Iran Tolak Buka Selat Hormuz Selama AS Pertahankan Blokade

- Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade laut AS masih berlaku, meski masa gencatan senjata antara kedua negara diperpanjang.
- Pasukan Iran dan militer AS saling menahan kapal di perairan sekitar Selat Hormuz, memperburuk ketegangan dan mengganggu jalur perdagangan minyak dunia.
- Presiden AS Donald Trump menunda serangan tambahan ke Iran dan memberi waktu bagi Teheran untuk menyusun proposal perdamaian, sambil tetap mempertahankan kekuatan militernya di kawasan.
Jakarta, IDN Times- Pemerintah Iran menyatakan, pihaknya tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade laut Amerika Serikat (AS) masih diberlakukan. Keputusan tersebut diambil meskipun kedua negara tengah menjalani masa perpanjangan gencatan senjata.
Selat Hormuz terus menjadi persoalan pelik antara Washington dan Teheran. Iran menuntut penghentian sebelum mempertimbangkan pelonggaran pelayaran dan prospek negosiasi.
1. Iran menolak tunduk terhadap perundungan AS

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai blokade AS merupakan bentuk pelanggaran gencatan senjata. Ia menekankan pihaknya tidak akan tunduk pada perundungan AS. Ghalibaf, yang merupakan salah satu negosiator utama Iran, juga menyalahkan Israel atas konflik yang berlangsung.
"Gencatan senjata total hanya masuk akal jika tidak dilanggar oleh blokade maritim dan penyanderaan ekonomi dunia, dan jika hasutan perang Zionis di semua lini dihentikan," tulis Ghalibaf di X, dilansir Al Jazeera pada Rabu (22/4/2026).
Selat Hormuz merupakan perairan sempit yang menjadi gerbang bagi seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur penting tersebut telah memicu lonjakan harga energi di pasar global.
2. AS-Iran saling cegat kapal

Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menangkap dua kapal komersial asing di Selat Hormuz pada hari Rabu. Kapal bernama MSC Francesca dan Epaminondas tersebut diarahkan menuju pantai Iran. Militer Iran menuduh kapal-kapal tersebut telah melanggar berbagai regulasi maritim internasional. Penahanan ini juga untuk membalas tindakan angkatan laut AS yang menyita kapal niaga Iran di Laut Oman.
Di sisi lain, AS juga mencegat kapal-kapal Iran di perairan Asia. Mereka mencegat setidaknya tiga kapal tanker pembawa minyak mentah berbendera Iran di sekitar India, Malaysia, serta Sri Lanka. Kapal tersebut diidentifikasi sebagai Deep Sea, Sevin, dan Dorena. Komando Pusat AS juga telah memaksa 29 kapal komersial untuk putar balik sejak blokade pelabuhan Iran dimulai.
3. Trump beri waktu Iran untuk rumuskan proposal perdamaian

Presiden AS Donald Trump telah menunda serangan militer tambahan ke wilayah Iran. Penundaan disepakati setelah muncul permintaan khusus dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Trump memberikan tenggat waktu ekstra agar pemerintah Iran mampu merumuskan proposal damai yang matang. Namun, ia bersikeras mempertahankan militer AS di kawasan untuk terus mengepung pelabuhan Iran.
"Empat hari lalu, orang-orang mendatangi saya dan berkata, ‘Pak, Iran ingin membuka Selat, segera.’ Namun, jika kita melakukan itu, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negara mereka, termasuk para pemimpinnya," tulis Trump di media sosialnya.


















