Para Eks PM Israel Gabung Kekuatan, Era Netanyahu Terancam Berakhir?

- Dua mantan PM Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi membentuk faksi baru bernama “Together” untuk menantang dominasi Benjamin Netanyahu dalam pemilu mendatang.
- Aliansi ini lahir dari kritik terhadap penanganan perang pasca-7 Oktober 2023 oleh Netanyahu, dengan rencana Bennett membentuk komisi penyelidikan nasional jika terpilih.
- Survei terbaru menunjukkan elektabilitas Bennett meningkat hingga 21 kursi di Knesset, mendekati Likud yang dipimpin Netanyahu dengan 25 kursi, menandakan ancaman serius bagi kekuasaannya.
Jakarta, IDN Times – Lanskap politik Israel mendadak memanas setelah dua eks Perdana Menteri (PM) Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi melebur partai mereka ke dalam satu faksi baru bernama “Together”. Langkah ini diarahkan untuk menantang dominasi PM Israel Benjamin Netanyahu pada pemilihan umum yang diprediksi digelar akhir tahun ini.
Aliansi itu tak sekadar manuver politik, melainkan upaya menyatukan suara oposisi yang lama terpecah. Dalam pernyataan di televisi pada Minggu (26/4/2026), Bennett menyebut kolaborasi itu sebagai langkah besar bagi masa depan negara dan mengatakan ini “langkah paling patriotik dan Zionis” yang pernah mereka tempuh.
1. Bennett Lapid hidupkan formula koalisi lama

Meski datang dari kubu ideologi berbeda, Bennett dan Lapid punya rekam jejak menjungkalkan kekuasaan Netanyahu. Pada 2021, keduanya membangun koalisi tak biasa yang mengakhiri 12 tahun dominasi Netanyahu, dengan Bennett memimpin sebagai PM pada tahun pertama dan Lapid mengambil alih dalam enam bulan terakhir.
Kini, pola itu ingin diulang lewat kendaraan politik baru. Lapid mengakui ada perbedaan tajam di antara mereka, namun ia menegaskan kepercayaan menjadi fondasi utama kerja sama tersebut.
“Langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan blok tersebut, mengakhiri perpecahan internal dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu yang krusial mendatang,” ujar Lapid, dikutip Al Jazeera.
Ia juga menyebut Bennett sebagai figur sayap kanan yang jujur, pernyataan yang jarang muncul di tengah kerasnya rivalitas politik Israel.
2. Kritik perang satukan agenda oposisi

Ada alasan besar di balik bersatunya kembali dua tokoh ini, yakni kritik keras mereka terhadap cara Netanyahu menangani perang pasca-tragedi 7 Oktober 2023. Jika terpilih, Bennett menyiapkan komisi penyelidikan nasional untuk mengusut kegagalan keamanan pada peristiwa itu, usulan yang selama ini diblokir pemerintahan Netanyahu.
Perbedaan latar belakang keduanya justru menjadi daya tarik aliansi ini. Dilansir Politico, Bennett dikenal sebagai Yahudi Ortodoks sekaligus mantan jutawan teknologi dengan pandangan keras terhadap Palestina, sementara Lapid berasal dari dunia media dan mewakili kalangan sekuler serta kelas menengah Israel yang makin jenuh dengan isu pajak dan keadilan wajib militer.
3. Survei Israel dorong ancaman bagi Netanyahu

Strategi ini mulai menunjukkan dampak lewat survei terbaru. Data N12 News Israel memperlihatkan elektabilitas Bennett melonjak dengan proyeksi 21 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 kursi, makin mendekati Likud milik Netanyahu yang diperkirakan meraih 25 kursi.
Bagi Netanyahu, yang memimpin pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah Israel sejak menang pemilu November 2022, ancaman kali ini terlihat nyata. Dengan batas pemilu paling lambat akhir Oktober, aliansi “Together” muncul sebagai poros baru yang bersiap mengguncang peta politik Israel.
Apakah aliansi ini cukup kuat untuk mengguncang kursi Netanyahu yang sudah bertahan sangat lama, atau justru perbedaan ideologi di dalam "Together" akan menjadi batu sandungan nantinya?


















