Berantas Ikan Sapu-sapu, KPKP Jaksel Bakal Sidak Pedagang Siomai

- Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan akan melakukan sidak ke rumah produksi siomai untuk menelusuri kemungkinan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan.
- Ikan sapu-sapu berisiko mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal yang dapat memicu penyakit serius bila dikonsumsi dalam jangka panjang.
- Pemerintah mengajak masyarakat aktif melapor jika menemukan peredaran ikan sapu-sapu untuk konsumsi agar pengawasan pangan dan kesehatan publik lebih terjamin.
Jakarta, IDN Times - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) terhadap rumah produksi siomai. Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan, Ridho Sosro, mengatakan langkah tersebut perlu diambil menyusul banyaknya populasi ikan sapu-sapu.
"Setiap bulan, kami sebenarnya melakukan pengawasan pangan terpadu. Ke depan, pengawasan itu juga akan kami arahkan untuk menelusuri kemungkinan penggunaan ikan sapu-sapu, termasuk hingga ke rumah-rumah produksi siomai," ujarnya dalam keterangan, Selasa (21/4/2026).
1. Ikan sapu-sapu mengandung merkuri

Ridho menjelaskan, Sidak dilakukan sebagai langkah antisipatif atas kekhawatiran penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Menurutnya, ikan sapu-sapu dikenal mampu mengonsumsi berbagai material di perairan. Sehingga, berisiko mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal.
"Dampak logam berat seperti merkuri dan timbal tidak langsung terasa. Namun, dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit, termasuk kanker," ujarnya.
2. Bahaya konsumsi ikan sapu-sapu

Dia menyatakan, meskipun sosialisasi telah dilakukan, masih ada kemungkinan oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan ikan sapu-sapu untuk diperjualbelikan sebagai bahan pangan.
"Kami akan terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami bahaya mengonsumsi ikan yang terpapar ini," kata Ridho.
3. Ajak masyarakat antisipasi

Dia mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam pengawasan. Jika menemukan indikasi peredaran daging ikan sapu-sapu untuk konsumsi, warga diminta segera melaporkannya kepada pemerintah setempat agar dapat cepat ditindaklanjuti.
"Harapan kami, dengan pengawasan pangan yang ketat di Jakarta, kesehatan masyarakat dapat semakin terjamin dan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta Selatan dapat dikendalikan," kata Ridho.

















