DPR: Haji 2026 Lancar, Kepadatan di Mina Perlu Terobosan Baru

- Penyelenggaraan haji 2026 dinilai lancar, namun kepadatan di Mina masih menjadi masalah utama dengan fasilitas seperti AC dan air yang belum berfungsi optimal.
- DPR mendorong pemerintah mencari terobosan baru, termasuk opsi tenda bertingkat atau skema tanazul agar sebagian jemaah bisa mabit di hotel untuk mengurangi kepadatan.
- Wamenhaj menyoroti tantangan mobilitas tinggi di Mina serta perbedaan adaptasi suhu jemaah, mengingatkan agar tidak memaksakan diri saat lontar jumrah demi keselamatan.
Jakarta, IDN Times - Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menilai, penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah secara umum berjalan lancar. Namun demikian, kepadatan jemaah di Mina masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dicarikan solusi bersama.
"Kapasitas tenda dan area yang tersedia belum mampu memberikan ruang yang cukup nyaman bagi seluruh jemaah. Kepadatan masih terjadi dan dirasakan langsung oleh jemaah," kata Marwan kepada wartawan, Jumat (29/6/2026).
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Fraksi PKB itu mencatat, sejumlah fasilitas di Mina belum berfungsi secara optimal. Mulai dari pendingin udara (AC) yang tidak bekerja maksimal hingga ketersediaan air yang belum sepenuhnya memadai di beberapa titik.
"Kita menerima berbagai masukan terkait fasilitas di Mina. Ada persoalan AC yang tidak berfungsi optimal, ketersediaan air yang kurang memadai, serta berbagai kendala lain yang muncul akibat tingginya kepadatan jemaah dalam satu kawasan yang sangat terbatas," ujar dia.
1. Perlu ada kajian alternatif baru soal Mina
Marwan menilai, pemerintah perlu menyiapkan terobosan kebijakan baru untuk mengatasi persoalan Mina yang terus berulang setiap musim haji.
Sebab, apabila perluasan area Mina tidak memungkinkan karena keterbatasan lahan, maka perlu ada kajian alternatif lainnya, termasuk pembangunan tenda bertingkat maupun penataan ulang penempatan jemaah.
"Kita harus mulai memikirkan formula baru. Jika area Mina memang tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jemaah menjadi lebih longgar dan manusiawi," kata Marwan.
2. Skema tanazul bisa menjadi pilihan alternatif

Selain itu, ia juga mengusulkan agar sebagian jemaah Indonesia yang hotelnya berada dalam jarak yang memungkinkan dapat menjalani skema tanazul sehingga beban kepadatan di Mina dapat berkurang secara signifikan.
Diketahui, tanazul merupakan skema yang memungkinkan jemaah haji tidak menginap (mabit) di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel atau akomodasi yang telah ditentukan.
"Dari sekitar 201 ribu jemaah Indonesia, mungkin ada sekitar 60 ribu jemaah yang dapat dipertimbangkan untuk mabit di hotel dengan pengaturan yang baik dan tetap sesuai ketentuan yang berlaku. Jika ini dapat diwujudkan, ruang di Mina akan jauh lebih longgar bagi jemaah yang tetap berada di tenda," kata dia.
Kendati demikian, Marwan menegaskan, skema tersebut memerlukan kajian mendalam, pengorganisasian yang matang, serta persetujuan dari Arab Saudi. Karena itu, ia berharap kehadiran Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dapat memainkan peran strategis dalam melakukan negosiasi dengan otoritas Saudi untuk mencari solusi jangka panjang.
"Ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, dukungan regulasi, serta komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Arab Saudi. Namun, persoalan Mina tidak boleh dibiarkan berulang tanpa solusi. Kita harus berani mencari terobosan demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah Indonesia," kata Legislator Sumatra Utara itu.
3. Tantangan Mobilitas Tinggi di Mina

Berbeda dengan wukuf di Arafah atau mabit di Muzdalifah yang cenderung berdiam diri, fase Mina sangat krusial karena jemaah harus berjalan kaki menuju Jamarat. Jarak dari tenda ke area lontar jumrah bisa mencapai kurang lebih 3 kilometer.
Selain kelelahan fisik, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti fenomena unik terkait perbedaan kemampuan adaptasi suhu jemaah di dalam tenda Mina. "Di tenda jemaah itu macam-macam kebiasaannya. Ketika AC-nya maksimal, yang gak kuat dingin akhirnya keluar dari tenda. Mereka pilih tidur di luar tenda, ditaruh kasur di luar," cerita Wamenhaj dari hasil inspeksinya.
Mengingat tingginya intensitas kegiatan di Mina, Wamenhaj mengingatkan jemaah untuk rasional. "Mobilitasnya tinggi. Oleh sebab itu yang paling penting, kalau tidak sanggup, ada baiknya (lontar jumrah) dibadalkan. Jangan memaksakan diri," kata Politikus Gerindra itu.



















