Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

32 Orang Terluka Imbas Serangan Iran di Bahrain

32 Orang Terluka Imbas Serangan Iran di Bahrain
potret bendera Bahrain (pexels.com/Fadhel Madan)
Intinya Sih
  • Iran meluncurkan rudal dan drone ke Pulau Sitra, Bahrain, melukai 32 warga sipil termasuk anak-anak serta merusak sejumlah rumah pada Minggu malam waktu setempat.
  • Serangan Iran juga menyasar beberapa negara Teluk lain seperti Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, memicu kecaman internasional dari AS, Israel, dan sekutunya.
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara tetangga namun menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan AS dan Israel, sambil tetap membuka jalur diplomasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone ke Pulau Sitra, salah satu wilayah teritorial Bahrain, pada Minggu (8/3/2026) malam waktu setempat. Serangan tersebut melukai setidaknya 32 orang, termasuk anak-anak. 

Menurut Kementerian Kesehatan Bahrain, semua korban luka merupakan warga negara Bahrain. Empat korban dikabarkan mengalami luka yang cukup serius sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit setempat. 

“Akibat agresi Iran yang terang-terangan, dilaporkan ada warga sipil yang terluka. Beberapa mengalami luka serius. Sejumlah rumah di Sitra juga rusak akibat serangan pesawat tanpa awak,” kata Kementerian Dalam Negeri Bahrain yang ikut merespons serangan Iran di Pulau Sitra, seperti dilansir Times of Israel.

1. Iran sedang gencar melakukan serangan ke negara-negara Teluk

Negara-negara Teluk.
potret negara-negara Teluk (pexels.com/Lara Jameson)

Saat ini, Iran memang sedang gencar melakukan serangan ke negara-negara Teluk,  seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Iran menyerang negara-negara tersebut untuk membasmi markas militer AS yang ada di sana.

Selain di Bahrain, pada Senin (9/3/2026), Iran juga melakukan serangan terbaru ke Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Ledakan terdengar di beberapa kota besar yang ada di negara-negara tersebut. Sehari sebelumnya, Iran juga sudah melakukan serangan ke Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. 

Serangan-serangan ini menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk dari Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya. Mereka menilai Iran seharusnya tidak menargetkan negara-negara lain dalam melakukan serangan. Sebab, langkah tersebut berpotensi memperkeruh suasana di Timur Tengah.

2. Presiden Iran minta maaf telah menyerang negara-negara tetangga

Masoud Pezeshkian sedang berbicara kepada orang.
potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Usai menerima banyak kecaman, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, akhirnya mengucapkan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk yang sudah terkena serangan pasukannya 

"Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena dampak tindakan Iran," kata Pezeshkian dilansir CBC

Selain itu, dalam pernyataannya, Pezeshkian juga mengajak seluruh negara di Timur Tengah agar tidak membantu AS dan Israel menyerang Iran. Sebab, tindakan tersebut bisa membuat konflik jadi makin panas.

3. Donald Trump minta Iran segera menyerah

Donald Trump sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Hingga saat ini, Iran masih melakukan serangan ke Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sebaliknya, AS dan Israel juga masih melakukan serangan ke Iran.

Presiden AS, Donald Trump, beberapa waktu lalu sudah meminta Iran untuk menyerah tanpa syarat. Ini dilakukan untuk mengakhiri peperangan. Namun, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyerah karena alasan apa pun. Presiden Pezeshkian juga menegaskan akan terus melawan AS dan Israel.

Meski begitu, Pezeshkian mengatakan Iran tetap mengedepankan jalan diplomasi dengan AS dan Israel agar konflik segera usai. Sebab, ia menilai cara tersebut lebih efektif untuk menyelesaikan konflik ketimbang melakukan agresi militer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More