Dokumen Pentagon Sebut Konflik AS-Iran Bisa Berlangsung Lama

- Pemerintahan Donald Trump mempercepat penambahan personel, anggaran, dan perlengkapan militer untuk operasi bersama Israel melawan Iran yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari rencana awal empat minggu.
- Dokumen Pentagon menunjukkan permintaan tambahan perwira intelijen guna menopang operasi terhadap Iran hingga 100 hari, menandakan persiapan jangka panjang menghadapi potensi balasan dan perubahan situasi di Timur Tengah.
- Serangan AS-Israel menewaskan sejumlah pejabat penting Iran, sementara respons balik Iran memicu korban di pihak AS; langkah pemerintah AS dinilai mendadak dan belum siap menghadapi dampak luas konflik.
Jakarta, IDN Times – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempercepat penambahan personel, anggaran, serta berbagai perlengkapan untuk mendukung operasi militer bersama Israel melawan Iran yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026). Sejumlah dokumen internal dan pernyataan resmi menunjukkan bahwa konflik tersebut dipersiapkan berlangsung lebih lama dibanding perkiraan publik yang sebelumnya memperkirakan hanya sekitar empat minggu.
Pada awalnya Trump menggambarkan operasi ini sebagai aksi singkat dengan durasi sekitar 4-5 minggu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjelaskan dalam pernyataan pada Rabu (4/3/2026) bahwa jangka waktu operasi masih dapat berubah sesuai perkembangan situasi.
“Kamu bisa bilang empat minggu, tapi bisa jadi enam, bisa jadi delapan, bisa jadi tiga. Pada akhirnya, kami yang menentukan kecepatan dan tempo. Musuh sedang tidak seimbang, dan kami akan terus membuat mereka tidak seimbang,” katanya, dikutip dari Economic Times.
1. Pentagon meminta tambahan personel intelijen militer

Dokumen internal Pentagon yang diperoleh POLITICO memperlihatkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) meminta pengiriman tambahan perwira intelijen militer ke markasnya di Tampa, Florida. Permintaan itu ditujukan untuk menopang operasi terhadap Iran setidaknya selama 100 hari dan berpotensi berlanjut hingga September.
Permintaan tersebut menjadi indikasi pertama yang diketahui mengenai penambahan tenaga intelijen sejak konflik dimulai, sekaligus menandakan Pentagon telah menyiapkan pendanaan khusus untuk operasi jangka panjang. Para perwira intelijen itu bertugas mempelajari citra satelit, menganalisis sinyal komunikasi yang disadap, menelaah rekaman drone, serta memproses laporan dari lapangan guna membantu menentukan sasaran serangan dan memantau pergerakan pihak lawan. Kebutuhan tambahan personel yang terus muncul mencerminkan persiapan menghadapi rangkaian serangan lanjutan, kemungkinan balasan Iran, serta perubahan situasi keamanan di berbagai kawasan Timur Tengah selama beberapa bulan.
2. Serangan AS-Israel menyasar infrastruktur keamanan Iran

AS dan Israel meluncurkan serangan besar yang menargetkan fasilitas keamanan Iran dan dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut bersama sejumlah pejabat penting lain. Sampai saat ini, pemerintah AS maupun Israel belum menyampaikan tujuan akhir operasi selain melemahkan kemampuan Iran, sementara Trump dan timnya juga belum memaparkan secara terbuka alasan memilih waktu pelaksanaan serangan tersebut.
Iran merespons dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah posisi militer AS serta sekutunya di Timur Tengah. Serangan drone di sebuah fasilitas pelabuhan di Kuwait menewaskan sedikitnya enam prajurit AS, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan sistem perlindungan di lokasi tersebut. Beberapa fasilitas diplomatik AS turut terdampak serangan, sementara kekhawatiran muncul terkait kemungkinan menipisnya cadangan amunisi militer AS dan sekutunya di kawasan.
3. Persiapan pemerintah AS dinilai dilakukan mendadak

Langkah-langkah untuk menghadapi dampak luas perang ini dinilai masih sangat terbatas dan terkesan dilakukan secara tergesa-gesa. Gerald Feierstein, eks diplomat senior AS yang lama menangani urusan Timur Tengah, memberikan penilaian mengenai situasi tersebut.
“Apa yang kita lihat adalah operasi yang benar-benar dadakan di mana tampaknya tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami atau percaya bahwa aksi militer sudah dekat. Sepertinya mereka bangun pada Sabtu pagi dan memutuskan bahwa mereka akan memulai perang,” katanya, dikutip dari Politico.
Departemen Luar Negeri AS mengirim tambahan staf konsuler ke Athena, Yunani, guna membantu warga negara Amerika yang berada di Timur Tengah, menurut keterangan pejabat departemen saat ini dan mantan pejabat yang memahami urusan konsuler. Sebelum konflik pecah, hanya Kedutaan Besar AS di Lebanon dan Israel yang sempat memulangkan staf beserta keluarga beberapa hari sebelumnya. Sebagian besar perwakilan diplomatik lain di kawasan baru mengambil langkah setelah konflik benar-benar terjadi.


















