Rusia Bantah Tuduhan Racuni Pemimpin Oposisi Alexei Navalny

- Puluhan orang kunjungi makam Navalny untuk peringati hari kematiannya
- Navalny gerakkan aksi massa yang memprotes pemerintah
- Banyak tokoh oposisi Rusia dipenjara atau berada di pengasingan
Jakarta, IDN Times - Rusia membantah keras laporan dari lima negara Eropa, yang menyatakan bahwa Kremlin membunuh pemimpin oposisi Alexei Navalny dengan cara meracuninya.
Navalny, kritikus paling keras terhadap Presiden Vladimir Putin, meninggal di penjara di Siberia pada 16 Februari 2024 saat menjalani hukuman 19 tahun penjara atas tuduhan ekstremisme. Saat itu, Kremlin menyatakan bahwa aktivis itu meninggal karena sebab alami. Meski pihak berwenang sempat menolak menyerahkan jenazahnya, Navalny akhirnya dimakamkan di Moskow pada Maret 2024.
Pada Sabtu (14/2/2026), Inggris, Prancis, Jerman, Belanda dan Swedia mengeluarkan pernyataan bersama yang mengklaim bahwa Navalny dibunuh dengan epibatidine, racun yang ditemukan pada katak panah. Rusia disebut memiliki sarana, motif dan kesempatan untuk meracuninya.
“Kami tentu tidak menerima tuduhan tersebut. Kami tidak setuju dengan tuduhan itu. Kami menganggapnya bias dan tidak berdasar. Faktanya, kami dengan tegas menolaknya,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin (16/2/2026).
1. Puluhan orang kunjungi makam Navalny untuk peringati hari kematiannya

Pada hari yang sama, puluhan pendukung Navalny dan sejumlah diplomat asing mengunjungi makam tokoh oposisi tersebut untuk memperingati dua tahun kematiannya. Sebagian dari mereka yang hadir mengenakan masker atau syal untuk menutupi wajah.
Ibu Navalny mengatakan bahwa laporan yang menyebut putranya meninggal akibat keracunan semakin menguatkan keyakinannya bahwa putranya dibunuh.
“Ini menegaskan apa yang sudah kami ketahui sejak awal. Kami tahu bahwa putra kami tidak sekadar meninggal di penjara, ia dibunuh," kata Lyudmila Navalnaya di pemakaman.
Dalam unggahan di media sosial, istri mendiang, Yulia Navalnaya, juga mengungkapkan keyakinannya bahwa suatu hari nanti keadilan atas kematian suaminya akan terwujud. Sebelum pengumuman pada Sabtu, ia secara konsisten mengklaim bahwa suaminya dibunuh dengan racun.
2. Navalny gerakkan aksi massa yang memprotes pemerintah
Navalny, pengacara lulusan Universitas Yale, memimpin berbagai kampanye yang menyoroti korupsi tingkat tinggi di pemerintahan Rusia. Aksinya menggerakkan ratusan ribu orang turun ke jalan dan membuatnya dikenal di luar negeri sebagai satu-satunya pemimpin oposisi Rusia.
Pada 2020, ia selamat dari dugaan peracunan menggunakan agen saraf Novichok, dan menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jerman. Ia kembali ke Rusia pada tahun berikutnya, tapi kemudian ditangkap oleh polisi setibanya di bandara.
Navalny meninggal di penjara setahun kemudian. Otoritas penjara menyatakan bahwa ia merasa tidak enak badan setelah berjalan-jalan, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
3. Banyak tokoh oposisi Rusia dipenjara atau berada di pengasingan

Dilansir dari BBC, represi di Rusia semakin meningkat setelah Moskow menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Undang-undang baru yang bersifat represif diberlakukan, sementara setiap bentuk sikap antipemerintah, baik melalui protes di jalanan maupun unggahan daring, dapat berujung pada hukuman penjara yang panjang.
Banyak rekan Alexei Navalny telah dipenjara atau melarikan diri dari Rusia. Istrinya, Yulia Navalnaya, juga menghadapi ancaman penangkapan dan kini tinggal di luar negeri bersama kedua anak mereka. Ia telah berjanji untuk meneruskan perjuangan oposisi Rusia setelah kematian suaminya, tapi sejauh ini masih kesulitan menghimpun dukungan luas.
Oposisi Rusia yang berada di pengasingan terpecah secara politik, dan kesulitan menampilkan sikap yang bersatu. Beberapa faksi bahkan kerap berselisih secara terbuka di hadapan publik.


















