapi masih mungkin ada faktor lain yang tidak tercatat dalam rekam medis. Penelitian juga hanya melibatkan pasien diabetes tipe 2 dalam satu sistem kesehatan sehingga hasilnya belum tentu sepenuhnya sama pada orang yang menggunakan GLP-1 khusus untuk menangani obesitas.

Salah satu penjelasan yang dianggap paling masuk akal adalah telogen effluvium, yaitu kerontokan rambut menyebar yang terjadi setelah tubuh mengalami perubahan atau tekanan fisiologis besar.

Penurunan berat badan yang cepat dapat mendorong lebih banyak folikel rambut memasuki fase istirahat secara bersamaan. Rambut kemudian mulai rontok beberapa bulan setelah pemicunya terjadi. Asupan energi yang turun serta kekurangan protein, zat besi, atau seng juga mungkin ikut memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.

Artinya, hubungan tersebut mungkin tidak hanya berasal dari kerja obat secara langsung, tetapi juga dari perubahan berat badan dan pola makan yang menyertainya.

Apakah rambut bisa tumbuh kembali?

Seorang perempuan menyisir rambutnya yang panjang.
ilustrasi menyisir rambut (pexels.com/cottonbro studio)

Analisis lanjutan menunjukkan peningkatan risiko terutama terjadi pada alopecia non jaringan parut (non-scarring alopecia). Pada jenis kerontokan ini, folikel rambut tidak rusak secara permanen sehingga masih ada peluang untuk rambut tumbuh kembali.

Telogen effluvium pada umumnya bersifat sementara. Kerontokan sering mulai terlihat beberapa bulan setelah tubuh mengalami perubahan besar. Ketika pemicunya berhenti dan tubuh kembali stabil, kepadatan rambut dapat berangsur pulih dalam waktu sekitar enam hingga sembilan bulan.

Meski demikian, penelitian ini tidak memiliki informasi yang cukup untuk mengetahui seberapa parah kerontokan yang dialami pasien, berapa lama berlangsung, atau apakah rambut benar-benar tumbuh kembali setelah penggunaan obat dihentikan. Karena itu, pemulihan rambut pada pengguna GLP-1 belum dapat dipastikan hanya berdasarkan studi ini.

Setelah membaca temuan studi, jangan langsung menghentikan obat GLP-1. Pada banyak pasien, manfaatnya dalam mengendalikan gula darah, menurunkan berat badan, dan mengurangi komplikasi terkait obesitas kemungkinan jauh lebih besar daripada risiko kerontokan rambut yang relatif kecil.

Bicarakan dengan dokter apabila kerontokan mulai terasa mengganggu atau terus berlangsung. Dokter atau dokter spesialis kulit dapat membantu membedakan telogen effluvium dari kondisi lain serta menilai kemungkinan faktor tambahan, seperti pola makan yang terlalu terbatas, kekurangan zat gizi, gangguan tiroid, atau jenis alopecia lainnya.

Referensi

"GLP-1 diabetes drugs linked to increased risk of hair loss." BMJ Group. Diakses Juli 2026.
https://www.bmj.com/content/394/bmj-2026-100077

Huilin Tang et al., “Risk of Hair Loss Associated With Glucagon-like Peptide-1 Receptor Agonists in Adults With Type 2 Diabetes: Target Trial Emulation,” BMJ 394 (July 22, 2026): e100077, https://doi.org/10.1136/bmj-2026-100077.

"expert reaction to a target trial emulation study on risk of hair loss associated with GLP-1 RAs in adults with type 2 diabetes." Science Media Centre. Diakses Juli 2026.

"How can GLP-1 drugs affect my skin, hair, and nails?" American Academy of Dermatology. Diakses Juli 2026.

"Do you have hair loss or hair shedding?" American Academy of Dermatology. Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More