Ragam Pernyataan Anies Baswedan Saat Debat Capres Terakhir

Jakarta, IDN Times - Capres Nomor Urut 1, Anies Baswedan, disambut meriah saat menyebut soal bantuan sosial (bansos). Dalam pelaksanaan debat terakhir yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Minggu (4/2/2024), Anies juga menyebutkan beberapa tanggapan menarik tentang ketimpangan.
Debat kelima tersebut mengangkat tema soal kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia (SDM), dan inklusi.
Anies Baswedan memasuki panggung ditemani wakilnya Muhaimin iskandar mengenakan jas hitam dan kemeja putih. Anies tampak mengenakan dasi berwarna biru, sedangkan Cak Imin berwarna merah.
Anies bahkan membuka pemaparan visi misi pada debat terakhir Pilpres 2024 dengan bahasa isyarat.
Berikut fakta-fakta Anies saat debat kelima!
1. Gestur sebelum pidato pembuka

Berbeda dengan debat sebelumnya, kali ini Anies Baswedan mendapat giliran terakhir dalam memberikan pemaparan visi-misi.
Uniknya, Anies sebelum memaparkan visi-misi, melakukan sebuah gestur menunjuk ke jam tangan dengan tangan kanan yang kemudian menggunakan jari membuat lingkaran dari depan ke belakang.
Gestur tersebut merupakan bahasa isyarat yang berarti 'waktunya berubah.' Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk inklusivitas masyarakat tuna rungu (tuli).
2. Sindiran bansos saat segmen 1

Anies membuka paparan dengan mengatakan, masalah terbesar masyarakat Indonesia adalah ketimpangan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan.
Ia memberikan contoh perbandingan ketimpangan seperti Jakarta-luar Jakarta, Jawa-luar Jawa, kaya-miskin, desa-kota, pendidikan umum-pendidikan agama, serta pendidikan kejuruan-pendidikan teknis.
“Ini semua adalah ketimpangan yang hari ini menjadi fenomena membahayakan bagi republik ini, bahkan di bidang perekonomian segelintir orang menguasai sebagian besar perekonomian kita,” ujar Anies.
Anies kemudian menggunakan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) sebagai contoh bahwa Indonesia didirikan oleh kaum-kaum privilege.
Namun, ditegaskan Anies, 60-an anggota privilege turut ikut membangun Indonesia hanya untuk kepentingan semua masyarakat bukan individu.
Kemudian, Anies menyebutkan masalah-masalah Indonesia, yaitu 45 juta orang belum kerja layak, lebih dari 70 juta orang tidak punya jaminan sosial, kemampuan tinggi tanpa kesempatan karena jauh dari pendidikan kota, kesehatan mental, serta kekerasan seksual dengan korban lebih dari 15 juta orang.
“Ini problem-problem yang tidak menjadi kepedulian segelintir elite ini adalah kepedulian rakyat kebanyakan,” ujar Anies.
Setelah itu, Anies menyatakan ingin mencapai program untuk hidup sehat dengan pertolongan cepat jika sakit, tumbuh cerdas dengan biaya terjangkau, keluarga sejahtera karena upahnya layak, dan pemberian bansos sesuai kebutuhannya.
“Bansos plus, bukan memberikan bansos untuk kepentingan yang memberi tapi untuk kepentingan yang diberi,” sebut Anies.
Anies juga menambahkan keinginan pencapaian warga negara yang bangga karena budaya dan etika yang terjaga tinggi.
“Karena itu misi kami tegas mewujudkan bangsa yang sehat yang cerdas yang sejahtera, berbudaya, dan bersatu,” ujar Anies.
3. Anies menggunakan bahasa daerah

