Amai Setia: Roehana Koeddoes Lahirkan Infrastruktur Emansipasi Wanita

- Roehana Koeddoes, pelopor emansipasi sebelum istilahnya populer.
- Langkah Roehana sangat signifikan karena mempertemukan pendidikan dengan kemandirian ekonomi perempuan.
- Infrastruktur emansipasi Roehana warisannya terasa hingga kini.
Jakarta, IDN Times – Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang, Trini Tambu, mengatakan perjuangan Roehana Koeddoes jauh melampaui sekadar gagasan emansipasi. Menurutnya, Roehana telah membangun infrastruktur emansipasi yang nyata melalui pendidikan, jurnalistik, dan pemberdayaan ekonomi perempuan sejak awal abad ke-20.
Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
1. Roehana Koeddoes, pelopor emansipasi sebelum istilahnya populer

Trini mengingatkan, jauh sebelum istilah emansipasi bergema secara nasional, Roehana Koeddoes sudah menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan lewat tulisan-tulisannya di surat kabar Sunting Melayu pada 1911.
Ia mengutip salah satu tulisan Roehana berjudul Perempuan yang berbunyi, “Kaum perempuan harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum perempuan pun harus memasuki sekolah seperti kaum laki-laki. Karena dengan sekolah lah ilmu pengetahuan diperoleh”.
Menurut Trini, tulisan tersebut bukan sekadar opini, melainkan sebuah manifesto perubahan cara berpikir bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.
2. Dari halaman rumah ke sekolah kerajinan perempuan

Trini menjelaskan, pemikiran Roehana berakar dari masa kecilnya di Koto Gadang, Sumatra Barat, dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Dari halaman rumahnya sendiri, Roehana mulai mengajar anak-anak perempuan membaca dan menulis.
Visi itu kemudian diwujudkan melalui pendirian Kerajinan Amai Setia, yang bangunannya resmi berdiri pada 1915 dengan dukungan warga setempat. Roehana bahkan menggalang dana melalui penjualan sertifikat untuk membeli tanah dan membangun gedung tersebut.
“Di Amai Setia, murid-murid tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan kerajinan tangan. Hasilnya dijual, dan para perempuan mendapatkan penghasilan untuk membantu keluarga mereka,” kata Trini.
Menurut Trini, langkah ini sangat signifikan karena mempertemukan pendidikan dengan kemandirian ekonomi perempuan.
3. Infrastruktur emansipasi yang warisannya terasa hingga kini

Trini menyebut ruang redaksi Sunting Melayu yang dipimpin Roehana sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah emansipasi. Di sanalah Roehana membuka ruang bagi suara perempuan untuk menjadi narator atas kisahnya sendiri.
“Dari ruang redaksi yang dipimpinnya, lahirlah infrastruktur emansipasi. Dari sekolah kerajinan yang didirikan, ia menunjukkan bahwa jalan paling efektif menuju kemajuan adalah melalui ilmu dan keterampilan,” ujarnya.
Ia menilai warisan Roehana masih terasa hingga kini, tercermin dari hadirnya perempuan di posisi strategis, mulai dari presiden perempuan hingga tokoh-tokoh di puncak dunia jurnalistik dan pemerintahan. Namun, Trini menegaskan, perjuangan itu belum selesai.
“Kita telah menempuh jalan yang sangat panjang, tapi masih banyak ruang untuk belajar dan bekerja keras. Warisan terbesar Roehana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan bisa menggerakkan perubahan,” tuturnya.
“Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya, bagaimana kita akan menggunakannya?” pungkas Trini.



















