Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Uji Vaksin Kanker Pankreas Picu Imunitas pada 90 Persen Peserta
ilustrasi vaksin (IDN Times/NRF)
  • Vaksin eksperimental mKRAS-VAX diuji pada 20 orang dengan risiko keturunan dan kelainan pankreas yang terdeteksi melalui pencitraan.

  • Sebanyak 90 persen peserta membentuk respons sel T terhadap mutasi KRAS, yang pada sebagian peserta masih terdeteksi hingga dua tahun.

  • Hasil ini belum membuktikan bahwa vaksin dapat mencegah kanker pankreas karena trial masih fase 1, berukuran kecil, dan tidak memiliki kelompok kontrol acak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Adanya riwayat kanker pankreas dalam keluarga, mutasi gen bawaan, atau temuan kista pada pankreas dapat membuat seseorang harus menjalani pemeriksaan berkala sambil menunggu apakah suatu perubahan akan berkembang menjadi kanker.

Kini, peneliti dari Johns Hopkins University sedang menguji pendekatan dengan cara melatih sistem imun untuk mengenali perubahan awal sebelum kanker terbentuk. Dalam trial fase 1, vaksin eksperimental bernama mKRAS-VAX dinilai aman dan memicu respons imun pada 18 dari 20 peserta yang berisiko tinggi mengalami kanker pankreas.

Hasil yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Discovery pada 16 Juli 2026 ini menjanjikan, tetapi belum membuktikan bahwa vaksin benar-benar dapat mencegah kanker pankreas.

1. Vaksin melatih tubuh mengenali mutasi KRAS

Jenis kanker pankreas yang paling umum adalah pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC). Penyakit ini dapat berkembang selama bertahun-tahun dari lesi prakanker, termasuk perubahan mikroskopis dan beberapa jenis kista pankreas. Masa perkembangan yang panjang itu menjadi fokus para peneliti untuk mencoba menghentikan prosesnya sebelum menjadi kanker invasif.

Target vaksin ini adalah KRAS, gen yang berperan mengatur pertumbuhan sel. Mutasi tertentu dapat membuat KRAS terus mengirim sinyal agar sel tumbuh tanpa terkendali. Mutasi KRAS ditemukan pada lebih dari 90 persen PDAC dan juga terdapat pada banyak lesi prakanker pankreas.

mKRAS-VAX merupakan vaksin berbasis peptida sintetis yang menargetkan enam mutasi KRAS yang paling umum. Vaksin ini tidak dibuat secara khusus untuk setiap peserta. Kombinasi peptidanya dirancang untuk mengajari sel T mengenali sel yang membawa mutasi KRAS dan menyerangnya sebelum berkembang lebih jauh.

Konsepnya berbeda dari vaksin pencegah infeksi seperti vaksin hepatitis B atau HPV. mKRAS-VAX tidak menargetkan virus dan belum ditujukan untuk masyarakat umum. Vaksin ini sedang dikembangkan sebagai bentuk intersepsi kanker, yaitu intervensi pada orang berisiko tinggi saat perubahan prakanker mungkin sudah dimulai, tetapi kanker invasif belum terbentuk.

Pendekatan serupa sebelumnya diuji pada 12 pasien yang telah menjalani operasi kanker pankreas. Trial fase 1 tersebut menunjukkan bahwa mKRAS-VAX yang dikombinasikan dengan dua obat imunoterapi dapat membentuk respons sel T terhadap KRAS pada sebagian besar peserta. Temuan itulah yang ikut mendasari pengujian vaksin pada orang yang belum menderita kanker, tetapi memiliki risiko tinggi.

2. Respons imun muncul pada 90 persen peserta

ilustrasi vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Uji terbaru melibatkan 20 orang yang memiliki predisposisi herediter terhadap kanker pankreas sekaligus kelainan pada pankreas yang terlihat melalui pencitraan, biasanya berupa kista kecil. Mereka menerima empat suntikan di bawah kulit: tiga dosis awal pada minggu pertama, ketiga, dan kelima, kemudian satu dosis penguat pada minggu ke-13.

Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa 18 dari 20 peserta menghasilkan respons sel T terhadap KRAS yang bermutasi. Besarnya respons tersebut meningkat dengan median 18,2 kali lipat dibandingkan sebelum vaksinasi. Respons mencakup sel T CD4 dan CD8, termasuk sel memori yang dapat membantu sistem imun mengenali kembali target yang sama pada masa mendatang.

