Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Negara Eropa Tuduh Rusia Bunuh Navalny dengan Racun Katak

tokoh Oposisi Rusia, Alexei Navalny
tokoh Oposisi Rusia, Alexei Navalny (Michał Siergiejevicz, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Bukti forensik ungkap jejak neurotoksin langka
  • Istri Navalny sebut Putin sebagai pembunuh
  • Moskow bantah tuduhan dan sebut propaganda Barat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lima negara Eropa meliputi Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda menuduh pemerintah Rusia meracuni Alexei Navalny. Tuduhan berat tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama di sela-sela Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu (14/2/2026). Kelima negara menyimpulkan Kremlin bertanggung jawab penuh atas kematian tokoh oposisi Rusia itu di penjara.

Hasil analisis sampel biologis Navalny disebut mengonfirmasi keberadaan epibatidine. Neurotoksin mematikan tersebut lazim ditemukan pada kulit katak panah beracun (poison dart frog) asal Amerika Selatan. Para diplomat menegaskan tidak ada penjelasan logis lain atas temuan zat itu di tubuh korban selain keterlibatan aparat negara.

1. Bukti forensik ungkap jejak neurotoksin langka

Ilustrasi obat penawar racun. (unsplash.com/omid_roshan)
Ilustrasi obat penawar racun. (unsplash.com/omid_roshan)

Pernyataan bersama lima kementerian luar negeri menyebut Rusia memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk melancarkan pembunuhan. Sampel jaringan tubuh Navalny menunjukkan jejak racun yang tidak ditemukan secara alami di Rusia. Para ilmuwan menduga zat epibatidine tersebut diproduksi secara sintetis di laboratorium.

Epibatidine bekerja menyerang sistem saraf korban dengan mekanisme serupa agen saraf militer. Racun memicu gejala fatal mulai dari sesak napas, kejang hebat, detak jantung melambat, hingga kematian mendadak. Temuan laboratorium independen ini bertentangan dengan klaim awal Moskow yang menyebut Navalny meninggal secara mendadak usai berjalan-jalan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut penggunaan racun spesifik tersebut menunjukkan ketakutan luar biasa Kremlin terhadap oposisi. Inggris menilai metode pembunuhan itu sebagai tindakan keji dan brutal. Analisis forensik diketahui melibatkan ilmuwan dari laboratorium rahasia Porton Down milik Inggris.

"Rusia melihat Navalny sebagai ancaman. Dengan menggunakan bentuk racun ini, negara Rusia menunjukkan alat-alat keji yang dimilikinya," ujar Cooper, dilansir NPR.

2. Istri Navalny sebut Putin sebagai pembunuh

Presiden Rusia, Vladimir Putin
Presiden Rusia, Vladimir Putin (Duma.gov.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Janda Alexei Navalny, Yulia Navalnaya, hadir langsung di Munich saat pengumuman hasil investigasi tersebut dibacakan. Yulia mengaku puas atas bukti ilmiah yang akhirnya terungkap ke publik setelah dua tahun kematian suaminya. Ia sejak awal meyakini suaminya dibunuh secara sistematis di dalam penjara Arktik.

Yulia menegaskan Presiden Rusia Vladimir Putin harus bertanggung jawab atas kematian tokoh anti-korupsi Rusia tersebut. Navalny sendiri meninggal saat menjalani hukuman penjara 19 tahun yang dianggap banyak pihak bermuatan politik.

"Putin membunuh Alexei dengan senjata kimia. Saya sudah yakin sejak hari pertama, tapi sekarang ada buktinya," tulis Navalnaya di media sosial X.

Wanita yang meneruskan perjuangan suaminya itu menyebut Putin tidak bisa lagi menyembunyikan fakta di balik propaganda negara. Yulia optimis Putin akan dimintai pertanggungjawaban suatu hari nanti, dilansir Politico.

3. Moskow bantah tuduhan dan sebut propaganda Barat

Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)
Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menolak mentah-mentah tuduhan lima negara Eropa tersebut. Zakharova menyebut pernyataan itu sebagai kebocoran informasi yang bertujuan mengalihkan perhatian dari masalah internal Barat.

Moskow bersikeras Navalny meninggal karena penyebab alamiah dan menolak bertanggung jawab. Pemerintah Rusia menantang Barat untuk menunjukkan formula zat dan hasil tes secara transparan kepada publik.

"Tanpa hasil tes dan formula zat, semua pembicaraan dan pernyataan hanyalah kebocoran informasi yang bertujuan mengalihkan perhatian," kata Zakharova, dilansir Al Jazeera.

Kelima negara pelapor telah meneruskan temuan pelanggaran Konvensi Senjata Kimia ini ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). Laporan menyoroti pelanggaran berulang Rusia terhadap hukum internasional terkait penggunaan racun biologis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Jelang KTT Board of Peace, Menlu Kunjungi Wakil Tetap Palestina di PBB

17 Feb 2026, 09:25 WIBNews