Trump Bantah Kondisi Buruk di Kapal Induk USS Abraham Lincoln

- Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah kondisi buruk di USS Abraham Lincoln, sembari mengonfirmasi kapal itu akan ditarik dan digantikan USS George Washington.
- Keluarga awak melaporkan kelangkaan makanan segar, air bersih, kerusakan sanitasi, serta tekanan mental; Angkatan Laut mengakui sebagian masalah dan menyatakan penanganan medis telah dilakukan.
- USS Abraham Lincoln telah berlayar lebih dari 240 hari tanpa kunjungan pelabuhan, setelah penugasannya diperpanjang untuk operasi Iran, memicu tuntutan Kongres agar kondisi awak diperiksa langsung.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah kekhawatiran keluarga mengenai kondisi memprihatinkan yang dialami para prajurit di kapal induk USS Abraham Lincoln pada Jumat (14/8/2026). Trump bahkan menilai masa penugasan kapal perang tersebut di kawasan Timur Tengah belum berlangsung cukup lama.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media di Pangkalan Gabungan Andrews sebelum bertolak menuju New York. Tanggapan itu memicu sorotan di tengah maraknya laporan krisis logistik dan gangguan kesehatan mental di kalangan awak kapal.
1. Trump dan Menhan bantah masalah di USS Lincoln

Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela (Official White House Photo by Molly Riley, Public domain, via Wikimedia Commons) Meskipun membantah rumor keresahan, Trump mengonfirmasi bahwa USS Lincoln akan segera ditarik dan diganti dengan kapal lain. Departemen Pertahanan AS dilaporkan telah memerintahkan pengiriman USS George Washington untuk rotasi ini.
"Kapal itu sedang bergerak saat ini, atau dalam waktu dekat dan akan digantikan dengan kapal lain yang serupa," ujar Trump, dilansir The Hill.
Sikap senada turut diutarakan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat menghadiri kunjungan kerja di Panama. Hegseth mengklaim bahwa pemberitaan mengenai situasi buruk di atas USS Abraham Lincoln telah disalahartikan sepenuhnya oleh publik.
Hegseth memastikan bahwa kementeriannya selalu berupaya memasok kebutuhan logistik terbaik bagi seluruh awak di setiap armada tempur. Ia juga menyatakan rasa hormat dan terima kasih atas pengabdian para pelaut di tengah kondisi penugasan yang berat.
2. Keluarga personel laporkan krisis logistik dan kasus depresi

USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons) Sejumlah keluarga prajurit sebelumnya membeberkan penurunan kualitas hidup yang dialami oleh sekitar 5 ribu pelaut dan marinir di kapal tersebut. Mereka mengeluhkan kelangkaan bahan makanan segar, krisis air bersih, hingga kerusakan pada sistem sanitasi toilet kapal.
Selain masalah fasilitas, kondisi kejiwaan awak kapal dikabarkan mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Keterlambatan pengiriman surat dan paket kiriman keluarga yang hilang selama berbulan-bulan di perjalanan turut memperparah tekanan psikologis para prajurit.
Pihak keluarga juga melaporkan adanya beberapa insiden personel yang berniat melompat ke laut lepas akibat tekanan mental. Pejabat militer AS mengonfirmasi ada personel yang sempat jatuh ke laut pada awal Agustus sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.
Menanggapi keresahan tersebut, Plt. Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao mengakui adanya kelangkaan makanan segar serta beberapa kasus masalah psikologis di atas kapal. Namun, Cao menegaskan bahwa seluruh kasus tersebut telah ditangani dengan tepat oleh tim medis tanpa adanya korban jiwa.
3. USS Abraham Lincoln telah berlayar lebih dari 240 hari

Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons) USS Abraham Lincoln awalnya diberangkatkan dari San Diego pada November 2025 dan sempat terlibat dalam operasi militer di Venezuela pada Januari 2026. Penugasan kapal tersebut kemudian diperpanjang melebihi durasi reguler enam bulan demi mendukung misi operasi militer terhadap Iran.
Kapal perang bertenaga nuklir ini telah mencatat rekor berada di laut lepas selama lebih dari 240 hari tanpa satu pun kunjungan pelabuhan sejak Desember lalu di Guam. Mantan Kepala Operasi Angkatan Laut AS Gary Roughead menjelaskan bahwa situasi konflik dengan Iran memutus akses logistik pelabuhan utama AS di Teluk Arab, seperti Bahrain dan Jebel Ali.
Menurut PBS News, kondisi itu telah memicu kecaman dari anggota Kongres AS yang menuntut evaluasi menyeluruh atas beban operasional armada tersebut. Senator Ruben Gallego mendesak agar delegasi bipartisan diizinkan naik ke atas kapal untuk memeriksa kondisi prajurit secara langsung.





