Pada beberapa peserta, klon sel T yang dipicu vaksin masih dapat ditemukan hingga dua tahun setelah vaksinasi. Daya tahan respons ini penting karena perubahan dari lesi prakanker menjadi kanker bisa berlangsung lama. Sistem imun perlu memiliki memori yang cukup panjang agar secara teoritis dapat terus mengawasi sel yang membawa mutasi KRAS.

Dari sisi keamanan, seluruh efek samping terkait vaksin tergolong ringan hingga sedang. Keluhan yang paling sering dilaporkan adalah reaksi pada tempat suntikan, kelelahan, menggigil, dan gejala mirip flu. Keluhan tersebut mereda tanpa memerlukan pengobatan khusus.

Setelah masa tindak lanjut median 16,5 bulan, tidak ada peserta yang terdiagnosis kanker pankreas atau mengalami lesi berisiko tinggi yang memerlukan operasi. Lima peserta mengalami hilangnya kista kecil pada pencitraan dan tiga peserta mengalami penyusutan sebagian, sedangkan kista lainnya tetap stabil. Namun, perubahan kista hanya merupakan hasil eksploratif, bukan bukti bahwa vaksinlah yang membuat kista mengecil.

3. Menjanjikan, tetapi belum terbukti mencegah kanker

Angka 90 persen terdengar mengesankan, tetapi itu merujuk pada respons imun, bukan keberhasilan mencegah kanker.

Uji fase 1 terutama dirancang untuk melihat keamanan dan kemampuan vaksin memicu respons sel T, bukan untuk mengukur penurunan kejadian kanker pankreas.

Selain itu, penelitian ini hanya melibatkan 20 peserta dan tidak mengacak mereka ke kelompok vaksin dan plasebo. Masa tindak lanjut median 16,5 bulan juga terlalu singkat untuk memastikan apakah orang yang divaksinasi benar-benar memiliki risiko kanker lebih rendah dalam jangka panjang.

Analisis kekebalan terutama dilakukan melalui sampel darah. Para peneliti belum bisa memastikan apakah sel T yang ditemukan dalam darah berhasil masuk ke jaringan pankreas dan menghancurkan sel prakanker pembawa mutasi KRAS. Para peneliti kini menjalankan uji lanjutan pada pasien dengan kista pankreas berisiko tinggi yang akan menjalani operasi. Jaringan yang diangkat nantinya dapat menunjukkan apakah sel imun hasil vaksinasi benar-benar mencapai lesi tersebut.

Sejumlah peneliti juga memiliki kepentingan finansial terkait teknologi vaksin karena menjadi pendiri, pemegang saham, atau konsultan Adventris Pharmaceuticals. Teknologi yang digunakan telah dilisensikan oleh perusahaan tersebut dari Johns Hopkins University. Hubungan ini telah dilaporkan dan ditinjau berdasarkan kebijakan konflik kepentingan universitas, tetapi tetap penting diketahui ketika menilai hasil penelitian.

Untuk saat ini, mKRAS-VAX masih merupakan produk penelitian. Orang dengan riwayat keluarga kanker pankreas atau mutasi gen yang meningkatkan risiko sebaiknya tidak menunda pemantauan sambil menunggu perkembangan vaksin.

Pemantauan rutin tetap menjadi pendekatan utama bagi orang yang memenuhi kriteria risiko tinggi. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa pemantauan dengan pencitraan dapat membantu menemukan kanker pankreas pada stadium lebih awal pada kelompok tersebut. Konseling genetik juga dapat membantu menentukan apakah seseorang perlu menjalani tes genetik dan masuk ke program surveilans khusus.

Referensi

S. Daniel Haldar et al., “First-in-Human Testing of a Mutant KRAS Vaccine for Pancreatic Cancer Interception in High-Risk Cohorts,” Cancer Discovery (2026), https://doi.org/10.1158/2159-8290.CD-25-2245.

American Association for Cancer Research, “A Vaccine to Prevent Pancreatic Cancer in High-risk Individuals Was Safe and Elicited Durable Immune Responses,” diakses Juli 2026.

Amanda L. Huff et al., “Mutant KRAS Vaccine with Dual Checkpoint Blockade in Resected Pancreatic Cancer: A Phase I Trial,” Nature Communications 17 (2026): 1538, https://doi.org/10.1038/s41467-026-68324-4.

National Cancer Institute, “Surveillance for People at High Risk of Pancreatic Cancer,” diakses Juli 2026.

National Cancer Institute, “Genetic Testing Fact Sheet,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article