Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tembok Plastik Simbol Harapan Baru SDN 2 Pohgading Pascagempa Lombok

Tembok Plastik Simbol Harapan Baru SDN 2 Pohgading Pascagempa Lombok
Empat kelas bertembok plastik bantuan dari Clasroom of Hope di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • SDN 2 Pohgading di Lombok kini memiliki empat ruang kelas baru berbahan plastik daur ulang setelah bertahun-tahun belajar di bangunan darurat akibat gempa besar tahun 2018.
  • Ruang kelas dibangun dengan blok plastik daur ulang yang ringan, tahan gempa, dan ramah lingkungan, menggunakan sekitar 1,5 ton plastik per kelas hasil produksi lokal di Mataram.
  • Proyek ini merupakan bagian dari program Classroom of Hope asal Australia yang telah membangun 50 sekolah berbahan blok plastik di Lombok untuk mendukung pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Lombok, IDN Times – Tembok itu berwarna hijau dan berdiri kokoh di lingkungan SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dari kejauhan, bangunan tersebut tampak seperti ruang belajar permanen pada umumnya.

Dinding ruang kelas itu tersusun dari blok berbahan 100 persen sampah plastik daur ulang yang dirancang tahan gempa. Material tersebut menjadi solusi sekaligus simbol pemulihan pendidikan bagi sekolah yang terdampak gempa Lombok 2018.

Bagi siswa SDN 2 Pohgading, kehadiran ruang kelas baru ini bukan sekadar bangunan. Selama bertahun-tahun mereka harus belajar di ruang darurat, setelah empat ruang kelas sekolah rusak berat akibat gempa bermagnitudo 7,0 yang mengguncang Pulau Lombok pada 2018 lalu.

Kini, suasana belajar yang lebih nyaman mulai dirasakan para siswa. Ruang kelas yang dibangun melalui program Classroom of Hope, organisasi nirlaba asal Australia, menjadi harapan baru bagi sekolah yang berdiri sejak 1956 tersebut.

“Jadi dulu ini kan sekolah biasa seperti pada umumnya. Kenapa ini dibangun? Karena dulu dampak gempa. Jadi dampak gempa yang berkekuatan 7,0 SR dulu menghancurkan bangunan ini, sehingga proses belajar mengajar ya kita dapati kelas sementara,” kata Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman, Rabu (10/6/2026).

1. Bertahun-tahun belajar di kelas darurat pascagempa

Ruang kelas darurat pascagempa di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Ruang kelas darurat pascagempa di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Gempa bumi yang mengguncang Lombok pada 2018 meninggalkan dampak panjang bagi dunia pendidikan. SDN 2 Pohgading menjadi salah satu sekolah yang mengalami kerusakan berat sehingga kehilangan sejumlah ruang belajar.

Akibatnya, ratusan siswa harus menjalani proses belajar mengajar di bangunan sementara yang jauh dari ideal. Saat cuaca panas, ruangan terasa gerah. Ketika hujan turun, suara air kerap mengganggu konsentrasi belajar.

Menurut Kepala Sekolah SDN 2 Pohgading, Rusman, kehadiran ruang kelas baru membawa perubahan besar bagi kenyamanan siswa. Mereka kini memiliki ruang belajar yang lebih layak dan mendukung proses pembelajaran.

“Terbukti ketika anak-anak ini diberikan tempat setelah diserahterimakan oleh donaturnya, alhamdulillah anak-anak kami gembira di dalam kegiatan proses pembelajaran. Intinya menyenangkanlah gitu,” ujarnya.

Saat ini SDN 2 Pohgading memiliki sekitar 342 siswa yang terbagi dalam 14 kelompok belajar. Empat ruang kelas baru tersebut diprioritaskan untuk rombongan belajar dengan jumlah siswa yang lebih sedikit agar proses pembelajaran berjalan optimal.

Rusman mengaku sempat ragu ketika pertama kali mengetahui ruang kelas akan dibangun menggunakan material plastik daur ulang. Namun keraguan itu hilang setelah melihat langsung proses pembangunan dan hasil akhirnya.

“Sementara ini bangunan ini terbaik dan kokoh,” katanya.

