ilustrasi vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)
Uji terbaru melibatkan 20 orang yang memiliki predisposisi herediter terhadap kanker pankreas sekaligus kelainan pada pankreas yang terlihat melalui pencitraan, biasanya berupa kista kecil. Mereka menerima empat suntikan di bawah kulit: tiga dosis awal pada minggu pertama, ketiga, dan kelima, kemudian satu dosis penguat pada minggu ke-13.
Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa 18 dari 20 peserta menghasilkan respons sel T terhadap KRAS yang bermutasi. Besarnya respons tersebut meningkat dengan median 18,2 kali lipat dibandingkan sebelum vaksinasi. Respons mencakup sel T CD4 dan CD8, termasuk sel memori yang dapat membantu sistem imun mengenali kembali target yang sama pada masa mendatang.
Pada beberapa peserta, klon sel T yang dipicu vaksin masih dapat ditemukan hingga dua tahun setelah vaksinasi. Daya tahan respons ini penting karena perubahan dari lesi prakanker menjadi kanker bisa berlangsung lama. Sistem imun perlu memiliki memori yang cukup panjang agar secara teoritis dapat terus mengawasi sel yang membawa mutasi KRAS.
Dari sisi keamanan, seluruh efek samping terkait vaksin tergolong ringan hingga sedang. Keluhan yang paling sering dilaporkan adalah reaksi pada tempat suntikan, kelelahan, menggigil, dan gejala mirip flu. Keluhan tersebut mereda tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Setelah masa tindak lanjut median 16,5 bulan, tidak ada peserta yang terdiagnosis kanker pankreas atau mengalami lesi berisiko tinggi yang memerlukan operasi. Lima peserta mengalami hilangnya kista kecil pada pencitraan dan tiga peserta mengalami penyusutan sebagian, sedangkan kista lainnya tetap stabil. Namun, perubahan kista hanya merupakan hasil eksploratif, bukan bukti bahwa vaksinlah yang membuat kista mengecil.