Jelang waktu paparan visi-misi tersebut berakhir, Anies menyampaikan tiga sebutan dengan ragam bahasa nusantara.
"Kita menyaksikan begitu banyak orang punya prinsip sopo wani rekoso, bakal gayuh mulyo, (berarti) siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam usahanya pasti meraih kemuliaan. Tapi bila kesempatannya ada, bila kesempatannya tidak ada menghasilkan frustrasi,"
Selain bahasa Jawa, Anies pun memberikan sebutan dari bahasa Sunda.
"Dan kami ketika menjalankan amanat, maka kami akan memegang prinsip ngadeg sacekna nila saplasna, (berarti) konsistensi ucapan dan perbuatan menjunjung kejujuran dan kearifan," ucap Anies.
Anies juga menggunakan kata dari bahasa Ambon, katong yang berarti kita.
"Katong bergerak untuk perubahan, untuk seluruh rakyat Indonesia di mana pun berada," tambahnya.
4. Anies bicara tentang kesehatan, teknologi informasi, dan kebebasan berbudaya

Segmen 2 debat dimulai dengan subtema kesehatan soal strategi paslon untuk memprioritaskan anggaran kesehatan dan program promotif preventif sehingga tidak lagi berorientasi kuratif.
Anies setuju pernyataan Ganjar dengan menyatakan perlu keseimbangan antara promotif, preventif, dan kuratif. Ia kemudian memberikan ragam contoh pembangunan di Jakarta seperti trotoar yang membantu dalam pola hidup sehat.
Anies menambahkan, unsurnya adalah lintas sektoral agar dana tidak hanya pada Dinas Kesehatan, tetapi semua bidang yang terkait dengan preventif promotif.
Setelah itu, Anies mengawali subtema teknologi informasi dengan menjawab pertanyaan langkah strategis paslon membangun kedaulatan manufaktur telekomunikasi dan teknologi informasi di Indonesia menghindari ancaman impor ponsel yang lebih mahal dibanding membangun pabrik di negara.
Anies menyatakan tiga gagasan, yaitu peningkatan kualitas manusia dan inovasi di sektor teknologi informasi dengan cara pairing atau mendatangkan pakar, memprioritaskan investasi yang masuk dalam bentuk padat karya dengan dukungan reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi agar membuka lapangan kerja, serta akses kecepatan dan keamanan agar infrastruktur siap untuk mengundang investasi.
Anies juga menambahkan perlindungan hak intelektual terkait industri manufaktur tidak kalah penting.
“Kami memandang investasi padat modal yang seperti ini, padat karya akan memungkinkan Indonesia untuk lompat lebih cepat,” ujar Anies.
Menjawab tanggapan capres lainnya, Anies menyatakan, gagasannya saat mencapai kegiatan praktis akan menggunakan pendekatan kolaboratif dengan negara sebagai regulator yang memberikan ekosistem yang sehat.
“Bukan negara yang membangun tapi memberikan pada BUMN atau swasta dan yang sudah bergerak di situ siapkan infrastrukturnya, beri target waktunya, lalu eksekusi tunggu peresmiannya,” ujar Anies.
Memasuki subtema kebudayaan dengan pertanyaan pandangan dan sikap paslon terhadap komersialisasi budaya dan proses destruktif terhadap tumbuhnya kebudayaan yang responsif.
Anies menyatakan, budaya bukan satu sektor, melainkan tujuan seluruh sektor pembangunan adalah kebudayaan. Hal itu disampaikan saat dia menanggapi jawaban Prabowo.
Oleh karena itu, pemerintah harus menciptakan ekosistem yang sehat sehingga para budayawan dapat berekspresi. Anies menambahkan, budaya perlu dikembangkan secara sinambung.
“Karena itu kami melihat, perlu dibentuk dan kami berencana Kementerian Kebudayaan yang nantinya akan menjadi penyalur sumber daya dari negara untuk diberikan kepada kalangan budayawan agar mereka tumbuh berkembang membangun karya-karya yang luar biasa di Indonesia.”
5. Bicara soal pendidikan, penyandang difabel, dan pekerja migran

