Grab Jadikan Penggunaan AI sebagai Bagian Evaluasi Kinerja Karyawan

- Grab menjadikan penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari evaluasi kinerja karyawan, setelah menghentikan sementara pengembangan produk baru untuk fokus pada pelatihan AI internal.
- Kebijakan ini mendorong seluruh tim teknologi Grab meningkatkan produktivitas melalui laporan rutin pemanfaatan AI, sekaligus mempercepat adopsi teknologi di berbagai lini bisnis perusahaan.
- CEO Neneng Goenadi menegaskan penerapan AI harus tetap berlandaskan nilai perusahaan seperti heart, humility, hunger, dan honor agar inovasi berjalan etis dan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Grab menerapkan transformasi besar dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di internal perusahaan. CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengungkapkan penggunaan AI kini menjadi bagian dari evaluasi kinerja karyawan.
Langkah tersebut dilakukan setelah Grab menghentikan sementara pengembangan produk baru untuk fokus meningkatkan kemampuan AI seluruh tim teknologi perusahaan.
"Jadi kita ada tiga bulan apa dua bulan, semua tech tidak ada new development karena semua karyawan Grab harus train dan melakukan AI sprint," kata Neneng dalam sesi Sovereign AI, The Infrastructure Race, Indonesia Summit 2026 by IDN Times, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, AI telah menjadi bagian penting dalam budaya kerja perusahaan. Bahkan, tingkat pemanfaatan teknologi tersebut ikut memengaruhi proses evaluasi karyawan.
"Dan setelah itu sama juga sama IDN, sama Indosat, kita performance measure-nya, bukan OKR, evaluation-nya ZG kalau nggak pakai AI itu pengaruh, satu," ujarnya.
Grab juga secara rutin memantau tingkat penggunaan AI oleh para pekerjanya.
"Terus kedua produktivitas kita berapa banyak kita menggunakan AI, itu setiap setiap hari atau setiap bulan ada tuh report-nya. Terus kita gini garuk-garuk kan. Semua semua dilihat loh," kata Neneng.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi Grab untuk mempercepat adopsi AI di seluruh lini bisnis. Tahun ini, perusahaan memperkenalkan 13 fitur berbasis AI yang ditujukan untuk pengemudi, merchant, dan pelanggan.
Meski mendorong penggunaan AI secara agresif, Neneng menegaskan teknologi harus tetap dijalankan berdasarkan nilai perusahaan.
"Nah, pertama-tama kembali tadi saya mengatakan value. Value di kita is very important. Ada heart, humility, hunger, and honor."
Menurutnya, pemanfaatan AI tidak boleh semata-mata berorientasi pada kecepatan atau keuntungan bisnis.
"Karena kalau values-nya cuma mikirin cepat, cuma mikirin dapat duit banyak gitu ya, potong kompas, itu menjadi unethical," ujarnya.
Grab menilai keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai etika menjadi kunci agar AI dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan, karyawan, maupun jutaan mitra dalam ekosistem digitalnya.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age," IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.
















