Balas Israel, Iran Serang Kompleks Petrokimia Arab Saudi

- Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke kompleks petrokimia Jubail milik Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas Asaluyeh di Iran.
- Angkatan udara Arab Saudi berhasil menembak jatuh tujuh rudal Iran, namun beberapa tetap menghantam fasilitas hingga menyebabkan kebakaran besar di pabrik SABIC Jubail.
- Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dengan Iran masih menolak membuka Selat Hormuz bagi kapal AS dan Israel.
Jakarta, IDN Times - Iran dikabarkan telah menyerang kompleks petrokimia Jubail milik Arab Saudi. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (7/4/2026).
"Sebuah serangan menyebabkan kebakaran di pabrik SABIC di Jubail. Suara ledakan (terdengar) sangat keras," jelas sumber internal Arab Saudi kepada AFP merespons serangan Iran.
Sebagai informasi, kompleks petrokimia Jubail merupakan jantung hilirisasi energi milik Arab Saudi. Fasilitas ini bekerja sama dengan perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, untuk mengembangkan sektor energi nasional. Fasilitas ini juga merupakan tempat produksi baja, bensin, oli, dan pupuk kimia.
1. Serangan dilakukan untuk membalas Israel

Serangan terhadap kompleks petrokimia Jubail tadi dilakukan pada Senin (6/4/2026) malam waktu setempat. IRGC menjelaskan, serangan ini bertujuan sebagai balasan karena pada hari yang sama, pasukan militer Israel (IDF) menyerang kompleks petrokimia Asaluyeh di Iran.
Asaluyeh sendiri merupakan kompleks petrokimia terbesar yang dimiliki Iran. Menurut Menteri Pertahanan Israel, fasilitas ini merupakan sumber pendanaan utama untuk IRGC dan industri militer Iran.
"(Serangan dilakukan) sebagai tanggapan atas kejahatan musuh dalam agresi terhadap pabrik petrokimia Asaluyeh (Iran). Serangan secara efektif menargetkan Kompleks Sadara dengan rudal jarak menengah dan beberapa drone bunuh diri," bunyi pernyataan resmi IRGC usai menyerang kompleks petrokimia Jubail, seperti dilansir Jerusalem Post.
2. Angkatan udara Arab Saudi sempat melumpuhkan rudal Iran

Sebetulnya, pasukan angkatan udara Arab Saudi sempat melumpuhkan tujuh rudal balistik Iran yang dipakai untuk menyerang kompleks petrokimia Jubail. Namun, sejumlah rudal berhasil menghantam fasilitas tersebut hingga menyebabkan kebakaran hebat.
"Sebagian puing rudal balistik jatuh di sekitar fasilitas pembangkit listrik. Penilaian kerusakan sedang dilakukan,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Arab Saudi dalam sebuah unggahan di X.
3. Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlanjut

Semua serangan tadi terjadi di saat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel makin panas. Sebab, Iran hingga saat ini masih enggan menuruti kemauan AS agar perang bisa berakhir.
Untuk mengakhiri perang, AS sebetulnya sudah berulang kali mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz. Jika selat tersebut dibuka, AS dan Israel akan mengakhiri perang dengan Iran. Namun, hingga kini, Iran masih belum juga memenuhi permintaan tersebut.
Sebetulnya, Iran kini sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk berlayar di Selat Hormuz. Kendati begitu, Iran tetap menutup selat tersebut untuk kapal-kapal dari AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.
Ada sejumlah negara yang kini sudah mengantongi izin dari Iran agar kapalnya bisa melintas di Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, China, Jepang, Irak, dan Rusia.

















