Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jika Diperlukan, Houthi Siap Dukung Iran Lawan AS-Israel

Jika Diperlukan, Houthi Siap Dukung Iran Lawan AS-Israel
pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan dukungan penuh kepada Iran dan kesiapan militernya jika konflik dengan AS-Israel semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
  • Meski mengancam akan bertindak, pengamat menilai Houthi kecil kemungkinan terlibat langsung karena fokus pada konsolidasi kekuasaan di Yaman dan keterbatasan kapasitas militernya.
  • PBB memperingatkan potensi krisis kemanusiaan memburuk jika Yaman kembali terseret perang regional, mengingat dampak besar konflik sebelumnya terhadap warga sipil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times- Pemimpin gerakan Ansar Allah (Houthi) di Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, menyatakan pada Kamis (5/3/2026) bahwa kelompoknya berdiri bersama Iran dalam konflik yang sedang berlangsung. Houthi menegaskan kesiapan pasukannya untuk mengambil tindakan militer jika perkembangan situasi di Timur Tengah mendesak kelompok tersebut untuk turun tangan.

Ketegangan di kawasan semakin memuncak akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Meskipun Houthi sempat menyepakati gencatan senjata dengan Washington pada Juli 2025, konfrontasi terbaru ini kembali membuka peluang bagi kelompok tersebut untuk mengangkat senjata.

1. Houthi kritik Israel dan negara-negara Teluk

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)
ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Kelompok Houthi memandang konfrontasi yang melibatkan Iran saat ini sebagai perjuangan besar yang memengaruhi seluruh kawasan Timur Tengah. Mereka menuding Israel sedang berusaha memaksakan kebijakan dominasi dan memperluas kampanye militernya terhadap bangsa-bangsa merdeka di kawasan.

“Kami selalu siap bertindak kapan pun perkembangan situasi membutuhkannya," ujar Abdul-Malik al-Houthi, dilansir Middle East Monitor.

Selain mengecam Israel, pemimpin Houthi tersebut juga melontarkan kritik kepada sejumlah negara Arab di kawasan Teluk. Negara-negara tetangga itu dituduh lebih memprioritaskan perlindungan pangkalan militer AS dibandingkan menjaga stabilitas regional.

Fasilitas militer AS dinilai telah berkontribusi besar terhadap berbagai serangan ke wilayah Iran. Houthi bahkan menyindir pemerintah negara Teluk yang memprotes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait dampak serangan balasan Iran di wilayah mereka.

2. Pengamat ragukan keterlibatan langsung Houthi

misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)
misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)

Meskipun melontarkan ancaman, pengamat meragukan Houthi akan benar-benar mengambil peran militer yang substansial dalam waktu dekat. Kelompok bersenjata itu dinilai sedang berfokus untuk mengonsolidasikan kekuasaan serta posisi politik mereka di Yaman.

“Houthi tidak akan memiliki peran dalam konfrontasi ini karena nilai tambah mereka adalah membuat masalah atas nama Iran,” tutur peneliti senior Abdulghani al-Iryani, dilansir DW.

Al-Iryani menambahkan, keterlibatan Houthi menjadi kurang relevan saat ini karena Iran sudah memimpin serangan secara langsung di kawasan tersebut. Serangan dari Houthi kemungkinan baru terjadi apabila pasukan Israel melancarkan operasi militer langsung terhadap mereka.

Sebagian besar instalasi militer milik kelompok ini sebenarnya sudah hancur akibat gempuran udara balasan AS pada tahun lalu. Namun, Houthi diyakini masih menyimpan sisa kapasitas persenjataan untuk sekadar meluncurkan serangan rudal atau drone simbolis.

3. Krisis Yaman dikhawatirkan semakin parah jika kembali terlibat konflik

Perang antara AS, Israel, dan Iran telah membawa dampak kemanusiaan yang memprihatinkan. Data terbaru dari UNICEF mencatat sedikitnya 1.332 orang tewas di Iran, dengan 181 korban di antaranya merupakan anak-anak.

Kondisi tersebut memperparah ketidakstabilan Timur Tengah yang sebelumnya juga pernah terguncang oleh aksi blokade Houthi di Laut Merah sejak akhir 2023. Kelompok pemberontak itu sempat melumpuhkan jalur pelayaran logistik global sebelum akhirnya meredakan serangan berkat gencatan senjata pada pertengahan 2025.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, telah memperingatkan tingginya bahaya jika Yaman kembali terseret ke dalam perang regional. Konflik internal yang pecah sejak 2014 di negara Semenanjung Arab itu sebelumnya telah merenggut nyawa lebih dari 150 ribu orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More