Afrika Selatan Terjunkan Tentara Lawan Geng Kriminal

- Afsel terjunkan personel militer dan polisi selama 10 hari di Western Cape, Gauteng, dan Eastern Cape untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi kasus pembunuhan.
- Kasus pelecehan seksual di Eastern Cape meningkat, dengan kriminalitas serius mencapai 21,5 persen di Nelson Mandela Bay antara April-Juni 2025.
- Afsel menarik seluruh pasukannya dari Republik Demokratik Kongo setelah penerjunan selama 27 tahun dalam Misi Perdamaian PBB untuk mendukung keamanan di RD Kongo.
Jakarta, IDN Times - Presiden Afrika Selatan (Afsel), Cyril Ramaphosa mengungkapkan penerjunan tentara dan polisi ke sejumlah wilayah dengan tingginya kasus kriminalitas. Langkah ini untuk menjamin keamanan di negaranya.
“Tentara akan diterjunkan di Western Cape, lokasi magnet wisatawan, Cape Town, dan Gauteng yang menjadi pusat finansial, Johannesburg. Organisasi kriminal adalah ancaman besar bagi demokrasi, masyarakat, dan pembangunan ekonomi,” ungkapnya, dikutip dari Africa News, Selasa (17/2/2026).
Beberapa bulan terakhir, Afsel dilanda krisis keamanan dan maraknya kasus kriminalitas. Kasus kriminalitas tersebut didorong oleh geng penyelundup narkoba, penambang ilegal, dan lainnya.
1. Afsel akan terjunkan personel militer dan polisi selama 10 hari
Menteri Polisi Afsel, Firoz Cachalia mengonfirmasi bahwa Badan Polisi Afsel (SAPS) dan Angkatan Bersenjata Afsel (SANDF) telah menyetujui penerjunan militer selama 10 hari. Selain Western Cape dan Gauteng, wilayah penerjunan akan diperluas hingga Eastern Cape.
Dilansir DFA, penerjunan personel militer dan polisi di tiga wilayah itu adalah wujud dari keseriusan pemerintahan Ramaphosa untuk mengatasi masalah kriminalitas. Dengan ini, diharapkan keamanan dapat meningkatkan dan mengurangi kasus pembunuhan.
Cachalia meminta agar SAPS dapat memperkuat unit anti-geng dan menerjunkan unit khusus di lapangan. Selain itu, ia mendorong penguatan intelijen dalam memberantas organisasi kriminal di Afsel.
2. Kasus pelecehan seksual di Eastern Cape meningkat
Parlemen Eastern Cape, Xolile Nqatha menyampaikan bahwa kasus kekerasan secara keseluruhan di Eastern Cape memang menurun. Namun, masalah pelecehan seksual di wilayah tersebut meningkat, terutama di komunitas menengah ke bawah.
Dikutip dari Daily Dispatch, data dari pemerintah lokal di Eastern Cape menyebut bahwa kasus kriminalitas serius di Nelson Mandela Bay mencapai 21,5 persen antara April-Juni 2025. Sementara, kasus kriminalitas serius di Buffalo City menembus 19,2 persen dan OR Tambo mencapai 14,4 persen.
Nqatha menyebut situasi ini memang cukup memprihatinkan. Meskipun begitu, terlihat adanya progres untuk mengurangi kasus kekerasan dan pelecehan seksual di Eastern Cape.
3. Afsel tarik personel militer dari Republik Demokratik Kongo
Pekan lalu, Afsel memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya dari Republik Demokratik (RD) Kongo. Pasukan Afsel tersebut tergabung dalam Misi Perdamaian PBB di RD Kongo (MONUSCO).
Juru Bicara Kepresidenan Afsel, Vincent Magwenya menyebut, keputusan ini untuk memastikan kesesuaian setelah penerjunan di RD Kongo selama 27 tahun. Selama ini, sudah ada 700 personel militer Afsel yang dikirimkan di RD Kongo, dilansir dari APA News.
Sebagai informasi, MONUSCO sudah didirikan pada 1999 untuk mendukung keamanan di RD Kongo. Misi tersebut berfungsi mengamankan warga sipil, mengamankan operasi kemanusiaan, dan mendukung stabilitas pemerintahan Kongo.


















