Peran KRI Ki Hajar Dewantara-364 dalam Sejarah Perjalanan TNI AL

- KRI Ki Hajar Dewantara-364 merupakan kapal perusak kawal berpeluru kendali, bagian armada pemukul TNI AL sekaligus kapal pelatihan bagi Taruna AAL dan perwira baru.
- Dibuat Galangan Uljanic Yugoslavia pada 1981, kapal berbobot 1.850 ton ini membawa rudal Exocet MM-38, Mistral, torpedo, bom laut, serta meriam 57 mm dan 20 mm.
- Kapal yang dinamai pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara ini pernah menghadang Lusitanio Expresso di perairan Timor Timur pada 1992; persenjataan antiper-mukaannya dinilai kuat, tetapi pertahanan udaranya terbatas.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto akan menjual bekas KRI Ki Hajar Dewantara-364, dan masih menunggu persetujuan anggota DPR RI.
KRI Ki Hajar Dewantara-364 adalah kapal perusak kawal berpeluru kendali. Kapal ini digunakan untuk pelatihan bagi Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL).
KRI Ki Hajar Dewantara salah satu bagian dari armada pemukul. Kapal ini dilengkapi kemampuan jelajah dan persenjataan yang unggul, untuk pengawalan dan perlindungan kawasan perairan Republik Indonesia.
1. Spesifikasi KRI Ki Hajar Dewantara-364

Ilustrasi KRI Ki Hajar Dewantara-364 ketika sedang bersandar. (Dokumentasi TNI AL) Dilansir dari museumsoesilosoedarman.com, kapal ini dibuat Galangan Kapal Uljanic Yugoslavia pada 1981, dengan bobot 1.850 ton. Kapal ini dipersenjatai Rudal Exocet MM 38, Rudal Mistral, Torpedo, Bom Laut, Meriam Kaliber 57 mm, dan Meriam Penangkis Serangan Udara Kaliber 20 mm.
Peluru Kendali EXOCET MM-38 di Kapal Perang ini mampu menjangkau sasaran sejauh 180 km.
KRI Ki Hajar Dewantara bagian dari armada pemukul yang disertai kemampuan jelajah dan persenjataan yang mumpuni, bagi pengawalan maupun perlindungan kawasan perairan Republik Indonesia.

Infografis eks KRI Ki Hajar Dewantara yang akan dijual pemerintah RI. (By AI/Gemini/Rochmanudin) 2. Penamaan KRI Ki Hajar Dewantara-364

Penyambutan kedatangan KRI Canopus-936 di Dermaga Kolinamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/5/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) KRI Ki Hajar Dewantara diambil dari nama seorang pahlawan nasional yakni Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Selain sebagai kapal pemukul, KRI Ki Hajar Dewantara-364 juga memikul tugas yang tak kalah penting, yakni mempersiapkan perwira TNI AL yang siap tempur.
Sejalan dengan konsep pelatihan atau pengajaran atau pendidikan, di mana fungsi utamanya ialah sebagai tempat mendidik atau mencetak generasi-generasi unggul di dalamnya.
Sebagaimana diketahui, Ki Hajar Dewantara atau aslinya bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (1889-1959) berperan sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Ia juga pendiri Perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan ruang pendidikan bagi para pribumi jelata.
Dengan kapal KRI Ki Hajar Dewantara-364, perwira TNI AL yang baru lulus memulai pengabdian sebagai TNI AL.
3. Sejarah perjalanan KRI Ki Hajar Dewantara-364
Pada 1992, kapal perang ini mengadang Kapal Lusitanio Expresso yang memasuki wilayah Perairan Timor Timur untuk kegiatan Provokasi. Panglima Kowilhan-I, Letjen Soesilo Soedarman memantau Kapal KRI Ki Hajar Dewantara-364, saat sandar di Pelabuhan Belawan, Medan, 1983.
Merujuk Buku karya Captain John Moore, Jane’s Fighting Ships (1983-1984), buku ensiklopedia militer global yang mencatat seluruh kapal perang aktif di dunia berkisar pada 1983 hingga 1984, KRI Ki Hajar Dewantara mempunyai satu sister ship, yaitu Ibn Khaldoun yang dioperasikan AL Irak.
Hanya saja, bila ditilik dari jenis senjatanya, kapal ini tampak lemah dalam anti-serangan udara, di mana kapal ini hanya dipersenjatai kanon 20 mm manual di depan anjungan kapal, serta meriam 57 mm. Tetapi sebagai kapal pemukul antipermukaan, bermodalkan rudal Exocet dan torpedo, segala jenis kapal musuh dapat ditaklukkan oleh kapal ini.


















