Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Abdullah bin Masud, Orang Pertama Lantunkan Al-Qur'an di Depan Umum

Kisah Abdullah bin Masud, Orang Pertama Lantunkan Al-Qur'an di Depan Umum
Ilustrasi Kota Makkah pada era kenabian (Google Mode AI/Rochmanudin)
Intinya Sih
  • Abdullah bin Mas’ud dikenal sebagai sahabat Nabi yang pertama kali berani melantunkan ayat Al-Qur’an secara terbuka di Makkah, meski menghadapi ancaman dari kaum Quraisy.
  • Ia membaca Surah Ar-Rahman di Maqam Ibrahim dengan suara lantang, membuat para tokoh Quraisy terkejut karena baru pertama kali mendengar bacaan Al-Qur’an dibacakan di depan umum.
  • Meskipun dipukul hingga terluka, Abdullah bin Mas’ud tetap melanjutkan bacaannya dan menunjukkan keteguhan iman luar biasa dalam menyebarkan kebenaran Islam pada masa awal dakwah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pada masa awal dakwah di Makkah, ayat-ayat suci itu belum banyak dilantunkan secara terbuka di hadapan kaum Quraisy.

Sosok pertama yang berani membacakan di depan umum setelah Rasulullah SAW, adalah salah seorang sahabat terdekat beliau, Abdullah bin Mas’ud.

Dikenal sebagai orang keenam yang memeluk Islam, Abdullah bin Mas’ud termasuk sahabat yang selalu bersama Nabi. Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq, dikisahkan bagaimana keberanian Abdullah bin Mas’ud menjadi salah satu momen penting dalam sejarah dakwah Islam di Makkah.

1. Tantangan memperdengarkan Al-Qur’an kepada kaum Quraisy

Kisah Orang Pertama Melantunkan Ayat Suci Al-Qur'an di Depan Umum
ilustrasi membaca Al Quran (pexels.com/ali burhan)

Dalam riwayat yang disampaikan Ibnu Ishaq dari Yahya bin Urwah bin Az-Zubair, para sahabat pernah berkumpul dan membicarakan satu hal penting. Mereka menyadari orang-orang Quraisy belum pernah mendengar lantunan Al-Qur’an secara terbuka di depan umum.

Mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur’an dibacakan secara terang-terangan. Siapakah yang berani memperdengarkannya kepada mereka?”

Di tengah suasana penuh pertimbangan itu, Abdullah bin Mas’ud dengan tegas menjawab, “Aku!”

Para sahabat sempat mengkhawatirkan keselamatannya. Mereka berharap orang yang melakukannya memiliki keluarga besar yang dapat melindungi dari ancaman Quraisy. Namun, Abdullah bin Mas’ud tetap bersikukuh. Ia berkata Allah subhanallahuwata'ala akan melindunginya.

Keputusan itu bukan sekadar keberanian, melainkan wujud keyakinan dan keimanan yang kuat, di tengah tekanan kaum musyrik Makkah.

2. Membaca Surah Ar-Rahman di Maqam Ibrahim

Ilustrasi Kota Makkah
Ilustrasi Kota Makkah (Meta AI/Rochmanudin)

Pada waktu Dhuha, saat para tokoh Quraisy berkumpul di balai pertemuan mereka, Abdullah bin Mas’ud berdiri di Maqam dan mulai membaca Al-Qur’an dengan suara lantang.

Ayat yang ia lantunkan adalah pembuka Surah Ar-Rahman:

اَلرَّحْمٰنُۙ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ

“(Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (QS. Ar-Rahman: 1–2)

Suara lantangnya membuat orang-orang Quraisy terdiam sejenak. Sebagian dari mereka bertanya, “Apa yang dibaca oleh anak Ummu Abd ini?” Sebagian lainnya menjawab, “Dia membaca sebagian dari apa yang dibawa Muhammad.”

Momen tersebut menjadi salah satu kali pertama kalangan elite Quraisy mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan secara terbuka oleh selain Nabi.

3. Dipukul tapi tetap melanjutkan bacaan

ilustrasi amalan membaca al quran (pexels.com/Michael Burrows)
ilustrasi amalan membaca al quran (pexels.com/Michael Burrows)

Tak lama kemudian, kemarahan kaum Quraisy memuncak. Mereka bangkit dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud. Ia pun dipukul hingga wajahnya terluka. Namun, di tengah serangan itu, Abdullah bin Mas’ud tetap melanjutkan bacaannya sampai ayat tertentu dari surah tersebut.

Setelah merasa cukup, barulah Abdullah bin Mas’ud kembali menemui para sahabat dengan kondisi wajah penuh luka. Melihat kondisi itu, para sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan atas dirimu.”

Namun, jawaban Abdullah bin Mas’ud justru menunjukkan keteguhan hatinya. Ia menyebut musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandangannya dari sebelumnya. Bahkan, ia menawarkan diri untuk mengulanginya keesokan hari.

Para sahabat akhirnya melarangnya. Mereka menilai apa yang telah dilakukan Abdullah bin Mas’ud sudah cukup: Al-Qur’an telah diperdengarkan kepada mereka, meski dengan risiko besar.

Kisah Abdullah bin Mas’ud menjadi bukti dakwah Islam pada masa awal tidaklah mudah. Keberanian Abdullah bin Mas’ud bukan hanya soal menghadapi ancaman fisik, tetapi juga tentang menyampaikan kebenaran di tengah tekanan sosial dan kekuasaan.

Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar menjaga dan menyampaikan Al-Qur’an adalah amanah besar, yang pada masa awalnya diperjuangkan dengan pengorbanan luar biasa. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More