Identifikasi Korban Pesawat ATR, TNI AU Siagakan RSAU Dody Sardjoto

- Bersinergi dengan Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah
- RSAU dr. Dody Sardjoto akan bersinergi dengan berbagai pihak terkait untuk identifikasi korban pesawat ATR.
- TNI AU hadir dalam operasi kemanusiaan dari pencarian hingga penanganan lanjutan.
- TNI AU kerahkan Helikopter Caracal
- Helikopter H225M Caracal dikerahkan untuk membantu pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang komunikasi.
- 82 personel dan kendaraan VCP juga dikerahkan untuk memperkuat tim gabungan dalam proses pencarian.
Jakarta, IDN Times - TNI Angkatan Udara (AU) melalui Lanud Sultan Hasanuddin menyiagakan Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Dody Sardjoto sebagai posko Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mendukung proses identifikasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto mengatakan, keterlibatan RSAU merupakan wujud komitmen TNI AU dalam mendukung proses kemanusiaan setelah evakuasi selesai dilakukan di lapangan.
“Setelah korban berhasil dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat, TNI AU menyiagakan RSAU dr. Dody Sardjoto sebagai posko Tim DVI untuk mendukung proses identifikasi korban bersama instansi terkait,” ujar Arifaini.
1. Bersinergi dengan Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah

Dalam operasionalnya, RSAU dr. Dody Sardjoto akan bersinergi dengan Polri, Basarnas, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait agar seluruh tahapan identifikasi berjalan cepat, akurat, dan sesuai standar internasional DVI.
TNI Angkatan Udara memastikan akan terus hadir dalam operasi kemanusiaan, tidak hanya pada tahap pencarian dan evakuasi, tetapi juga pada penanganan lanjutan untuk memberikan kepastian bagi keluarga korban.
2. TNI AU kerahkan Helikopter Caracal

Sebelumnya, TNI AU juga mengerahkan helikopter H225M Caracal untuk membantu pencarian pesawat ATR 42-500.
Berdasarkan informasi awal, pesawat ATR-400 hilang komunikasi di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Titik koordinat terakhir yang diterima berada pada posisi 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.
Menindaklanjuti laporan tersebut, helikopter H225M Caracal dengan Pilot in Command (PIC) Kapten Pnb Rahman lepas landas dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju sektor pencarian di wilayah Kabupaten Maros.
Selain unsur udara, TNI AU juga mengerahkan 82 personel dari Yon Parako 473 Korpasgat, Divisi Arhanud Korpasgat, Lanud Sultan Hasanuddin dan 1 kendaraan VCP untuk memperkuat tim gabungan yang terdiri atas Polres Maros, Kodim 1422/Maros, serta Basarnas. Seluruh unsur saat ini telah merapat ke Posko Lapangan di daerah Bantimurung untuk melakukan koordinasi intensif dan mempercepat proses pencarian.
3. Data korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport

Adapun, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merilis data korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak sejak Sabtu, (17/1/2026) 13.17 WITA.
Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU) Kemenhub, jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) rute penerbangan Yogyakarta-Makassar itu tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang, dengan rincian sebagai berikut:
Awak Pesawat:
Capt. Andy Dahananto
SIC / FO M. Farhan Gunawan
FOO Hariadi
EOB Restu Adi P
EOB Dwi Murdiono
FA Florencia Lolita
FA Esther Aprilita S
Penumpang:
Deden
Ferry
Yoga
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat.
Pada Minggu (18/1/2026) pagi, serpihan pesawat ditemukan dalam operasi pencarian terpadu yang mengombinasikan pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) sejak pukul 06.15 WITA yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter TNI AU. Kemudian pukul 07.46 WITA, tim berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela yang menjadi penanda awal lokasi kecelakaan.
Selang tiga menit kemudian, tepatnya pada pukul 07.49 WITA, ditemukan serpihan berukuran besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. DJPU Kemenhub menegaskan, pada tahap ini belum berada dalam posisi untuk menyimpulkan penyebab kejadian.
Seluruh aspek yang berkaitan dengan proses investigasi, termasuk faktor penyebab kecelakaan pesawat, sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan akan disampaikan secara resmi oleh KNKT sesuai ketentuan yang berlaku.


















