Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

WHO: Wabah Ebola di DRC Kemungkinan Sudah Menyebar sejak Januari 2026

WHO: Wabah Ebola di DRC Kemungkinan Sudah Menyebar sejak Januari 2026
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • WHO menyebut wabah Ebola di DRC kemungkinan sudah menyebar sejak Januari 2026, dengan 344 kasus dan 60 kematian, serta penyebaran terbatas ke Uganda.
  • Tedros menyoroti hambatan besar berupa pembatasan perjalanan dan rendahnya kepercayaan masyarakat, sementara belum ada vaksin untuk strain Bundibugyo.
  • Situasi keamanan yang buruk dan serangan kelompok bersenjata menyebabkan pelacakan kontak sulit dilakukan, bahkan beberapa pasien Ebola melarikan diri dari fasilitas perawatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kemungkinan telah dimulai sejak Januari 2026. Hal ini memberikan virus banyak waktu untuk menyebar sebelum akhirnya terdeteksi.

Sejak wabah tersebut teridentifikasi pada pertengahan Mei lalu, strain Bundibugyo telah menyebabkan 344 kasus Ebola terkonfirmasi, termasuk 60 kematian, di DRC. Sementara itu, negara tetangganya, Uganda, mencatat 15 kasus terkonfirmasi dengan satu korban jiwa.

"Wabah ini sudah lebih dulu menyebar secara luas, dan kami masih tertinggal. Namun, di bawah kepemimpinan pemerintah DRC, kami mulai mengejar ketertinggalan tersebut," kata Tedros. Ia menambahkan bahwa pusat-pusat perawatan kini tengah dibangun di seluruh provinsi Ituri, yang paling terdampak parah Ebola, dilansir dari The Guardian.

1. Pembatasan perjalanan dan ketidakpercayaan masyarakat jadi hambatan serius

ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)

Tedros mengungkapkan bahwa pembatasan perjalanan menyeluruh yang diberlakukan oleh sejumlah negara turut mengganggu rantai pasokan dan menghambat upaya penanganan wabah. Oleh sebab itu, ia meminta agar kebijakan tersebut dicabut.

Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat juga menjadi hambatan serius dalam penanganan wabah. Dalam kunjungannya ke DRC pekan lalu, Tedros menemukan sejumlah pemimpin komunitas yang tidak meyakini bahwa virus Ebola benar-benar ada.

Hingga kini, belum ada vaksin maupun pengobatan yang disetujui untuk strain Bundibugyo. Meski demikian, Tedros mengatakan kesembuhan enam pasien di DRC dan dua pasien di Uganda menunjukkan bahwa penderita Ebola dapat bertahan hidup jika mendapatkan perawatan yang memadai dan segera mendatangi fasilitas kesehatan begitu gejala muncul.

2. Otoritas kesulitan melacak orang-orang yang berinteraksi dengan pasien Ebola

anak-anak dan perempuan di Kinshaha, Kongo
anak-anak dan perempuan di Kinshaha, Kongo (UNICEF Sverige, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Meskipun kapasitas laboratorium dan diagnostik untuk menangani wabah telah meningkat, Tedros mengatakan bahwa pelacakan terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan pasien Ebola di DRC masih belum optimal. Kondisi ini diperparah oleh situasi keamanan yang tidak stabil dan tingginya angka pengungsian.

"Hanya sekitar 45 persen kontak yang berhasil ditindaklanjuti. Untuk mengendalikan wabah ini, kami perlu meningkatkan angka tersebut hingga lebih dari 90 persen," ujarnya.

DRC telah dilanda krisis keamanan selama bertahun-tahun hingga menyebabkan banyak warga mengungsi. Sejumlah kelompok bersenjata, seperti pemberontak M23 yang didukung Rwanda, masih beroperasi di wilayah timur DRC, yang menjadi lokasi wabah Ebola saat ini.

3. Sejumlah pasien Ebola melarikan diri dari rumah sakit akibat konflik

serangan militan terhadap konvoi tentara Niger di desa siwili, 2019
serangan militan terhadap konvoi tentara Niger di desa siwili, 2019 (aharan_kotogo, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir ABC News, militer DRC mengatakan sedikitnya 16 orang tewas akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok afiliasi ISIS, Allied Democratic Forces (ADF), di wilayah Beni, provinsi Kivu Utara, pada Selasa (2/6/2026). Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang dilakukan pasukan DRC dan Uganda terhadap kelompok tersebut.

Gubernur militer Kivu Utara mengatakan bahwa tiga pasien Ebola telah melarikan diri dari pusat perawatan di Beni akibat serangan sebelumnya pada Sabtu (30/5/2026). Para pemimpin komunitas khawatir hal ini dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

"Penyakit ini dapat menyebar dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Kami melihat hal itu setelah serangan di Ngandi, ketika para penduduk melarikan diri. Dalam situasi seperti itu, langkah-langkah pengendalian wabah sulit diterapkan. Jika ada orang di antara mereka yang membawa virus Ebola, situasinya akan sangat serius," kata Albert Lusenge, aktivis masyarakat sipil di Beni.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More