Seringnya, rutinitas tidur dianggap baik selama durasinya terpenuhi. Banyak orang fokus pada angka—6 jam, 7 jam, atau 8 jam durasi tidur—tanpa memperhatikan konsistensi waktu tidur. Padahal, tubuh tidak hanya membutuhkan waktu istirahat yang cukup, tetapi juga ritme yang stabil.
Sebuah penelitian dari Universitas Oulu yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Cardiovascular Disorders menemukan, ketidakteraturan waktu tidur di usia paruh baya berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular serius.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan tidak hanya melihat berapa lama seseorang tidur, tetapi juga seberapa konsisten waktu mereka pergi tidur setiap malam. Hasilnya, orang dengan jam tidur yang berubah-ubah memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi seperti serangan jantung (myocardial infarction) atau stroke (cerebral infarction).
Yang menarik, efek ini menjadi lebih kuat pada mereka yang tidur kurang dari 8 jam. Pada kelompok ini, risiko kejadian kardiovaskular bisa meningkat hingga dua kali lipat dibanding mereka yang jadwal tidurnya lebih teratur.
