Menko PMK: Operasi SAR Longsor Cisarua Dilakukan 24 Jam Non-Stop

- Kondisi tanah jenuh air memicu longsor besar di Cisarua
- Pemerintah tetapkan Bencana Darurat selama 14 hari
- Pemerintah kerahkan lima klaster untuk penanganan bencana
Jakarta, IDN Times — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pemerintah mengutamakan penyelamatan jiwa dalam penanganan bencana longsor yang melanda Kampung Pasirkuning dan Kampung Pasirkuda di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Hal tersebut disampaikan Menko PMK usai mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung lokasi bencana serta berdialog dengan para pengungsi Minggu (25/1/2026).
“Pemerintah menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya para korban di Cisarua akibat longsor dan curah hujan yang sangat tinggi. Yang kami utamakan adalah penyelamatan jiwa. Oleh karena itu, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) dilakukan 24 jam non-stop karena masih sekitar 80 warga yang dalam pencarian,” ujar Pratikno dalam keterangan, Senin (26/1/2026).
1. Kondisi tanah yang jenuh air memicu longsor besar

Bencana longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Bandung Barat sejak Jumat malam (23/1/2026). Kondisi tanah yang jenuh air memicu longsor besar pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, disertai aliran banjir bandang dari kawasan perbukitan.
Material longsor dan lumpur menerjang permukiman warga, menimbun rumah hingga merusak infrastruktur. Akses transportasi menuju wilayah terdampak longsor juga putus.
2. Pemerintah tetapkan Bencana Darurat selama 14 hari

Pemerintah daerah telah menetapkan Status Tanggap Darurat sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari guna memastikan penanganan dilakukan secara cepat, terpadu, dan terkoordinasi.
Selain fokus pada pencarian korban, pemerintah memastikan penanganan korban meninggal dilakukan secara optimal dan bermartabat. Proses identifikasi hingga penyerahan jenazah kepada keluarga terus dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku.
“Penanganan korban ini kami lakukan seoptimal mungkin, sebaik mungkin, mulai dari proses identifikasi hingga penyerahan jenazah kepada keluarga secara bermartabat,” kata Pratikno.
3. Pemerintah kerahkan lima klaster

Menko PMK menambahkan, perlindungan dan pelayanan bagi para pengungsi juga menjadi perhatian utama pemerintah. Dalam penanganan bencana ini, pemerintah mengerahkan lima klaster utama yang bekerja secara terkoordinasi di lapangan, yaitu klaster SAR, kesehatan, logistik, perlindungan dan pengungsian, dan pemulihan.
Klaster SAR yang dipimpin Basarnas bersama TNI, Polri, BNPB, dan BPBD mengerahkan lebih dari 250 personel serta alat berat untuk mempercepat proses pencarian. Korban yang berhasil dievakuasi dirujuk ke rumah sakit terdekat seperti RSUD Cililin dan RSUD Soreang.
Klaster Kesehatan menyediakan pos kesehatan lapangan dengan layanan 24 jam, ambulans siaga, mekanisme rujukan bagi korban kritis, serta layanan kesehatan jiwa dan trauma healing bagi para penyintas.
Sementara itu, Klaster Logistik memastikan ketersediaan bantuan sembako, makanan siap saji tiga kali sehari, selimut, serta tenda darurat bagi para pengungsi.
“Kami juga bertanya kepada pengungsi apakah telah makan pagi atau belum, bagaimana pelayanannya. Sembako telah disiapkan dan berbagai alat pendukung seperti selimut dan lain sebagainya juga telah disiapkan, ujar Pratikno.
Klaster Pengungsian dan Perlindungan melibatkan Kementerian Sosial, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten memberikan pendampingan kepada keluarga korban terdampak. Adapun Klaster Pemulihan disiagakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus mencegah bencana susulan.


















