Investasi-Investasi INA Bawa Dampak Nyata, Ini Bukti dan Hasilnya

- INA membawa investor internasional ke Indonesia melalui investasi yang konsisten, transparan, dan good governance.
- Responsible investment menjadi keharusan bagi INA, dengan memilih proyek-proyek yang memiliki dampak ESG dan potensi keuntungan.
- Investasi INA membawa dampak positif ke sektor logistik dan transportasi, seperti pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT).
Jakarta, IDN Times – Investasi tidak boleh hanya mengutamakan profit atau keuntungan semata. Namun, tiap-tiap perusahaan perlu melakukan investasi yang bertanggung jawab (responsible investment) dengan ikut mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi.
Langkah inilah yang ditempuh oleh Sovereign Wealth Fund (SWF), Indonesia Investment Authority (INA) dalam 4 tahun terakhir. Banyak keputusan-keputusan investasi yang diambil sudah mulai menunjukkan buahnya.
Dalam Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, Chief Executive Officer (CEO) INA, Ridha D.M Wirakusumah menjelaskan, INA adalah the new breed of sovereign wealth fund. Apa alasannya? Model investasi INA yang memanfaatkan investor internasional untuk membawa profit sekaligus dampak ke masyarakat sudah menjadi role model bagi beberapa negara besar seperti India, Rusia, dan beberapa negara berkembang.
Kemudian, apa saja hasil dari investasi-investasi INA? Bagaimana dampaknya ke masyarakat? Simak selengkapnya di poin-poin berikut.
1. Beragam sektor investasi INA

Membawa investor internasional ke Indonesia melalui INA bukan perkara mudah. INA terus membangun kepercayaan dengan eksekusi yang konsisten, transparan, dan good governance. Ridha bercerita, ia dan tim harus berulang kali meyakinkan para investor bahwa Indonesia memiliki banyak sekali proyek yang menguntungkan dan sekaligus memiliki dampak positif.
Dalam memilih investasi, INA juga tidak sembarangan. INA hanya melakukan impact investing, dimana aspek development bagi Indonesia dan aspek commercial harus dipenuhi. Pemenuhan aspek ini menjadi win-win solution bagi semua pihak.
“Kita sudah berinvestasi sebanyak 25 kali atau deals. Sudah exit 3 dengan hasil yang baik sekali. Berpartner dengan 40 partners dari 15 negara, seperti dana pensiun, SWF, asset managers, insurance companies, strategic companies, private equities. Jadi, cukup bervariasi dan mereka yakin mau berinvestasi di Indonesia,” ujar Ridha dalam Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, (20/12).
INA hingga saat ini sudah menginvestasikan dana sebesar Rp73 triliun. Tiap tahunnya, INA menggelontorkan dana antara Rp15 hingga Rp16 triliun di sektor-sektor unggulan.
Ada 5 sektor yang menjadi fokus investasi INA, yaitu Transport, Logistic & Infrastructure, Digital, Green Energy & Blue Economy, Healthcare, dan Advanced Materials. Salah satu contoh sukses hasil investasi INA di sektor digital adalah pembangunan data center di Batam. Ridha menyebut, data center terbesar di Indonesia ini sudah 100 persen laku. Bahkan data center yang dibangun bersama DayOne ini juga menggunakan chip NVIDIA Blackwell B1, pertama di Asia Tenggara, fokus untuk pengembangan Artificial Intelligence
Di sektor healthcare, INA juga berinvestasi pada pembangunan pabrik Plasma Darah di Karawang yang sudah mencapai 98 persen selesai. Pabrik ini akan menyuplai kebutuhan plasma darah yang menjadi bahan ketahanan kesehatan yang sangat penting.
Sementara itu, INA juga berinvestasi di advanced material bersama mitra strategis dari China dan Korea di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Proyek material katoda Lithium Ferro Phosphate (LFP) yang digarap oleh INA ini menjadi fasilitas LFP terbesar di luar China.
2. INA dan responsible investment

Selanjutnya, saat ini responsible investment sudah menjadi keharusan atau objektif utama bagi SWF manapun. Tujuannya, supaya setiap investasi tidak hanya mendapatkan financial profit namun juga berdampak positif kepada ekonomi, sosial, dan Indonesia secara keseluruhan.
Ridha menyatakan bahwa INA berinvestasi pada proyek-proyek yang memiliki dampak ESG (Environmental, Social, Governance) dan memiliki potensi keuntungan. Dengan demikian, INA dapat memberikan dampak luas ke masyarakat dan sekaligus mendatangkan keuntungan bagi Indonesia serta investor yang terlibat.
“Semua investment kita itu impactful and responsible. Tentunya membawa dampak positif bagi Indonesia,” ujar Ridha.
Dengan begitu banyaknya keuntungan responsible investment, Ridha mengajak tiap perusahaan untuk mengikuti jejak INA. Tidak hanya membawa keuntungan, namun juga manfaat sosial dan ekonomi bagi banyak pihak.
3. Investasi yang membawa dampak sosial dan ekonomi

Kemudian, INA juga membawa dampak positif ke sektor logistik dan transportasi. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM UI) melaporkan studi independen yang membahas dua investasi jangka panjang INA, yaitu ruas Jalan Tol Trans Sumatra Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatra Utara.
Pembangunan Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) berperan penting dalam mendorong konektivitas antar wilayah dan meningkatkan efisiensi logistik di seluruh Sumatra. INA saat ini menjadi pemilik jalan tol terbesar ke-3 di Indonesia. Panjang jalan tol yang dimiliki INA saat ini mencapai 256 kilometer.
Proyek BTB yang mencakup periode konstruksi dan operasional proyek dari tahun 2015 hingga 2067, diperkirakan mampu memberikan kontribusi sekitar Rp400 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia serta mendukung sekitar 20.000 lapangan kerja setiap tahun selama masa konsesinya.
Proyek Belawan New Container Terminal (BNCT) juga menjadi salah satu hasil dari investasi INA. Proyek ini diperkirakan menciptakan pendapatan fiskal sebesar Rp15 triliun. Selain itu jika mencakup periode konstruksi dan operasional proyek dari tahun 2016 hingga 2072, BNCT diproyeksi akan menciptakan nilai tambah sekitar Rp82 triliun terhadap PDB Indonesia serta menciptakan sekitar 4.400 lapangan kerja setiap tahun di seluruh Indonesia.
Di luar kinerja ekonominya, revitalisasi BNCT turut mendorong peningkatan pendapatan UMKM, memperluas akses terhadap kebutuhan pokok, serta berkontribusi pada penurunan emisi CO₂ hingga sekitar 3,4 juta ton melalui rute pelayaran yang lebih singkat dan peningkatan efisiensi operasional. (WEB)


















