KPopers Sambut Baik Rencana Tambah Konser, tapi Minta Regulasi Diperkuat

- Pemerintah berencana menambah konser KPop untuk dorong pariwisata dan ekonomi kreatif, namun penggemar menilai pembenahan sistem perlindungan konsumen lebih penting sebelum jumlah konser diperbanyak.
- Kasus refund konser DAY6 menunjukkan masih banyak celah dalam industri konser Indonesia, terutama terkait standar penyelenggaraan dan jaminan hak penonton yang belum kuat.
- My Day Berserikat mengingatkan bahwa peningkatan jumlah konser tanpa regulasi yang jelas bisa memperbesar risiko kerugian bagi konsumen, sehingga perbaikan sistem harus jadi prioritas utama.
Jakarta, IDN Times - Rencana Presiden Prabowo Subianto memperbanyak konser KPop di Indonesia mendapat perhatian besar dari penggemar. Pemerintah melihat konser sebagai salah satu cara untuk mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sekaligus memenuhi antusiasme penggemar yang terus meningkat.
Namun, di balik euforia tersebut, sejumlah penggemar justru menyoroti persoalan mendasar yang selama ini terjadi dalam industri konser di Indonesia. Mereka menilai, peningkatan jumlah konser tidak boleh hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga harus dibarengi dengan perbaikan sistem yang melindungi konsumen.
Hal ini disampaikan My Day Berserikat, perwakilan konsumen konser DAY6 3rd World Tour Forever Young in Jakarta 2025, yang saat ini tengah memperjuangkan hak refund akibat perubahan venue.
1. Antusiasme pemerintah diapresiasi, tapi pembenahan dinilai lebih mendesak

My Day Berserikat mengakui langkah pemerintah menunjukkan adanya perhatian terhadap industri hiburan dan potensi pariwisata dari konser internasional. Namun, mereka menilai ada persoalan yang jauh lebih mendesak dibanding sekadar menambah jumlah konser.
“Soal rencana Presiden Prabowo, kami melihat antusiasme pemerintah mengembangkan pariwisata melalui penyelenggaraan konser. Namun, sebagai konsumen konser, ada hal yang menurut kami lebih mendesak sebelum jumlah konser diperbanyak, yaitu membenahi sistem dan kebijakan dalam industri konser, termasuk jaminan terhadap hak-hak konsumen,” ujar My Day Berserikat kepada IDN Times.
Mereka menegaskan pengalaman sebagai konsumen menunjukkan adanya ketimpangan antara pertumbuhan industri dan perlindungan terhadap penonton.
2. Pengalaman kasus DAY6 ungkap banyak celah dalam industri konser

Pengalaman mengawal kasus refund konser DAY6 menjadi salah satu dasar kritik mereka terhadap kondisi industri saat ini. Dalam kasus tersebut, terjadi perpindahan venue dari Jakarta International Stadium (JIS) ke GBK Madya yang berdampak pada hak konsumen, termasuk permintaan refund yang hingga kini masih diperjuangkan. Dari situ, mereka menemukan bahwa sistem penyelenggaraan konser di Indonesia belum memiliki standar yang kuat.
“Dari pengalaman mengawal kasus refund konser DAY6, kami menemukan bahwa ekosistem industri konser musik di Indonesia masih memiliki banyak celah yang berpotensi merugikan konsumen,” jelas mereka.
Masalah ini, menurut mereka, bukan kasus tunggal, melainkan potensi yang bisa terjadi di berbagai konser lainnya.
3. Penambahan konser tanpa regulasi berisiko memperbanyak masalah

My Day Berserikat mengingatkan rencana memperbanyak konser justru bisa menjadi bumerang, jika tidak disertai pembenahan regulasi. Alih-alih memberikan dampak positif, kondisi tersebut berpotensi memperluas risiko kerugian bagi konsumen.
“Memperbanyak konser tanpa memperbaiki pondasi regulasinya justru berisiko memperbanyak kasus serupa yang bisa dialami oleh konsumen konser lainnya,” tegas mereka.
Karena itu, mereka menilai perbaikan sistem harus menjadi prioritas utama sebelum ekspansi industri dilakukan secara besar-besaran.

















