Greenpeace: Banjir Sumatra karena Faktor Manusia

- Cuaca ekstrem akibat krisis iklim dan Siklon tropis Senyar
- Karakter DAS di ketiga provinsi tersebut rentan menimbulkan banjir
- Krisis tutupan hutan akibat alih fungsi lahan
Jakarta, IDN Times - Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, Kiki Taufik, memaparkan sejumlah faktor yang memicu banjir dan longsor besar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 ini. Menurutnya, rangkaian bencana tersebut bukan hanya dipicu oleh cuaca ekstrem, tetapi terutama akibat ulah manusia yang merusak ekosistem hutan.
“Kami lebih menyebutkan ini faktor manusia. Karena kalau hanya faktor alam, curah hujan yang besar, jadi dengan siklon tropis seperti itu, kalau tutupan hutannya masih bagus tidak ada deforestasi, tentu tidak akan terjadi kejadian banjir longsor yang seperti ini,” ujar Kiki kepada IDN Times, Sabtu (29/11/2025).
1. Cuaca ekstrem akibat krisis iklim dan Siklon Tropis Senyar

Kiki menjelaskan, Indonesia sedang menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim. Siklon Tropis Senyar yang terbentuk pada 25–27 November bergerak melalui Selat Malaka dan memengaruhi cuaca di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat. Fenomena ini membawa curah hujan sangat tinggi sehingga memicu banjir dan longsor di wilayah terdampak.
“Saat ini kita berada dalam kondisi krisis iklim. Jadi ada Siklon Tropis Senyar pada tanggal 25 sampai 27 November yang bergerak di Selat Malaka, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan lanjut ke Malaysia,” katanya.
2. Karakter DAS di ketiga provinsi rentan menimbulkan banjir

Daerah aliran sungai (DAS) di tiga provinsi tersebut secara geomorfologi memiliki karakter yang sempit, curam, dan dipenuhi lembah, sehingga kapasitas tampung airnya relatif kecil. Kiki menjelaskan, dengan kondisi seperti ini, menjaga tutupan hutan menjadi sangat penting agar limpahan air dapat tertahan oleh vegetasi.
“Artinya kalau dengan kondisi seperti ini, harusnya tutupan hutannya dijaga. Karena dengan tutupan hutan yang bagus, tentu limpahan air yang banyak akan tertahan oleh pohon-pohon itu," ujarnya.
3. Krisis tutupan hutan akibat alih fungsi lahan

Menurut Kiki, DAS di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini berada dalam kondisi kritis karena hilangnya tutupan hutan. Lahan yang sebelumnya hutan berubah menjadi kebun sawit, hutan tanaman industri, kebun kayu, hingga area pertambangan. Tutupan hutan yang tersisa kurang dari 25 persen, membuat wilayah hulu tidak lagi mampu menahan curah hujan ekstrem dan mudah terjadi banjir besar dan longsor.
“Tetapi kenyataannya, daerah aliran sungai di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, itu saat ini dalam kondisi kritis. Kenapa kritis? Karena tutupan lahannya yang tadinya hutan, sekarang berubah menjadi kebun sawit, menjadi tanah hutan tanaman industri, atau kebun kayu, kemudian ada juga yang berubah menjadi tambang,” pungkasnya.


















