Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Megawati: Saya Meneriakkan Merdeka Seperti Dilecehkan

Megawati: Saya Meneriakkan Merdeka Seperti Dilecehkan
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat (dok. PDIP)
  • Megawati Soekarnoputri mengaku merasa seperti dilecehkan saat meneriakkan “merdeka”, ketika memimpin upacara Kemerdekaan ke-81 RI di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan.
  • Ia mengenang penjelasan Soekarno bahwa seruan “merdeka” lahir dari tekad perjuangan: bila tidak merdeka, lebih baik mati.
  • Megawati meminta kader PDIP tidak melupakan sejarah, mencintai Republik Indonesia, serta memaknai kemerdekaan lebih dari sekadar upacara, bendera, dan seruan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengungkap perasaannya saat memekikkan kata "merdeka" seperti dilecehkan.

Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan amanat sebagai inspektur upacara peringatan Kemerdekaan ke-81 RI di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).

“Mengapa saya ketika sering meneriakkan kata ‘merdeka’, saya seperti dilecehkan, ‘Sudah merdeka tapi masih teriak-teriak merdeka?’” kata Megawati.

Megawati kemudian menjelaskan saat dirinya mencari makna saat meneriakkan kata "merdeka" kepada sang ayah, Presiden Soekarno. Megawati sempat bertanya alasan ‘merdeka’ terus-menerus diteriakkan.

“Saya bertanya, ‘Kenapa sih kok mesti teriak merdeka-merdeka?’. ‘Oh, karena kita pada waktu itu sudah mempunyai tekad kalau tidak merdeka lebih baik mati’. Makanya kalau kita saling bertemu, yang satu mengatakan 'merdeka', yang lain mengatakan 'mati'. Tapi setelah karena kita sudah merdeka, maka kalau merdeka harus dijawab dengan Merdeka!,” kata Megawati disambut kata "merdeka" ratusan kader PDIP.

Oleh karena itu, Megawati meminta kadernya tidak melupakan sejarah, dan terus mencintai Republik Indonesia.

“Karena itu, setiap tanggal 17 Agustus kita tidak cukup hanya mengibarkan bendera dan memekikkan kata ‘merdeka’. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: apa arti kemerdekaan itu? Untuk apa kita merdeka? Maukah kita dijajah lagi?” ujar dia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More