Multitasking sering dianggap sebagai cara supaya lebih banyak pekerjaan selesai dalam waktu yang sama. Dalam sehari, kita bisa berpindah dari pekerjaan ke urusan rumah, membalas pesan pada sela perjalanan, atau mendengarkan sesuatu sambil mengerjakan kegiatan lain. Kebiasaan seperti ini memang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, apakah multitasking selalu bertentangan dengan mindfulness? Yuk, cari tahu jawabannya!
Apakah Benar Multitasking Selalu Bertentangan dengan Mindfulness?

1. Multitasking tidak selalu berarti perhatianmu terbagi secara berantakan
Melakukan dua kegiatan sekaligus tidak otomatis membuat perhatian berantakan. Mengantre sambil membaca novel, misalnya, masih memungkinkan kamu berhenti membaca ketika giliran tiba tanpa mengganggu orang lain. Ini pun berlaku seperti saat berkebun sambil mendengarkan radio atau menyetrika pakaian sambil mengikuti obrolan ringan di televisi.
Situasinya berbeda ketika dua kegiatan sama-sama membutuhkan kamu untuk berpikir dan mengambil keputusan. Mengatur jadwal perjalanan sambil membalas pesan soal pekerjaan bisa membuat kamu beberapa kali kembali membaca informasi yang sama. Bukannya selesai lebih cepat, perhatian justru habis untuk berpindah dari satu urusan ke urusan lain. Di sinilah, multitasking mulai sulit berjalan seiring dengan mindfulness karena kamu tidak benar-benar hadir pada salah satu kegiatan tersebut.
2. Ada multitasking yang memang masuk akal dilakukan
Tidak semua kegiatan harus dipisahkan satu per satu. Menunggu air mendidih sambil memotong bahan masakan, contohnya, justru bisa membuat waktu di dapur terasa lebih efisien. Kamu juga bisa menyiram tanaman sambil merapikan meja sambil menunggu fail berukuran besar selesai diunduh.
Kuncinya ada pada apakah kedua kegiatan tersebut saling mengganggu. Kalau salah satunya membutuhkan perhatian mendadak, kamu harus bisa segera meninggalkan kegiatan yang lain tanpa kehilangan bagian penting. Sebaliknya, kalau dua kegiatan terus membuatmu berebut perhatian, lebih baik selesaikan salah satunya terlebih dahulu. Multitasking bukan soal sebanyak apa hal yang bisa dikerjakan sekaligus, melainkan memilih kombinasi kegiatan yang memang masuk akal.
3. Mindfulness lebih berkaitan dengan cara kamu menjalani kegiatan
Mindfulness tidak berarti kamu harus menghabiskan waktu dengan duduk diam dan hanya memikirkan satu hal. Saat sedang makan siang, misalnya, kamu bisa memperhatikan rasa makanan, mengobrol dengan teman, atau menikmati waktu istirahat tanpa sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya. Ketika sedang bepergian naik kereta, kamu juga bisa menikmati pemandangan atau membaca tanpa merasa harus terus mencari sesuatu untuk dilakukan.
Hal yang sering membuat kegiatan terasa tidak mindful justru kebiasaan ingin segera pindah ke hal berikutnya. Baru membaca beberapa halaman, tangan sudah ingin membuka aplikasi lain. Baru menonton satu episode, perhatian sudah sibuk memikirkan pekerjaan besok. Kamu tidak harus menghapus kebiasaan multitasking, tetapi sesekali memberi kesempatan pada satu kegiatan untuk selesai tanpa terus mencari pengalih juga bagian dari mindfulness.
4. Multitasking bisa jadi masalah ketika semuanya terasa harus dikerjakan sekarang
Ada perbedaan antara menggabungkan dua kegiatan dan merasa harus merespons segala sesuatu saat itu juga. Saat sedang memasak, misalnya, bunyi notifikasi grup keluarga mungkin membuatmu langsung meraih ponsel. Belum selesai membaca pesan, ada surel masuk, lalu muncul pengingat kalender yang membuatmu membuka aplikasi lain. Dalam beberapa menit, kegiatan yang awalnya sederhana bisa berubah menjadi serangkaian perpindahan kecil yang tidak ada habisnya.
Kebiasaan seperti ini bisa dikurangi dengan menentukan mana yang memang perlu mendapat perhatian saat itu. Pesan yang tidak mendesak bisa dibaca setelah pekerjaan selesai, sementara pengingat tertentu dapat ditangani ketika waktunya sudah tiba. Dengan begitu, kamu tidak harus menolak semua hal yang muncul, tetapi juga tidak membiarkan setiap bunyi atau pemberitahuan menentukan apa yang harus dilakukan berikutnya.
5. Mindfulness dan multitasking bisa berjalan bersama selama kamu tahu batas
Kehidupan sehari-hari memang tidak selalu memungkinkan kita mengerjakan satu hal dari awal sampai selesai tanpa gangguan. Ada pekerjaan rumah, perjalanan pulang, urusan kantor, membalas chat dari orang lain, sampai hal-hal kecil yang harus dibereskan dalam waktu berdekatan. Karena itu, menganggap semua bentuk multitasking sebagai sesuatu yang harus dihindari juga tidak terlalu realistis. Karena yang lebih penting ialah tahu kegiatan mana yang aman digabungkan dan mana yang sebaiknya dikerjakan sendiri.
Coba perhatikan kapan multitasking benar-benar membantu dan kapan justru membuat pekerjaan semakin tak kunjung selesai. Kalau kamu masih bisa mengikuti kegiatan dengan baik dan tidak merasa tertinggal, kombinasi multitasking serta mindfulness mungkin tidak masalah. Namun, ketika dua pekerjaan mulai saling mengacaukan, berhenti sebentar dan menyelesaikan salah satunya bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Mindfulness bukan larangan untuk melakukan banyak hal, melainkan kesempatan untuk menyadari apa yang sedang kamu lakukan tanpa selalu terburu-buru pindah ke hal lain.
Multitasking ternyata tak selalu bertentangan dengan mindfulness. Selama kamu tahu kegiatan mana yang bisa dilakukan bersamaan dan mana yang membutuhkan perhatian penuh, keduanya tetap bisa berjalan beriringan dalam keseharian. Jadi, tak perlu merasa bersalah setiap kali melakukan beberapa hal sekaligus selama kamu masih bisa menjalaninya dengan baik.
Curated For You
- 3 Cara Mudah Menerapkan Mindfulness dalam Kehidupan Sehari-hari18 Sep 2026, 07:10 WIB
- 4 Jebakan Mindfulness dan Stoikisme yang Bisa Mengikis Empati17 Sep 2026, 23:46 WIB
- 5 Tanda Kamu Butuh Menerapkan Mindfulness dalam Hidup15 Sep 2026, 17:17 WIB