Penginapan untuk Pemegang Tiket di Terminal Pulogebang Laris Selama Mudik

- Penginapan khusus pemegang tiket di Terminal Pulogebang selalu penuh selama arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 H karena tingginya mobilitas pemudik.
- Tersedia 25 kamar dengan tarif Rp15.000 per malam, dipisah antara laki-laki dan perempuan, serta fasilitas kamar mandi berbayar Rp5.000.
- Fasilitas penginapan mencakup kasur, CCTV, AC sentral, dan sistem pembayaran masih manual menggunakan uang tunai dengan pencatatan durasi menginap secara terpusat.
Jakarta, IDN Times – Penginapan khusus pemegang tiket di Terminal Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, menjadi salah satu fasilitas yang paling diminati selama arus mudik hingga arus balik libur Idul Fitri 1447 H. Tingginya mobilitas pemudik membuat penginapan ini hampir selalu terisi penuh, bahkan di luar periode liburan.
Komandan Regu Operasional Terminal Pulogebang, Daryanto, menyebutkan bahwa tingkat hunian penginapan tersebut terus tinggi sejak awal arus mudik.
1. Penginapan selalu penuh sejak awal arus mudik

Daryanto menjelaskan, penginapan tersebut memang menjadi solusi bagi para pemudik yang membutuhkan tempat istirahat sementara sebelum melanjutkan perjalanan.
“Sejak awal arus mudik sampai saat ini, penginapan khusus pemegang tiket di sini selalu full. Bahkan, di luar liburan,” kata Daryanto di Terminal Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, seperti dilansir ANTARA, Sabtu (28/3/2026).
2. Tersedia 25 kamar, laki-laki dan perempuan dipisah

Sebanyak 25 kamar tersebut terdiri dari 17 kamar untuk laki-laki dan 8 kamar untuk perempuan. Dengan tarif Rp15.000 per sekali datang dan durasi maksimal 24 jam, fasilitas ini dinilai sangat membantu pemilir atau pemudik.
“Semuanya ada 25 kamar di dua gedung terpisah. Untuk suami istri juga dipisah dan anak kecil ikut dengan salah satu orang tuanya,” ujar Daryanto.
“Untuk kamar mandi, hanya berbayar Rp5.000,” lanjut Daryanto.
3. Fasilitas lengkap, pembayaran masih manual

Petugas terminal sekaligus penjaga penginapan, Fachrul, menyebutkan bahwa fasilitas yang tersedia meliputi kasur dipan, kamera pengawas (CCTV), pendingin udara (AC) sentral, serta kamar mandi yang berada di luar kamar.
Sementara itu, petugas lainnya, Suheri, menambahkan bahwa sistem pembayaran kamar masih dilakukan secara tunai.
“Mereka cukup datang dengan membawa tiket dan KTP, kemudian bayar. Untuk durasi menginapnya, tercatat di data sentral, sehingga mempermudah pemilir yang hendak mengantre untuk menginap,” kata Suheri.
Sebagian besar pemilir diketahui datang pada malam hari dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sumatra. Mereka biasanya memanfaatkan penginapan untuk beristirahat atau sekadar transit sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.


















