Bank Jakarta Soroti Sulitnya Akses Rumah bagi Anak Muda di Jakarta

- Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyoroti sulitnya anak muda di Jakarta memiliki rumah dan menilai akses pembiayaan perumahan harus jadi bagian strategi pembangunan kota.
- Agus menekankan perlunya memperkuat keterhubungan antara warga, pelaku usaha, investor, dan pemerintah karena masih banyak masyarakat belum terhubung dengan layanan keuangan formal.
- Ia juga menilai pembangunan Jakarta butuh investasi berkelanjutan serta transformasi digital yang inklusif agar manfaat teknologi dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyoroti masih sulitnya akses kepemilikan rumah bagi generasi muda di Jakarta. Menurutnya, akses pembiayaan perumahan perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan kota agar semakin banyak anak muda memiliki kesempatan untuk memiliki hunian.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” ujar Agus dalam Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan pada Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, dikutip Minggu (7/6/2026).
1. Jakarta masih alami tantangan

Selain persoalan perumahan, Agus menilai, Jakarta masih menghadapi tantangan lain dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif. Menurutnya, kota ini tidak kekurangan infrastruktur maupun teknologi, tetapi masih perlu memperkuat keterhubungan antara masyarakat, pelaku usaha, investor, dan pemerintah.
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” katanya.
2. Banyak warga Jakarta yang belum terhubung layanan keuangan

Agus mengatakan, masih banyak warga Jakarta yang belum terhubung dengan layanan keuangan formal. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk memperluas akses masyarakat terhadap berbagai layanan ekonomi.
“Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal. Ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut Agus, pelaku UMKM membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada sekadar akses pembiayaan.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” katanya.
3. Jakarta butuhkan investasi yang kuat

Di sisi lain, Agus menilai pembangunan Jakarta ke depan membutuhkan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan kota global tidak dapat hanya mengandalkan pembiayaan dari pemerintah daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menekankan pentingnya memastikan transformasi digital dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” katanya.

















