Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tradisi Pemakaman Tebing Kete Kesu Toraja Bertahan di Tengah Modernisasi

Tradisi Pemakaman Tebing Kete Kesu Toraja Bertahan di Tengah Modernisasi
Kubur batu, Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kete Kesu di Toraja Utara tetap mempertahankan tradisi pemakaman leluhur berbentuk vertikal untuk efisiensi lahan dan menjaga ikatan kekerabatan lintas generasi di tengah arus modernisasi.
  • Makam keluarga dibuat menyerupai rumah adat dengan kapasitas puluhan jenazah, memanfaatkan tebing dan gua sebagai lokasi pemakaman sekaligus menjaga keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan hidup masyarakat.
  • Pelestarian budaya dilakukan dengan melibatkan generasi muda dalam musyawarah adat serta upacara keluarga agar nilai-nilai leluhur tetap hidup seiring perkembangan zaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Sulawesi Selatan, IDN Times - Di tengah berkembangnya pariwisata dan modernisasi di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, kawasan adat Kete Kesu masih mempertahankan tradisi pemakaman leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Salah satu yang tetap dijaga ialah konsep pemakaman keluarga berbentuk vertikal untuk menghemat lahan, sekaligus mempertahankan ikatan kekerabatan dalam satu rumpun keluarga.

Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo, mengatakan masyarakat Toraja mulai menyesuaikan sistem pemakaman sejak pengaruh Islam masuk Toraja.

Menurut Layuk, masyarakat Toraja kemudian mulai membangun makam keluarga bertingkat untuk menghemat penggunaan lahan. Sistem itu tetap mempertahankan prinsip kekerabatan, karena satu makam bisa digunakan banyak anggota keluarga lintas generasi.

“Kami sudah mulai membangun makam. Di mana satu makam, kami bisa sampai 60-70 jenazah bisa masuk. Sehingga kita tetap pada prinsip irit tanah dan kekerabatan keluarga itu lengket,” kata Layuk saat ditemui di Kete Kesu, Kamis, 22 Mei 2026.

Kete Kesu adalah desa adat Toraja yang terletak sekitar 4-5 kilometer dari Rantepao. Kawasan ini terkenal sebagai pusat warisan budaya Toraja dengan rumah adat Tongkonan yang masih asli dan situs pemakaman tebing kuno.

1. Manfaatkan lahan sesuai kebutuhan masyarakat

Tradisi Pemakaman Tebing Kete Kesu Bertahan di Tengah Modernisasi
Kubur batu, Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Layuk menjelaskan bentuk makam dibuat menyerupai rumah adat dengan susunan vertikal. Selain menjaga tradisi keluarga, konsep itu juga bertujuan agar lahan tetap bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup masyarakat.

“Nah, makanya kita buat kayak rumah adat, kita buat sempit, sehingga tetap makamnya itu banyak, tidak banyak tanah yang kita pakai. Supaya kami bisa hidup membuat sawah, kebun, ladang, dan tempat lahan untuk tanam bambu,” katanya.

Layuk menyebut bambu memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Toraja, mulai dari bahan bangunan hingga kebutuhan adat.

Di kawasan Kete Kesu sendiri, jumlah jenazah yang dimakamkan diperkirakan telah mencapai puluhan ribu. Sebab, kawasan tersebut sebagai salah satu permukiman adat tertua di Toraja.

“Sudah puluhan ribu, karena sejak Toraja ini dibuat, karena ini rumah adat pertama di Toraja,” ujar Layuk.

2. Menelisik pemakaman di dalam gua

Kubur batu, Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Kubur batu, Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Selain makam batu dan gua alam, masyarakat juga membangun makam keluarga baru dengan kapasitas lebih besar. Hal itu dilakukan karena kompleks pemakaman lama mulai penuh.

“Kalau sudah penuh kita lihat lagi. Kita dirikan bentuk yang sama, tetapi bisa menampung minimal 20 jenazah. Supaya jangan lahan itu habis. Beda dengan kita yang di kota, satu lubang satu jenazah,” kata Layuk.

Saat IDN Times berkunjung terlihat tebing menjulang dengan sejumlah makam yang ada di dinding-dinding tebing, meski ada yang masih berpeti, tak sedikit yang tersisa tulang belulang. Tengkorak hingga tulang kaki terpampang saat berjalan menanjak menuju atas tebing.

Memasuki gua yang gelap, suasana lembab terasa, pemandu bernama Marshel, 17 tahun, menceritakan kepada kami, para pengunjung saat masuk dalam gua, tak boleh sembarang berkata-kata. Atau bahkan menyentuh tengkorak. Menjaga adab di tempat ini jadi hal yang utama.

Karena pernah ada pengunjung yang membuat lelucon soal tengkorak di gua Kete Kesu harus menjalani hukum adat. Upacara yang dimaksud adalah Ma'nene atau ritual membersihkan jenazah dan merapikan tulang leluhur serta membayar sejumlah denda adat.

3. Melibatkan generasi muda di musyawarah adat

Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo.
Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Layuk juga menegaskan pelestarian tradisi Kete Kesu terus dilakukan dengan melibatkan generasi muda dalam setiap musyawarah adat maupun upacara keluarga. Seperti diketahui, daya tarik utama Kete Kesu adalah kegiatan Tongkonan, pemakaman tebing, dan upacara Rambu Solo yang bahkan menarik mata masyarakat mancanegara. Rambu Solo ada pacara kematian megah yang dapat berlangsung hingga semir pengorbanan kerbau dan babi.

“Jadi kami setiap ada event menyampaikan kepada generasi muda. Kita tetap menyampaikan dan menghadirkan mereka kalau kita ada musyawarah,” ujarnya.

Maka, menurut pria berusia 80 tahun itu, anak muda Toraja harus tetap mempelajari budaya leluhur sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Anak-anak muda yang sempat kuliah pada masa-masa sekarang itu harus ada riset. Bagaimana nanti pendapatnya, sesudah itu ketemu saya bagaimana kita ke depan, solusinya bagaimana,” kata Layuk.

Di Kete Kesu, pengunjung dapat menjelajahi rumah adat, makam tebing, sawah sekitar, dan menikmati atmosfer pedesaan Toraja yang masih otentik. Desa ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan lanskap hidup yang mempertahankan warisan spiritual dan sosial masyarakat Toraja selama berabad-abad.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More