2. Dibangun dari sampah plastik dan dirancang tahan gempa

Blok plastik yang dibuat dari plastik daur ulang dan disusun menjadi tembok ruang kelas SDN 2 Pohgading. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Blok plastik yang dibuat dari plastik daur ulang dan disusun menjadi tembok ruang kelas SDN 2 Pohgading. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Di balik bangunan sederhana itu, terdapat inovasi yang tidak biasa. Setiap ruang kelas dibangun menggunakan blok plastik daur ulang yang disusun layaknya permainan Lego dan dikunci menggunakan baut.

Perwakilan Classroom of Hope, Satriawan Amri, mengatakan material tersebut dipilih karena lebih ringan, mudah dipasang, dan memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa.

“Kami berpikir bagaimana mendapatkan material yang tepat, cepat dibangun, dan tahan gempa karena kita berada di Ring of Fire. Akhirnya kami menemukan produk Block Solutions dari Finlandia,” katanya.

Menurut Satriawan, material blok plastik tersebut kini diproduksi di Lombok Barat. Namun bahan baku berupa butiran plastik masih harus didatangkan dari Surabaya karena keterbatasan fasilitas pengolahan di daerah.

Selain kuat, bangunan ini juga dapat dibongkar pasang dengan mudah apabila suatu saat diperlukan pemindahan lokasi. “Misalnya, ada pembangunan kemudian mau digeser tinggal dibuka saja baut-bautnya,” ujarnya.

Manajer Program Classroom of Hope, Rachel Conroy, menjelaskan setiap ruang kelas menggunakan sekitar 1,5 ton plastik daur ulang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Blok ini dirancang untuk bertahan selama 100 tahun atau lebih, dan dibuat dari plastik daur ulang dari seluruh Indonesia oleh perusahaan bernama Block Solutions, yang memiliki pabrik di Mataram,” kata Rachel.

Sementara itu, Project Coordinator Happy Hearts Indonesia, Upan Thamrin menjelaskan, konsep sekolah berbahan plastik tidak hanya menjawab kebutuhan ruang belajar yang aman, tetapi juga membantu mengurangi persoalan sampah plastik.

“Jadi memang konsepnya selain kelas yang aman, nyaman, dan berkualitas untuk anak, juga ini adalah ramah lingkungan. Ini juga selain menjawab kebutuhan ruang kelas, juga menjawab salah satu permasalahan kita saat ini yaitu isu sampah plastik,” ujarnya.

3. Dukungan Australia untuk pendidikan dan masa depan anak Lombok

Ruang kelas menggunakan tembok plastik di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Ruang kelas menggunakan tembok plastik di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Pembangunan ruang kelas di SDN 2 Pohgading merupakan bagian dari program Classroom of Hope, organisasi nirlaba yang terdaftar di Australia, dan fokus meningkatkan akses pendidikan bagi komunitas terdampak bencana.

Rachel mengatakan, keterlibatan organisasinya di Lombok bermula setelah gempa 2018 ketika banyak sekolah membutuhkan ruang belajar darurat.

“Saat gempa terjadi, kami dihubungi oleh pendiri Classroom of Hope. Mereka menghubungi kami dan bertanya, ‘apa yang kalian butuhkan di lapangan?’ Dan kami menjawab, yang kami butuhkan adalah sekolah pop-up,” katanya.

Seiring waktu, kebutuhan sekolah berkembang dari ruang belajar sementara menjadi bangunan yang lebih permanen dan aman. Dari situ lahir konsep sekolah berbahan blok plastik daur ulang yang kini digunakan di berbagai wilayah Lombok.

Hingga saat ini, Classroom of Hope telah membangun 50 sekolah berbahan blok plastik di Lombok yang terdiri atas 184 ruang kelas dan 104 toilet.

Selain pembangunan infrastruktur, organisasi tersebut juga menjalankan berbagai program pengembangan masyarakat. Mulai dari edukasi pengelolaan sampah, peningkatan kesadaran hak anak, pencegahan perkawinan anak, hingga pemberdayaan kemampuan bahasa Inggris bagi masyarakat.

Rachel menegaskan, pembangunan sekolah hanyalah salah satu bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Lombok.

“Kami membangun kemitraan dengan organisasi masyarakat, HHI, GNI, pemerintah desa, instansi teknis dan lain sebagainya,” katanya.

Bagi siswa SDN 2 Pohgading, empat ruang kelas baru itu menjadi lebih dari sekadar bangunan. Di tempat yang dulunya menyisakan jejak kerusakan akibat gempa, kini berdiri ruang belajar yang lahir dari sampah plastik dan membawa harapan baru bagi masa depan mereka.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More