AS Tolak Peringatan 100 Tahun Fidel Castro di Kuba

- Menlu AS Marco Rubio menolak peringatan 100 tahun Fidel Castro dan menuduhnya menghancurkan Kuba melalui pemiskinan, pemenjaraan, serta pembunuhan rakyat.
- Rubio meyakini Kuba akan berubah arah sebelum pemerintahan Donald Trump berakhir, meski menilai transisi negara itu tidak dapat berlangsung cepat.
- AS masih membuka opsi operasi militer terhadap Kuba, sementara Havana menuduh sanksi terbaru Washington memperpanjang tekanan maksimum terhadap kebutuhan dasar dan layanan publik.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio menolak acara peringatan 100 tahun Fidel Castro. Menurutnya, Castro hanya membuat kegagalan besar kepada rakyat Kuba.
“Fidel Castro hanyalah kegagalan besar dalam semua hal kecuali menghancurkan Kuba dan memiskinkan, memenjarakan, dan membunuh rakyatnya sendiri,” tuturnya, dikutip dari Democrata, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, Rubio yang merupakan keturunan imigran Kuba, diketahui terus menyuarakan penolakan terhadap rezim Kuba. Ia pun mendukung penuh tekanan maksimum ke Kuba untuk mengubah negara tersebut.
1. Rubio sebut Kuba akan berubah sebelum pemerintahan Trump berakhir

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0 , via Wikimedia Commons) Rubio mengungkapkan bahwa dirinya percaya dan yakin bahwa rezim Kuba akan berubah. Menurutnya, perubahan itu akan terwujud sebelum pemerintahan Presiden AS, Donald Trump berakhir.
“Saya percaya bahwa Kuba, sebelum pemerintahan ini berakhir, akan mengubah arahnya ke arah yang sangat berbeda di masa yang akan datang,” ujarnya.
Menlu AS tersebut mengungkapkan bahwa transisi harus dilakukan negara Karibia itu. Ia berpendapat bahwa transisi tidak dapat berjalan cepat, tapi ia mencontohkan negara-negara Eropa Timur yang dapat menjadi seperti hari ini.
2. AS masih buka opsi operasi militer ke Kuba

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cscreates) Pekan ini, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth memperingatkan bahwa Washington masih membuka opsi serangan militer ke Kuba. Ia mengingatkan bahwa Havana harus lebih memperhatikan dengan baik apa yang diinginkan oleh pemerintahan Trump.
Peringatan ini mengenai pernyataan Trump pada Juni mengenai kemungkinan operasi militer ke Kuba. Namun, Trump sudah memberikan kelonggaran bagi Havana karena berbeda dengan Venezuela yang memiliki minyak, Kuba tidak memiliki minyak.
3. Kuba tuding AS melanjutkan tekanan maksimum ke negaranya

ilustrasi bendera Kuba (Pexels/El gringo photo) Menlu Kuba, Bruno Rodriguez menuding AS melanjutkan tekanan maksimum ke Kuba. Langkah itu untuk mengurangi kemampuan pemerintah Kuba dalam untuk menyediakan barang keperluan dasar dan layanan umum kepada rakyatnya.
Dilansir EFE, Rodriguez mengkritik penetapan sanksi terbaru dari Office of Foreign Assets Control (OFAC) dan badan AS lainnya kepada Kuba. Menurutnya, sanksi itu menjadi perpanjangan sanksi pada periode pertama kepemimpinan Trump.





















