Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Najwa Shihab: Setiap Media Masih Sulit Temukan Model Bisnis

Najwa Shihab: Setiap Media Masih Sulit Temukan Model Bisnis
Acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Intinya Sih

  • Soroti PHK yang terjadi pada media legendaris The Washington Post, juga terjadi di Indonesia.

  • Bersaing dengan kreator konten dalam perebutan perhatian publik yang ketat.

  • Adaptasi dan semangat jurnalisme Roehana Koeddoes sebagai kunci menghadapi dinamika industri media saat ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN TimesJurnalis senior dan pendiri Narasi, Najwa Shihab menyoroti tantangan berat yang masih dihadapi oleh industri media saat ini. Di tengah gempuran disrupsi digital, ia menilai, perusahaan media masih berjuang keras untuk mencari formula bisnis yang berkelanjutan.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Najwa menyebutkan, penurunan indeks kebebasan pers tidak semata-mata disebabkan oleh aktor negara atau pemerintah. Faktor ekonomi dan bisnis memegang peranan krusial dalam mengubah lanskap media hari ini.

"Faktor betapa industri ini mengalami disrupsi yang luar biasa, yang membuat media harus terus-menerus menyesuaikan dirinya," ujar Najwa.

1. Soroti PHK yang terjadi pada media legendaris The Washington Post

Founder Narasi Najwa Shihab di acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan (FJPI) (IDN Times/Krisna)
Founder Narasi Najwa Shihab di acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan (FJPI) (IDN Times/Krisna)

Ia mengambil contoh fenomena global yang terjadi pada The Washington Post, salah satu media legendaris di Amerika Serikat, yang baru-baru ini harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 30 persen karyawannya. Menurut Najwa, guncangan serupa juga nyata terjadi di Indonesia.

"Situasi industri medianya yang berubah. Yang sampai sekarang pun, kalau mau jujur, setiap media itu masih sulit menemukan bisnis model yang pas," tegasnya.

2. Bersaing dengan kreator konten

Founder Narasi Najwa Shihab di acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan (FJPI) (IDN Times/Krisna)
Founder Narasi Najwa Shihab di acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan (FJPI) (IDN Times/Krisna)

Tantangan bagi perusahaan pers kian pelik karena kompetisi tidak hanya terjadi antarmedia, melainkan juga dengan para kreator konten. Najwa menyoroti adanya perebutan perhatian publik yang sangat ketat.

"Belum lagi sekarang kita berebut perhatian dan atensi, bukan hanya dari orang-orang yang memegang kartu pers dan dididik untuk menyampaikan informasi, tetapi juga oleh content creator," jelas Najwa.

Meski mengakui banyak kreator konten yang bekerja dengan prinsip jurnalistik yang baik, Najwa juga mengingatkan adanya sebagian pihak yang hanya mengejar viralitas hingga bertolak belakang dengan fakta.

3. Adaptasi dan semangat jurnalisme Roehana Koeddoes

Pemutaran dokumenter Roehana Koeddoes dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan.
Pemutaran dokumenter Roehana Koeddoes dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menghadapi situasi industri yang dinamis ini, Najwa menekankan pentingnya kemampuan adaptasi tanpa menghilangkan esensi perjuangan pers. Ia merefleksikan semangat jurnalis perempuan pertama Indonesia, Roehana Koeddoes yang tetap bersuara meski menghadapi berbagai tekanan.

Bagi Najwa, jika ruang-ruang konvensional semakin sulit dipertahankan karena alasan bisnis atau tekanan eksternal, jurnalis harus berani mencari medium baru.

"Ruangnya bisa berbeda, mediumnya bisa berganti, tapi spirit-nya (harus tetap ada). Ada banyak cara menurut saya sekarang yang bisa dilakukan dan semua cara itu valid," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
Dwi Agustiar
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More