JD Vance Sebut Epstein Punya Hubungan dengan Intelijen AS dan Israel

- JD Vance menyebut Jeffrey Epstein memiliki hubungan dengan intelijen AS dan Israel, meski tanpa bukti tambahan dan belum ada kesimpulan resmi dari otoritas terkait.
- Vance mengakui pemerintahan Trump gagal mengelola komunikasi saat merilis dokumen Epstein, yang memicu kekecewaan publik karena minimnya informasi baru.
- Ia menuding Pam Bondi sebagai penyebab tingginya ekspektasi publik soal daftar klien Epstein, hingga akhirnya Bondi dipecat setelah klaimnya terbukti tidak benar.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengeluarkan pernyataan menarik terkait mendiang Jeffrey Epstein. Ia menyebut terpidana kejahatan seksual itu memiliki hubungan dengan intelijen AS dan Israel.
Pernyataan ini Vance sampaikan saat tampil di podcast Joe Rogan pada Rabu (15/7/2026). Selain itu, ia juga mengakui bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah salah mengelola komunikasi saat merilis dokumen Epstein.
1. Dugaan koneksi Epstein dengan CIA dan Mossad

Vance meyakini Epstein memiliki hubungan dengan lembaga intelijen tingkat tinggi. Ia secara spesifik menyebutkan kemungkinan keterlibatan badan intelijen AS seperti CIA dan agen mata-mata Israel, Mossad.
Lebih lanjut, Vance menyoroti kedekatan Epstein dengan kubu politik tertentu di Israel. Ia menilai koneksi tersebut lebih condong ke arah kelompok sayap kiri-tengah di negara tersebut.
Hingga saat ini, otoritas AS belum pernah menyimpulkan adanya hubungan antara Epstein dengan CIA atau Mossad. Vance sendiri tidak memberikan bukti tambahan untuk mendukung klaimnya tersebut.
"Dia jelas memiliki koneksi ke tingkat tertinggi intelijen Amerika dan intelijen Israel," ujar Vance, dilansir Al Jazeera.
2. Pengakuan kesalahan penanganan dokumen Epstein

Terkait perilisan dokumen Epstein, Vance mengakui adanya kegagalan komunikasi di dalam pemerintahan Trump. Ia menilai pemerintah seharusnya langsung merilis semua dokumen sejak awal tanpa menunda.
Penundaan perilisan dokumen tersebut memicu kritik dari berbagai pihak. Banyak pendukung Trump juga merasa kecewa karena dokumen yang dirilis ternyata tidak memuat informasi baru.
Meski mengakui adanya kesalahan, Vance membantah tuduhan bahwa pemerintah sengaja menutupi informasi rahasia. Ia menegaskan kegagalan itu murni karena buruknya strategi komunikasi ke publik.
"Kami benar-benar mengacaukan komunikasi dokumen Epstein, kami memang melakukannya," kata Vance, dikutip dari The Guardian.
3. Vance salahkan Pam Bondi atas tingginya ekspektasi publik

Vance menunjuk mantan Jaksa Agung AS Pam Bondi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas ekspektasi publik yang berlebihan. Bondi sebelumnya mengklaim bahwa daftar klien Epstein sudah ada di mejanya.
Bondi juga membagikan dokumen publik kepada sejumlah influencer yang ia sebut sebagai dokumen rahasia. Tindakan ini dinilai membuat publik semakin tidak percaya pada upaya transparansi pemerintah.
Akibat penanganan yang buruk ini, Trump memecat Bondi pada April lalu. Departemen Kehakiman AS juga telah menyimpulkan pada 2025 bahwa daftar klien Epstein tersebut tidak pernah ada. Vance sendiri menilai tindakan Bondi tidak didasari niat jahat untuk menipu masyarakat.
"Saya pikir Pam mencoba merespons momen politik, ia melebih-lebihkan apa yang kami miliki dan apa yang tidak kami miliki," tutur Vance, dilansir CNN.





















