Israel Serang Pos Basij Iran di Teheran Berbekal Intelijen Warga

- Militer Israel melancarkan serangan drone berbasis AI ke pos Basij di Teheran dengan dukungan intelijen warga Iran yang menentang pemerintah.
- Serangan menewaskan beberapa anggota Basij, termasuk komandan Morteza Darbari, memaksa pasukan Iran mengubah taktik dan memindahkan pos pemeriksaan ke lokasi tersembunyi.
- Pemerintah Iran merespons dengan penangkapan massal terhadap ratusan warga, menuduh sebagian sebagai mata-mata, serta memperketat patroli dan pemeriksaan ponsel di kota besar.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel melancarkan serangkaian serangan drone yang menargetkan pos-pos pemeriksaan pasukan paramiliter Basij di Teheran, Iran. Serangan bertujuan untuk melemahkan aparat keamanan rezim Republik Islam yang sering digunakan untuk represi demonstran.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa operasi tersebut menyasar blokade jalan yang digunakan untuk menekan protes warga. Eskalasi ini terjadi seiring berlanjutnya perang antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran selama lebih dari dua pekan terakhir.
1. Israel mengandalkan drone AI dan intelijen warga

Dalam operasi ini, Israel menggunakan metode baru berupa kawanan drone berbasis kecerdasan buatan (AI). Pesawat induk meluncurkan banyak drone mikro dari ketinggian untuk menyerang target berdasarkan basis data yang ditenagai oleh AI.
Intelijen untuk serangan ini sebagian diperoleh dari warga Iran sendiri yang menentang pemerintah. Mereka merekam posisi pos pemeriksaan Basij menggunakan ponsel dan mengirimkannya melalui media sosial kepada pihak luar.
Data dari Armed Conflict Location & Event Data Project mencatat setidaknya ada 18 serangan Israel terhadap pos Basij pada hari Rabu (11/3/2026) saja. Sebagian besar serangan terjadi di berbagai distrik di wilayah ibu kota Teheran.
IDF mengeklaim serangan ini sebagai upaya menghancurkan kekuatan rezim yang kerap menggunakan kekerasan. Mereka menuduh Basij bertanggung jawab atas penangkapan massal dan penindasan demonstran belakangan ini.
“Selama beberapa hari terakhir, Angkatan Udara Israel, bertindak berdasarkan intelijen, telah menargetkan penghalang jalan dan operasi Basij,” kata militer Israel, dilansir CNA pada Sabtu (14/3/2026).
2. Komandan Basij tewas akibat serangan Israel

Serangan udara berkelanjutan dilaporkan telah menewaskan dan melukai sejumlah anggota Basij sejak Rabu malam. Salah satu korban tewas adalah Morteza Darbari, seorang komandan pasukan lokal yang bermarkas di sebuah masjid di Teheran.
Darbari tewas saat memimpin pos pemeriksaan bersenjata di Distrik 15 yang terletak di wilayah tenggara ibu kota. Selain itu, anggota lainnya bernama Mohammad-Hossein Kouchaki juga dilaporkan tewas akibat serangan drone di timur laut Teheran.
Lokasi tewasnya Kouchaki berdekatan dengan depot bahan bakar utama yang dibom beberapa hari sebelumnya. Institut Studi Perang (ISW) melaporkan bahwa setidaknya sembilan dari 23 pangkalan regional Basij di Teheran telah ditargetkan per 6 Maret.
Menghadapi ancaman dari udara, pasukan keamanan Iran terpaksa menyesuaikan taktik mereka di lapangan. Beberapa pos pemeriksaan dilaporkan dipindahkan ke bawah jembatan atau terowongan jalan raya untuk menghindari deteksi drone musuh.
3. Gelombang penangkapan massal landa Iran

Merespons rentetan serangan, otoritas Iran meluncurkan gelombang penangkapan massal. Ratusan orang telah ditahan di berbagai provinsi selama dua pekan terakhir dengan beragam tuduhan, termasuk upaya mengganggu keamanan publik.
Kementerian Intelijen Iran memperingatkan bahwa tindakan merekam atau memotret lokasi serangan dapat dikategorikan sebagai tindakan spionase. Tercatat setidaknya 30 orang telah ditangkap karena dituduh menjadi mata-mata untuk AS dan Israel.
Polisi juga meningkatkan intensitas patroli dan memperketat pemeriksaan terhadap warga sipil di sejumlah jalan utama. Penduduk di Teheran dan Isfahan melaporkan ponsel mereka diperiksa secara paksa oleh petugas yang mencari bukti foto maupun video.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perlawanan warga Iran yang menentang rezim. Ia menegaskan bahwa operasi militer negaranya akan membantu menciptakan ruang aman bagi rakyat untuk kembali turun ke jalan.

