Segmen 3 dimulai dengan Anies menyatakan pendidik sebagai kunci pencerdas bangsa. Namun, menurut dia, ada masalah seperti puluhan ribu guru honorer belum diangkat jadi P3K, 1,6 juta guru tanpa sertifikasi, dan masalah biaya administrasi.
Anies memberikan beberapa program untuk mencapai kesejahteraan untuk guru dan dosen yaitu mempercepat sertifikasi guru, mengangkat 700 ribu guru honorer menjadi guru P3K, beasiswa untuk anak guru, dosen, dan pihak pendidikan serta penghargaan dan tunjangan bagi dosen dan peneliti berbasis kinerja. Adapun pengurangan beban administrasi untuk dosen yang meneliti untuk pengabdian masyarakat.
Prabowo dan Ganjar pun memberikan tanggapan yang menyetujui jawaban Anies dengan program yang selaras ingin menyejahterakan pihak pendidikan.
Memasuki subtema kesejahteraan sosial dan inklusi, Anies menanggapi jawaban Prabowo terkait penyandang difabel dengan menyetujui dan menambahkan.
Ia mengatakan, perlunya data detail penyandang difabel dan pentingnya persepsi membantu penyandang sebagai hak asasi bukan charity. Anies menambahkan, keperluan strategi kerja sama untuk pihak dinas dan dasawisma PKK setiap wilayah diperlukan untuk mencatat populasi penyandang difabel sehingga anggaran dapat disiapkan sesuai data.
Soal pekerja migran, Anies menanggapi Ganjar dengan menyebutkan kepentingan dari melibatkan aktivis pekerja migran karena lebih mengerti masalah pekerja migran secara dalam.
6. Segmen 4 bansos tanpa pamrih" dan perempuan

Pada segmen 4, Ganjar mengajukan pertanyaan kepada Anies soal bansos agar tidak ada saling klaim, bisa tepat sasaran, dan tidak menimbulkan kecemburuan. Selaras dengan segmen satu, Anies menyebutkan Bansos adalah bantuan untuk penerima.
“Pertama, kita harus menyadari bahwa yang disebut sebagai bansos adalah bantuan untuk si penerima bukan bantuan untuk si pemberi, karenanya dia diberikan sesuai dengan kebutuhan si penerima. Kalau penerimanya membutuhkan bulan ini, ya, diberi bulan ini. Kalau dibutuhkan 3 bulan lagi, ya, 3 bulan lagi, tidak usah dirapel semuanya, dijadikan sebagai sesuai kebutuhan itu lah yang disebut sebagai bansos tanpa pamrih,” ujar Anies.
Anies menambahkan, bansos harus tepat sasaran karena dilalui pendataan yang baik dengan informasi yang akurat. Selebihnya, mekanisme pemberiannya harus melalui jalur birokrasi.
“Mekanisme pemberiannya melalui jalur birokrasi bukan dibagikan di pinggir jalan tapi dibagikan langsung di lokasi menggunakan jalur birokrasi,” kata Anies.
Menjawab poin ketiga dari pertanyaan Ganjar, Anies menyebutkan, yang miskin harus termasuk. Oleh karena itu, ia menyusun bansos plus yang memberikan pelatihan untuk hidup mandiri dan sejahtera.
Anies mengatakan, opsi cash transfer setelah tanggapan Ganjar. Hal itu karena menurutnya dapat mengurangi potensi korupsi dari pengadaan barang. Dalam hal menjaga keamanan, menurut Anies data dapat dicocokkan dengan kepala-kepala daerah.
Memasuki subtema selanjutnya, Anies menanyakan soal perlindungan dan pemberdayaan perempuan kepada Prabowo.
Mendengar jawaban Prabowo, Anies memberikan tanggapan bahwa capres nomor urut 2 tersebut belum menjawab pertanyaannya.
Oleh sebab itu, Anies menegaskan tiga poin pandangannya terkait isu pemberdayaan perempuan yaitu. Pertama, perlindungan karena data kekerasan pada perempuan yang tercatat dan terlapor mencapai 3,2 juta kasus pada 8 tahun terakhir. Kedua, kesetaraan dengan diadakannya daycare di tempat kerja sehingga ibu dapat membawa anaknya bekerja. Ketiga, kesejahteraan dengan mempunyai upah setara dengan laki - laki.
7. Sampaikan soal biaya UKT dan beasiswa sains

