Iran Serang Pangkalan Udara Arab Saudi, 12 Tentara AS Terluka

- Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, melukai 12 tentara AS dan merusak dua pesawat KC-135.
- Pentagon menambah ribuan pasukan ke Timur Tengah serta memberi tenggat hingga 6 April bagi Iran untuk menyetujui gencatan senjata sebelum ancaman serangan lanjutan.
- Arab Saudi mendesak AS memperkuat serangan terhadap Iran, sementara ketegangan meningkat dengan potensi keterlibatan Houthi dan ancaman terhadap jalur minyak Laut Merah.
Jakarta, IDN Times - Serangan rudal dan drone Iran kembali menghantam Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada Jumat (27/3/2026). Insiden ini mengakibatkan 12 tentara Amerika Serikat (AS) terluka, dengan dua di antaranya menderita luka parah.
Selain korban luka, serangan Iran turut merusak setidaknya dua pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 milik Angkatan Udara AS. Fasilitas pangkalan militer yang sama sebelumnya juga sempat menjadi target gempuran pada 1 Maret lalu.
1. Ratusan tentara AS terluka selama perang dengan Iran

Komando Pusat AS melaporkan bahwa lebih dari 300 personelnya telah terluka sejak perang di Timur Tengah ini dimulai bulan lalu. Sebagian besar dari korban tersebut, yakni sekitar 225 tentara, didiagnosis menderita cedera otak traumatis.
Sebanyak 13 anggota layanan militer AS tewas selama pelaksanaan Operasi Epic Fury. Tujuh orang prajurit tewas akibat serangan Iran, sedangkan enam personel lainnya gugur dalam sebuah insiden kecelakaan pesawat.
Salah satu korban jiwa adalah Sersan Benjamin N. Pennington yang baru berusia 26 tahun. Ia menghembuskan napas terakhirnya beberapa hari setelah menderita luka parah dalam serangan awal Maret di pangkalan Saudi tersebut. Saat ini, ada 10 tentara yang menderita cedera serius dan belum bisa kembali ke medan pertempuran.
2. Pentagon kirim ribuan personel tambahan ke Timur Tengah

Militer AS tengah bersiap mengirimkan 1.000 tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah. Pentagon juga sedang memproses pengerahan dua unit Marinir yang akan membawa sekitar 5 ribu personel tempur baru.
Pasukan gabungan AS dan Israel sejauh ini telah sukses membombardir lebih dari 16 ribu target strategis di seluruh wilayah Iran. Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa armada udaranya masih memiliki sisa 3.554 target penting yang harus segera dihancurkan.
"Kami akan selalu bersiap memberi presiden pilihan maksimal. Kami juga memastikan peluang penyesuaian untuk setiap kemungkinan ancaman darurat yang muncul," tutur Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dilansir The New Arab.
Washington kini menetapkan tenggat waktu hingga 6 April bagi Teheran untuk segera menyepakati proposal gencatan senjata. Jika kesepakatan damai gagal tercapai, AS mengancam akan menyerang jaringan infrastruktur energi Iran.
3. Arab Saudi desak AS tingkatkan serangan ke Iran

Di tengah negosiasi yang alot, Arab Saudi dilaporkan mendesak AS untuk meningkatkan serangannya terhadap rezim Iran. Seorang sumber intelijen mengonfirmasi bahwa otoritas Riyadh tidak setuju jika kampanye militer dihentikan lebih awal.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman kabarnya menganggap konflik ini sebagai peluang bersejarah untuk membentuk ulang lanskap politik Timur Tengah.
"Jika Iran terlibat serius, masih ada jalan negosiasi untuk menahan eskalasi konflik berdarah ini. Namun jika menolak dan terus menyerang, maka ambang batas untuk tindakan Saudi akan terlampaui," kata analis geopolitik Mohammed Alhamed, dilansir The Guardian.
Keterlibatan militer Saudi diperkirakan akan memicu serbuan balasan Iran ke jalur pipa minyak Laut Merah. Eskalasi juga berisiko menyeret kelompok Houthi di Yaman untuk ikut meluncurkan rudal mereka ke arena perang.

















