Mendikdasmen: 99 Sekolah di Sumatra Adakan Kegiatan Belajar di Tenda

- Menteri Pendidikan melaporkan 99 sekolah di Sumatra menggelar kegiatan belajar di tenda pengungsian atau kelas darurat.
- 3.001 sekolah di Aceh, 626 sekolah di Sumatra Barat, dan 1.104 sekolah di Sumatra Utara telah kembali mengadakan kegiatan belajar mengajar.
- Sebagian siswa terpaksa harus belajar dengan menumpang di sekolah lain dan menggunakan kurikulum darurat.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti melaporkan kegiatan mengajar dan belajar di tiga provinsi di Sumatra sudah kembali diaktifkan sejak awal Januari 2026 lalu. Meskipun ia mengakui tidak semua aktivitas belajar mengajar dapat dilakukan secara ideal. Mu'ti mencatat ada 99 sekolah di tiga provinsi di Sumatra itu yang masih menggelar kegiatan belajar di tenda pengungsian atau mengadakan kelas darurat.
"Kegiatan pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana sudah berlangsung 100 persen. Hanya saja pembelajaran belum berlangsung secara ideal. Sebagian masih belajar di tenda atau kelas darurat," ujar Mu'ti di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (18/2/2026).
Bahkan, sebagian siswa terpaksa harus belajar dengan menumpang di sekolah lain. Pembelajarannya pun menggunakan kurikulum darurat. Ia kemudian memaparkan jumlah sekolah yang kembali pulih. Ada 3.001 sekolah di Aceh yang kembali mengadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah asalnya. Lalu, 626 sekolah di Sumatra Barat dan 1.104 sekolah di Sumatra Utara.
"Yang masih belajar di tenda atau kelas darurat tersebar di Aceh 52 sekolah, 21 sekolah di Sumatra barat dan 26 di Sumatra Utara," katanya.
Maka, total ada 99 sekolah yang mengadakan kegiatan belajar dan mengajar dari tenda. Sisanya siswa kembali ke sekolah karena sekolah telah dibersihkan.
Sedangkan, jumlah sekolah yang masih menumpang di sekolah lain yakni 20 sekolah di Aceh dan dua sekolah di Sumatra Barat. "Ini dilakukan karena sekolah-sekolah hanyut dan perlu relokasi," kata pria yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum di PP MUhammadiyah itu.
Ia juga menggambarkan kegiatan pembelajaran juga belum dapat dilakukan secara ideal. Sebagian diadakan dengan menggunakan shift pagi atau siang.
"Belum ada meja dan kursi secara keseluruhan. Sebagian (siswa) masih ada yang belajar di lantai," tutur dia.

















