Menko Djamari Resmikan 104 Hunian Tetap di Aceh Utara Jelang Idul Fitri

- Djamari Chaniago meresmikan 106 bangunan di Aceh Utara, termasuk 104 hunian tetap bagi korban banjir dan longsor, yang rampung dibangun satu pekan sebelum Idul Fitri.
- Hunian tipe 36 berukuran 6x6 meter ini dilengkapi perabot lengkap, jaringan listrik 900 VA, serta fasilitas ibadah dan sosial seperti masjid dan balai pertemuan.
- Kemenko Polkam juga menyerahkan mobil penjernih air, lima ekor sapi untuk tradisi Meugang, serta bantuan tambahan seperti mesin jahit bagi warga terdampak.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, meresmikan 106 bangunan di Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (14/3/2026), agar bisa dihuni warga korban banjir bandang dan tanah longsor. Sebanyak 104 bangunan di antaranya merupakan hunian tetap.
Kemudian terdapat satu masjid dan satu bangunan berupa balai pertemuan, yang dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas sosial. Semua bangunan itu berdiri di area kompleks hunian seluas 22.400 meter persegi.
Ini merupakan komitmen Djamari sejak banjir dan tanah longsor terjadi. Namun, semula Djamari menjanjikan hunian tetap itu sudah bisa dihuni warga sebelum Ramadan. Kenyataannya, bangunan hunian tetap bisa dihuni satu pekan sebelum Idul Fitri.
Djamari mengatakan pembangunan hunian tetap di Kabupaten Aceh Utara menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
"Kami patut bersyukur atas kelancaran pembangunan (hunian tetap) ini. Perjalanan hingga rumah-rumah ini berdiri tidak lepas dari pertolongan Tuhan Yang Maha Esa," ujar Djamari dalam keterangan pers, dikutip Minggu (15/3/2026).
Djamari pun mengajak warga menjaga dan memanfaatkan hunian tetap yang baru saja dibangun sebaik-baiknya.
1. Hunian tetap rampung dibangun dalam waktu 35 hari

Lebih lanjut, Djamari menjelaskan, pembangunan hunian tetap itu dalam kurun waktu 35 hari. Purnawirawan jenderal bintang empat itu menyebut kurun waktu itu tergolong cepat untuk pembangunan hunian tetap.
"Waktu 35 hari itu terhitung sejak bahan material debarkasi dari Pelabuhan Belawan hingga warga dapat segera kembali hidup layak, dan menata kehidupan mereka," kata dia.
Djamari juga meminta kepada warga agar hunian tetap dan fasilitas yang sudah dibangun agar dijaga, supaya tetap bersih dan nyaman. Dia menyebut hunian tetap itu dibangun dengan struktur bongkar pasang, sehingga memudahkan perawatannya.
"Maka, tinggal warga yang perlu menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan," tutur dia.
2. Hunian tetap yang dibangun merupakan rumah tipe 36

Kemenko Polkam menjelaskan hunian yang diberikan kepada masyarakat merupakan rumah tipe 36 dengan ukuran bangunan 6X6 meter. Biaya pembangunan hunian tetap di Kabupaten Aceh Utara juga diklaim cukup efisien.
"Setiap rumah dilengkapi ruang tengah, dua kamar tidur, serta satu kamar mandi, dan diserahkan dalam kondisi telah disediakan perabotan rumah tangga. Mulai dari sofa, meja tamu, televisi, rak TV, meja dan kursi makan, lemari dapur, dua tempat tidur, tabung gas hingga dua lemari pakaian," kata Djamari.
Selain itu, rumah warga korban banjir bandang dan tanah longsor itu turut dilengkapi pompa air, sumur hingga jaringan listrik 900 VA.
Fasilitas juga diberikan bagi bangunan yang merupakan fasilitas umum seperti sound system, karpet, dan inventaris Al-Qur'an. Kitab suci itu juga disediakan di masing-masing hunian tetap untuk menunjang kegiatan ibadah warga.
3. Kemenko Polkam juga serahkan satu unit mobil penjernih air

Djamari menyebut pihaknya turut menyiagakan satu unit mobil penjernih air yang dilengkapi mesin penyaring. Sehingga air yang sebelumnya tidak higienis dapat diproses menjadi layak pakai, bahkan airnya pun dapat diminum.
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Aceh Utara, Djamari juga menyerahkan lima ekor sapi kepada masyarakat untuk perayaan Meugang. Itu merupakan tradisi masyarakat Aceh yang dilakukan dengan memasak daging sapi atau kerbau. Kemudian, dagingnya disantap masyarakat menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadan, Idul Fitri atau Idul Adha.
Djamari sempat berbincang dengan warga yang menerima hunian tetap, salah satunya merupakan Ratna Idris. Sebab, secara khusus, ia turut diberikan bantuan berupa mesin jahit untuk melanjutkan usahanya sebagai penjahit. Mesin jahit miliknya hilang tersapu arus banjir.
"Saya berterima kasih kepada pemerintah yang telah membantu kami dengan rumah yang lengkap dengan perabotannya, termasuk mesin jahit untuk melanjutkan usaha saya," kata Ratna.


















