Konsumsi Buruk Picu Gizi Ganda dan Penyakit Tidak Menular di Jakarta

- Kesenjangan kualitas konsumsi pangan antar kelompok pendapatan
- Keterbatasan lahan produksi pangan
- Ketimpangan akses ekonomi antar wilayah
Jakarta, IDN Times – Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebut, persoalan gizi ganda dan tingginya prevalensi penyakit tidak menular menjadi alarm dalam penyelenggaraan sistem pangan di Jakarta.
Berdasarkan hasil analisis situasi pangan, Pramono mengungkapkan, Jakarta masih menghadapi sejumlah permasalahan mendasar dalam sistem pangan. Hal tersebut disampaikan dalam pidato yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto, di rapat paripurna DPRD, Senin (2/2/2026).
“Ketimpangan akses terhadap pangan yang berdampak pada buruknya pola konsumsi sebagian masyarakat. Kondisi ini tercermin dari adanya masalah gizi ganda serta tingginya prevalensi penyakit tidak menular yang berkaitan dengan konsumsi pangan,” ujar Pramono.
1. Ada kesenjangan kualitas konsumsi pangan

Selain persoalan gizi dan kesehatan, Pramono juga menyoroti adanya kesenjangan kualitas konsumsi pangan antar kelompok pendapatan.
“Kesenjangan kualitas konsumsi pangan antartingkat pendapatan, yang tercermin dari indikator skor Pola Pangan Harapan (PPH) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2024 sebesar 91,31,” katanya.
2. Keterbatasan lahan produksi pangan
Permasalahan lain yang dihadapi Jakarta adalah keterbatasan lahan produksi pangan. Kondisi tersebut menyebabkan hampir seluruh kebutuhan pangan ibu kota bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Keterbatasan lahan produksi pangan menyebabkan hampir seluruh kebutuhan pangan Jakarta bergantung pada pasokan dari luar daerah, dengan tingkat ketergantungan mencapai 98 persen. Kondisi ini juga berimplikasi pada perlunya penjaminan keamanan pangan di Kota Jakarta,” jelasnya.
3. Ketimpangan akses ekonomi antar wilayah

Pramono juga menyinggung ketimpangan akses ekonomi yang yang ditunjukan perbedaan harga pangan antara wilayah daratan dan kepulauan, serta tingginya ketimpangan pengeluaran masyarakat dengan rasio gini Jakarta sebesar 0,441 pada Maret 2025. Di sisi lain, Jakarta juga menghadapi persoalan kehilangan dan sampah makanan.
“Terjadinya kehilangan dan sampah makanan (food loss dan food waste), seiring tingginya aktivitas hotel, restoran, kafetaria, dan sampah makanan rumah tangga. Di sisi lain, masih terdapat kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang mengalami kesulitan akses makanan, sehingga berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan,” kata Pramono.

















