Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

WHO Setujui Pengobatan Malaria Pertama untuk Bayi Baru Lahir

WHO Setujui Pengobatan Malaria Pertama untuk Bayi Baru Lahir
Ilustrasi bayi (pexels.com/Anna Shvets)
Intinya Sih
  • WHO menyetujui obat antimalaria pertama khusus bayi baru lahir dengan formulasi artemether-lumefantrine, memberikan solusi aman bagi bayi berbobot dua hingga lima kilogram yang terinfeksi malaria.
  • Obat bernama Coartem Baby dikembangkan melalui kolaborasi Novartis, MMV, dan konsorsium PAMAfrica dengan dukungan pendanaan internasional, serta dijual tanpa margin keuntungan di wilayah endemis.
  • Penggunaan awal dimulai di Ghana dan akan diperluas ke seluruh Afrika untuk menekan angka kematian bayi akibat malaria, menargetkan sekitar 30 juta bayi di daerah berisiko tinggi setiap tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan persetujuan prekualifikasi untuk pengobatan malaria khusus bayi baru lahir dan bayi muda pada Jumat (24/4/2026). Persetujuan ini menjadi yang pertama kalinya diberikan untuk kelompok usia tersebut dalam penanganan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Pengobatan ini menggunakan formulasi artemether-lumefantrine yang disesuaikan secara teknis untuk bayi dengan berat badan dua hingga lima kilogram. Dengan adanya persetujuan ini, lembaga internasional diharapkan dapat segera melakukan pengadaan obat secara massal untuk memenuhi kebutuhan pengobatan di wilayah endemis, khususnya di benua Afrika.

1. Obat khusus bantu atasi masalah dosis pada bayi

Persetujuan WHO terhadap formulasi artemether-lumefantrine ini memberikan solusi medis pertama bagi bayi dengan berat badan rendah yang terinfeksi malaria. Sebelumnya, belum ada obat antimalaria yang diuji secara klinis dan disetujui untuk bayi di bawah lima kilogram. Tenaga medis kerap terpaksa menyesuaikan dosis obat anak yang lebih besar, sehingga takaran yang diberikan berpotensi tidak akurat. Kondisi ini berisiko memicu keracunan pada organ bayi dan efek samping lainnya.

"Formulasi artemether-lumefantrine ini adalah inovasi penting. Sebelumnya, tidak ada obat antimalaria khusus untuk anak dengan berat badan dua hingga lima kilogram yang terkena malaria tanpa komplikasi," kata Direktur Malaria dan Penyakit Tropis Terabaikan di WHO, Dr. Daniel Ngamije Madandi, dilansir Arab News.

Obat dengan merek dagang Coartem Baby ini memberikan standar keamanan dan efikasi bagi penyedia layanan kesehatan. Data klinis menunjukkan bahwa obat ini aman untuk neonatus, sehingga risiko resistensi obat akibat kesalahan dosis dapat ditekan. Kehadiran obat ini membantu rumah sakit di daerah pedesaan yang kerap mengalami kendala dalam membagi dosis obat padat secara akurat.

2. Kerja sama lintas sektor hasilkan obat malaria untuk bayi

Coartem Baby dikembangkan melalui kerja sama antara perusahaan farmasi Novartis dan organisasi nirlaba Medicines for Malaria Venture (MMV). Konsorsium PAMAfrica juga terlibat dengan dukungan dana dari Kemitraan Uji Klinis Negara-negara Eropa dan Berkembang (EDCTP) serta Badan Kerja Sama Pembangunan Internasional Swedia. Status prekualifikasi WHO memungkinkan lembaga internasional, termasuk badan PBB, untuk membeli dan mendistribusikan obat ini menggunakan dana bantuan.

"Selama ini bayi yang terkena malaria belum mendapat penanganan optimal karena belum ada obat yang sesuai dengan kondisi mereka. Kehadiran obat ini menunjukkan komitmen kami agar kelompok pasien ini juga mendapat pengobatan yang memadai," kata CEO Medicines for Malaria Venture (MMV), Dr. Martin Fitchet, dilansir FirstWord Pharma.

Novartis menyediakan obat ini tanpa mengambil margin keuntungan di wilayah endemis malaria agar harga tidak menghalangi akses masyarakat. Prekualifikasi WHO juga membantu negara yang tidak memiliki sistem regulasi obat ketat untuk segera memasukkan produk ini ke dalam protokol kesehatan mereka.

3. Penggunaan obat dimulai di Ghana dan diperluas ke Afrika

Penggunaan artemether-lumefantrine khusus bayi ini telah dimulai di Ghana dan direncanakan meluas ke seluruh wilayah Afrika yang mencatat kasus malaria tinggi. Obat ini ditargetkan dapat menjangkau sekitar 30 juta bayi yang lahir setiap tahun di daerah berisiko.

Berdasarkan data laporan malaria dunia 2024, terdapat tren peningkatan kasus malaria, dengan anak-anak di bawah lima tahun menyumbang sebagian besar dari total angka kematian di Afrika. Distribusi obat ini ditujukan untuk menekan tingkat kematian neonatal akibat infeksi parasit tersebut.

"Biasanya kami lebih fokus menangani malaria pada anak yang lebih besar. Saat bayi sakit, kami kerap kesulitan menentukan langkah medis yang tepat. Obat baru yang dirancang khusus dan aman untuk bayi ini membuat kami lebih yakin dalam memberikan perawatan," kata dokter spesialis anak di Rumah Sakit Methodist di Ankaase, Ghana, Dr. Emmanuel Aidoo.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More