Menanggapi jawaban Ganjar terkait harga UKT, Anies menambahkan, pendidikan adalah supplier pembentukan kelas menengah Indonesia.
“Kalau cara pandangnya begitu, maka biaya pendidikan tinggi ada dua penyediaanya satu orangtua satu negara. Nah unsur negara harus lebih besar, negara ambil ahli,” ujar Anies.
Selebihnya, menurut Anies biaya tersebut jangan dibebankan ke universitas agar dosen sejahtera dalam pekerjaannya. Anies menganggap ini sebagai investasi.
“Nanti, negara itu dapatnya pendapatan dari mana, ketika mereka menjadi kelas menengah mereka bekerja, mereka memberikan pajak bagi negara tapi bukan pendapatan ketika mereka sedang sekolah jadi negara menciptakan universitas sebagai eskalator sosial ekonomi,” sebut Anies.
Menjawab pertanyaan Prabowo, Anies menyatakan, setuju untuk pengembangan kompetensi, tetapi harus sesuai data. Prabowo menanyakan tentang solusi beasiswa untuk 10 ribu anak negeri belajar kedokteran, sains teknologi, dan engineering mathematics, karena Indonesia yang kurang tenang dokter.
Selain harus sesuai data, Anies juga memberikan alternatif untuk mengundang profesor dari luar negeri untuk ke Indonesia jika dibutuhkan.
“Jadi ada unsur pentingnya, ada unsur urgensinya kita kerjakan mana yang dapat dua-duanya yang urgen dan yang penting supaya hasilnya bisa langsung kita manfaatkan untuk Indonesia,” ujar Anies.
Anies mengingatkan untuk tidak melupakan aspek kuratif, yaitu soft-infrastructure (tenaga medis) dan hard infrastructure (rumah sakit dan puskesmas).
Ia pun menegaskan, promotif dan preventif atau mengobati dan mencegah mempunyai kepentingan yang sama.
8. Kata-kata penutup Anies

Anies menyampaikan pernyataan penutup debat dengan menonjolkan perubahan untuk meningkatkan kesetaraan dan menurunkan ketimpangan sebagai program pasangan Anies-Muhaimin.
Dia mengatakan, selama satu tahun lebih berkeliling Indonesia, berjumpa dengan banyak rakyat, disebutkannya bahwa mereka datang bukan mengharap bayaran tetapi datang membawa harapan.
"Mereka menginginkan ada perubahan, kondisi hidup yang lebih baik, bisa lebih makmur,” ujar Anies.
Kemudian, Anies juga menegaskan soal cerdas, sejahtera, sehat, setara dengan kesempatan untuk semua masyarakat tanpa diskriminasi.
“Merah Putih di atas semuanya. Penghormatan kepada kebinekaan, penghormatan kepada persatuan akan mengantarkan kita, yang kita ikhtiarkan bersama-sama, menjadi Indonesia yang cerdas, sejahtera, sehat. Kesetaraan, kesempatan bagi semua, itulah yang kami akan bawa. Setara bagi siapa? Laki-perempuan. Kaya miskin, kota desa. Mereka yang berpendidikan umum, madrasah, pesantren, agama apapun, suku apapun,” ucap Anies.
Sebelum salam, Anies menutup dengan menggunakan kata katong sama seperti saat memaparkan visi-misi.
“Negara yang membereskan soal ketidakadilan. Membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar. Menguatkan yang lemah tanpa melemahkan yang kuat. Mari katong lakukan perubahan," ucapnya.
Baca berita terbaru terkait Pemilu 2024, Pilpres 2024, Pilkada 2024, Pileg 2024 di Gen Z Memilih IDN Times. Jangan lupa sampaikan pertanyaanmu di kanal Tanya Jawab, ada hadiah uang tunai tiap bulan untuk 10 pemenang.



















