WHO Kecam Serangan ke Rumah Sakit dan Tenaga Medis di Iran

- WHO mengecam serangan terhadap rumah sakit dan tenaga medis di Iran
- Perlindungan terhadap layanan kesehatan ditekankan oleh WHO
- Kelompok HAM sebut korban jiwa mencapai lebih dari 6 ribu orang, banyak demonstran yang terluka berobat di rumah demi hindari penangkapan
Jakarta, IDN Times - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa badan PBB tersebut telah mengonfirmasi serangan terhadap sebuah rumah sakit di Iran yang terjadi selama gelombang protes antipemerintah yang mengguncang negara tersebut.
Rumah Sakit Imam Khomeini di kota Ilam diserang pada awal Januari. Kekerasan dilaporkan terjadi di dalam dan di sekitar fasilitas tersebut setelah sejumlah demonstran yang terluka di bawa ke rumah sakit. Situasi ini menyebabkan layanan medis terganggu.
“Saya sangat prihatin dengan berbagai laporan mengenai tenaga kesehatan dan fasilitas medis di Iran yang terdampak oleh situasi tidak aman baru-baru ini, serta terhalang untuk memberikan layanan esensial kepada masyarakat yang membutuhkan perawatan,” tulis Tedros di X pada Kamis (29/1/2026).
1. WHO serukan perlindungan terhadap layanan kesehatan
WHO juga mengonfirmasi rusaknya sejumlah fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Iran dalam beberapa pekan terakhir, termasuk 10 pos darurat prarumah sakit, di mana lebih dari 50 paramedis terluka dan lebih dari 200 ambulans mengalami kerusakan.
“Gas air mata juga dilaporkan digunakan di Rumah Sakit Sina di Teheran,” kata Tedros, menyebut krisis baru-baru ini telah membebani sistem kesehatan.
Ia juga menyoroti laporan beberapa hari terakhir mengenai penyerangan dan penahanan tenaga medis saat sedang merawat pasien yang terluka. Pekan lalu, Hak Asasi Manusia Iran (IHR) menyebutkan sedikitnya lima dokter dan seorang relawan pertolongan pertama ditangkap oleh aparat keamanan.
“Saya menyerukan pembebasan setiap tenaga kesehatan yang ditahan. Tenaga kesehatan tidak seharusnya menghadapi intimidasi,” kata Tedros, seraya menyerukan perlindungan terhadap layanan kesehatan.
2. Kelompok HAM sebut korban jiwa mencapai lebih dari 6 ribu orang
Protes meletus di Iran pada 28 Desember akibat memburuknya kondisi ekonomi. Aksi ini kemudian berkembang menjadi gerakan massa yang menentang Republik Islam,, ditandai dengan demonstrasi jalanan besar-besaran selama beberapa hari pada awal Januari.
Belum diketahui pasti berapa jumlah korban dalam protes tersebut, mengingat pemadaman internet di Iran masih berlangsung dan sebagian besar organiasi media Internasional dilarang meliput di sana.
Pemerintah menyatakan lebih dari 3.100 orang tewas selama kerusuhan, dengan sebagian besar korban merupakan aparat keamanan atau warga yang diserang oleh perusuh. Jumlah ini jauh lebih rendah dari yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), sedikitnya 6.301 orang telah dikonfirmasi tewas, termasuk 5.925 pengunjuk rasa, 112 anak-anak, dan 214 orang yang berafiliasi dengan pemerintah. Kelompok itu juga tengah menyelidiki laporan mengenai 17.091 kematian lainnya.
3. Banyak demonstran yang terluka berobat di rumah demi hindari penangkapan
Sedikitnya 11 ribu pengunjuk rasa juga terluka parah, menurut HRANA. Namun, sebagian besar dari mereka menghindari perawatan di rumah sakit karena takut ditangkap. Hal ini menyebabkan mereka bergantung pada dokter, perawat, dan relawan yang bersedia memberikan perawatan secara diam-diam di rumah-rumah.
Dilansir dari BBC, tenaga kesehatan melaporkan bahwa aparat keamanan hadir di rumah sakit dan terus memantau catatan medis pasien untuk mengidentifikasi demonstran yang terluka. Seorang tenaga kesehatan di Teheran mengatakan, para dokter menghindari mencantumkan luka tembak dalam catatan medis karena pengawasan ketat dari aparat keamanan.

















