Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

16 Siswa SMP di Jakarta Terpapar HIV, DPRD: Fenomena Gunung Es

16 Siswa SMP di Jakarta Terpapar HIV, DPRD: Fenomena Gunung Es
Ilustrasi HIV AIDS (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
  • Sebanyak 16 siswa SMP di Jakarta terdeteksi HIV, disebut sebagai fenomena gunung es yang menandakan persoalan sosial remaja lebih besar dari yang terlihat.
  • DPRD DKI meminta pemerintah, sekolah, dan keluarga memperkuat pengawasan terhadap anak-anak karena sebagian siswa terpapar masih di bawah usia 17 tahun.
  • Justin Adrian menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak serta mengusulkan pencabutan bansos bagi keluarga yang anaknya terlibat tawuran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian Untayana, menyebut sebanyak 16 siswa salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta terdeteksi HIV. Menurutnya ini merupakan fenomena gunung es.

"Di satu SMP ada 16 anak terdeteksi HIV. Ini fenomena gunung es. Ini menandakan persoalan sosial remaja jauh lebih besar dari yang terlihat," Justin dalam keterangan, Jumat (17/7/2026).

1. Alarm bagi pemerintah dan sekolah

IMG-20260714-WA0000.jpg
Siswa-siswi SDN Tugurejo Semarang menyimak pengarahan saat MPLS. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Justin menilai temuan di satu sekolah saja sudah cukup menjadi alarm bagi pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk memperkuat pengawasan terhadap anak.

"Berdasarkan penelusuran sebagian siswa yang terpapar masih berusia di bawah 17 tahun," katanya.

2. Cabut bansos

content--20230308031254.jpeg
ilustrasi kartu KJMU (dok. Pemprov DKI Jakarta)

Selain menyoroti persoalan tersebut, Justin mengusulkan langkah tegas terhadap keluarga anak yang terbukti terlibat tawuran seperti mempertimbangkan pencabutan bantuan sosial (Bansos) sebagai bentuk tanggung jawab orangtua dalam mengawasi anak.

“Anak yang tawuran mungkin tidak takut KJP dicabut, tapi keluarga harus bertanggung jawab,” tegasnya.

3. Lingkungan bentuk karakter anak

IMG_7691.jpeg
Suasana MPLS bertema Harry Potter di SD Cemara Dua, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Menurut Justin, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk perilaku anak. Karena itu, orangtua tidak boleh lepas tangan ketika anak terlibat tawuran maupun tindak kriminal. Peristiwa itu, menurut Justin, menunjukkan lemahnya pengawasan keluarga.

Justin menegaskan, berbagai fasilitas pendidikan dan program yang disiapkan Pemprov DKI tidak akan efektif tanpa keterlibatan aktif keluarga dalam membina dan mengawasi anak.

“Sebagus apa pun program pemerintah, tanpa peran orang tua hasilnya akan sia-sia,” ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More